Masa Kecil di Flamboyan

March 20th, 2008 by cerpenq

Aku menghabiskan sebagian besar masa kecilku di Tempeh, sebuah kota kecamatan di Lumajang. Disana aku tinggal di Jalan Flamboyan. Keluargaku menetap di Tempeh hingga tahun 1991-an. Waktu itu aku sudah kelas 1 MI. Kami pindah sejak nenek dari pihak Ibu sering sakit-sakitan. Nenek ingin Ibu menemaninya.

Selama di Tempeh, banyak sekali kenangan yang tak terlupakan. Ya, masa kecilku bisa dikatakan cukup menyenangkan. Aku punya banyak teman yang baik, yang menuntunku ke jalan kupu-kupu*, yang mengenalkanku pada dunia. Mbak Ulfa, Mbak Nurul, Mbak Okti, Tantri, Mas Dwi, Ido, Novi, Lukman, Aklis, Dilla, dll, mereka adalah teman-teman terbaikku di masa kecil. Tempat bermain favorit kami waktu itu diantaranya adalah rumah Ido (yang waktu itu masih balita), teras mushola Ash-Sholihin yang kebetulan bersebelahan dengan rumahku, rumah Mbak Okti, dan di halaman rumah Mas Afit.

Di rumah Ido yang cukup besar dan mewah itu, kami bisa bermain di kolam ikan, di taman dekat kolam air mancur, di garasi mobil, di teras, bahkan di dalam rumah. Disana biasanya kami main petak umpet, berlari kesana kemari, atau duduk manis di teras sambil baca majalah anak-anak. Meski masih balita, setiap bulan Ido dibelikan majalah oleh Om Rudi, ayahnya. Tentu saja Ido belum bisa membacanya. Ia hanya senang melihat gambar-gambarnya saja. Majalah di rumah Ido yang paling sering kubaca adalah majalah Aku Anak Saleh. Momen ini adalah awal dari kecintaanku membaca. Selain dipinjami majalah, aku juga sering dipinjami mainan. Di rumah Ido kami tidak hanya main sama Ido, tapi juga dengan ayahnya yang senang melucu. Seru banget.

Kalau bermain di teras mushola, kami rame-rame main canthengan, sejenis permainan bola bekel tapi pakai kerikil dengan jumlah banyak. Kebetulan di halaman mushola banyak kerikil. Kalau lagi musim penthilan—main lompat-lompatan pakai tali dari karet gelang warna-warni yang diikat sambung-menyambung—kami juga memanfaatkan teras mushola. Selain itu, kadang kalau mushola sedang dibersihkan, kami suka pura-pura mau bantu ngepel lantai biar diijinkan main prosotan pake air. Karena lantai basah dan licin, tak jarang di antara kami ada yang terjatuh sampai kepalanya membentur lantai. Kalau ada kejadian seperti itu, kami akan saling berkasak-kusuk, “Si Anu tadi pasti didorong sama jin mushola.” Mengada-ada banget ya…. dasar anak kecil, hehe. Begitu selesai prosotan, kami pulang ke rumah dengan baju basah semua. Kadang ortu marah. Tapi kalau langsung mandi dan tidur siang, mereka urung memarahiku ;).

Nah, di halaman rumah Mas Afit yang luas dan bertanah gembur, kami sering memanfaatkannya untuk main rumah-rumahan. Kami bikin rumah-rumahan dari tanah yang masih basah. Biasanya kami mengeruk tanah di bawah pohon belimbing. Kami harus pagi-pagi sekali kalau ingin main rumah-rumahan, karena kalau terlambat, tanah akan mengering dan berwarna putih. Tanah seperti ini akan sulit dibentuk untuk rumah-rumahan. Hanya para cewek yang main rumah-rumahan. Orang-orangan dan pintu rumah-rumahannya dibuat dari lidi yang dipatah-patahkan, sapu ijuknya dari sisa puntung rokok yang tengahnya ditusuk dengan lidi (fungsinya sebagai gagang sapu). Untuk mempermanis rumah-rumahan itu, biasanya kami bikin taman juga di depannya. Tanaman-tanaman di taman bisa pakai bunga belimbing, daun pakis yang masih kecil, lumut yang dikeruk dari dinding, melati, dll. Lalu kami akan berlomba bikin rumah-rumahan paling cantik, indah, dan rapi. Bisa dibilang, rumah-rumahan yang kami buat adalah gambaran rumah impian kami kelak.

Oh iya, kalau sedang bermain rumah-rumahan, kami harus bicara pelan-pelan. Kalau terlalu berisik, kami akan dimarahi yang punya rumah. Pernah suatu hari kami main petak umpet, eh, bapak Mas Afit langsung keluar rumah dan mengusir kami semua ;).

Di rumah Mbak Okti lain lagi. Karena fasilitasnya sangat lengkap dan rumahnya nyaman, kami jadi betah berlama-lama main disana. Kadang sampai orangtua kami pada nyusul, baru kami pulang ;). Disana kami bermain drama ‘bohong-bohongan’, mendengarkan kaset dongeng, membaca Majalah Bobo, nonton video Google (waktu itu Google—superhero serupa Power Ranger sekarang—sedang naik daun), serta melihat Bu Dian (Mama Mbak Okti dan Tantri) bermain organ mengiringi kedua putrinya berlatih menyanyi. Momen inilah awal kecintaanku pada kesenian.

Diantara kami semua, Mbak Okti terbilang cukup berada. Setiap tahun Mbak Okti dan Tantri selalu merayakan ulang tahunnya. Rumahnya yang memanjang ke belakang sering direnovasi, dilengkapi taman yang cantik di dalam rumah, kamar mandinya sangat luas (kami pernah mandi rame-rame disana, sampai bajuku basah trus dipinjami baju ganti sama Mbak Okti ;)). Keluarga Mbak Okti juga cukup baik. Tak jarang kalau tiba waktu makan siang dan kami masih asyik bermain, kami diajak turut makan siang bersama.

Oh iya, disitu juga ada tukang dongengnya lho. Namanya Om Fendik, Omnya Mbak Okti yang tinggal serumah dengan keluarga Mbak Okti. Favoritnya ndongeng yang serem-serem buat kami. Gara-gara dia, kami semua jadi takut keluar rumah malam hari. Kalau Om Fendik sedang mendongeng, kami semua duduk di dekatnya. Lalu dengan intonasi suara dan mimik yang bikin bulu kuduk kami merinding, ia akan mulai berkisah.

“Di jembatan Kali Mujur**, Herlina menunggu mangsa. Hantu perempuan tanpa kepala itu mencari anak-anak kecil yang berkeliaran sehabis magrib. Dan jika dia tak mendapatkan mangsa, ia akan berjalan ke kampung-kampung, termasuk ke Flamboyan…”

Lalu, “Hwaaaa..!!!” kami semua pun berteriak sekencang-kencangnya. Ha ha ha…

Lain waktu kadang ia suka iseng menakuti kami dengan memasang wajah seram—lidah menjulur, mata melotot seperti orang tercekik—sambil berkata, “Adolf Hitleeerrr…. .” Om Fendik penggemar Mak Lampir kali ya… . Meski suka menakut-nakuti, dia sebenarnya orang yang baik dan lucu.

Teman-teman masa kecilku di Flamboyan adalah anak-anak yang manis, nggak ada yang berlabel ‘anak nakal’. Kalaupun kami sedang marahan, kami tidak pernah bertengkar dengan kekerasan fisik seperti menjambak, memukul, melempar batu, dkk seperti anak-anak kecil sekarang. Paling-paling kami akan saling ngeledek dengan nama julukan ayah masing-masing dan saling ancam. Kalau aku mengalami itu, biasanya aku akan lapor ke ayah. “Yah, si Anu tadi ngatain ayah begini,” laporku. Setelah itu, mungkin karena ingin melegakan perasaan anak kecil, ayahku akan berpura-pura mengejar anak yang kuadukan. Meski cuma pura-pura, tak urung teman-teman pun menyebutku sebagai si tukang ngadu. He he…

Kini semua berpencar. Ada juga yang tetap di Flamboyan. Seperti apa ya, mereka sekarang? Terakhir yang kutahu, Mbak Ulfa sudah menikah, Mbak Okti kuliah di poltek Unibraw, Tantri lulus dari SMADA Lumajang. Dimanapun mereka sekarang, semoga mereka tetap mendapat lindungan dariNya.

ket: * dinukil dari puisi Abdurrahman Faiz

      ** sebuah sungai di kecamatan Tempeh

Enid Blyton

March 20th, 2008 by cerpenq

Tiba-tiba aku ingat Enid Blyton. Dulu sekali pas jaman SD, aku pernah membaca karyanya yang berjenis kumpulan cerpen. Kalau nggak salah judul bukunya Merpati Putih, terbitan Gramedia. Tapi buku itu berlabel ‘milik negara, tidak diperdagangkan’. Buku itu kukenthit (bukan penjam) dari perpus sekolah pas kelas tiga SD. Kenapa ngenthit? Karena waktu itu aku ambil tapi sengaja nggak kukembalikan lagi. Habisnya buku itu bagus banget sih. Trus waktu itu aku cuma mikir, toh aku sekolah disini bayar, skali-kali ‘manfaatin’ fasilitas gratis yang ada gak papa kan? He he…

Karena pengawasan buku yang keluar masuk perpus nggak ketat, jadi aku tambah nyantai aja. Sebenarnya aku punya niat untuk mengembalikan buku itu, tapi lupa-lupa terus sampai akhirnya hilang tanpa bekas setelah rumahku direnov.

Sekarang aku lagi pengeeeeen banget baca buku itu lagi. Kemarin sempat hunting buku-buku lama Enid di TB Gramedia, tapi judul yang bersangkutan gak ada. Kutelusuri situs resmi Gramedia, hasilnya juga nihil. Ada yang bisa bantu aku ngasih info tentang keberadaan Merpati Putih?

brainy baby

March 19th, 2008 by cerpenq

Setelah membaca tentang seri Brainy Baby, DVD untuk perkembangan otak bayi, tanpa piker panjang aku langsung hunting ke gramed dan ketemu. Sampai di rumah, DVD itu langsung kuputar. Si kecil Raya kududukkan di kereta bayinya, kupasangkan sabuk pengamannya, lalu dengan mimik serius ia mulai memperhatikan tayangan yang muncul di layar. Wah, Raya melonjak-lonjak kegirangan melihat gambar bayi-bayi menggemaskan yang menjadi model dalam video itu. Dipikirnya itu teman-teman bermainnya.

Kuperhatikan Raya dari dapur –di rumah nggak ada pembantu, jadi semua kuborong sendiri L–kutinggal cuci piring, nyapu lantai,dll, ia tetap duduk manis. Kadang kupergoki ia sedang senyum-senyum sendiri sambil bertepuk tangan, lalu menggumam dengan ocehan yang tak jelas, seolah ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Brainy Baby cukup membantuku membuat Raya bisa duduk dengan tenang. Maklum, sekarang si kecil mulai banyak tingkah. Kini Brainy Baby jadi teman Raya setiap hari. Daripada nonton tivi yang isinya nggak jelas, mending nyetel Brainy Baby.

full smile

March 19th, 2008 by cerpenq

Assalamualaikum adek, selamat pagi…

Hmm.. senyum yang indah

Anak sehat, bangun tidur nggak nangis….

Senyuman sepanjang hari buat Ayah dan Bunda

Dari adek yang selalu kuat dan bersemangat

Dari adek yang cerdas dan solihat

Dari adek yang ceria dan bahagia

Sambut cinta dan kasihNya

Lalu tebar di semesta dengan tulus ikhlas

Selamat malam adek, selamat tidur

Lelaplah dengan senyum paling indah

Peluk cium kami untukmu

Ceritakan mimpi semalammu esok hari

Senandung cinta buat Raya

delapan bulan kehadirannya

March 19th, 2008 by cerpenq

Senyummu secerah mentari

Tatapanmu sesejuk embun pagi

Celoteh dan tangismu semerdu nyanyian surga

Jika ada seseorang yang bisa menguasaiku

Merampas seluruh cinta, perhatian, dan waktuku Itu adalah kau….

Just 4 Raya, From Bunda with love

Ia tertidur lelap dalam dekapanku. Kupandangi bibirnya yang mungil, pipinya yang menggemaskan, matanya yang terpejam damai, kulitnya yang lembut, sungguh, setiap detik ia selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur kepadaNya. Ia membuat hari-hariku lebih berwarna dengan segala kerepotan, kenikmatan, dan kebahagian sebagai ibu baru. Delapan bulan sudah usianya kini. Ia tumbuh menjadi anak sehat dan menyenangkan. Nyaris tak pernah rewel ataupun bermasalah. Hanya sekali pada satu tengah malam di bulan Ramadan ia terjaga semalaman. Tanpa sebab (atau mungkin aku yang nggak ngerti apa yang dia inginkan), ia terus menangis. Tetapi begitu diperdengarkan murotal, ia bisa lelap kembali sampai pagi. Mengenai kerewelan ini, sebenrnya aku telah mengajarkannya sejak dalam kandungan. Setiap hari kukatakan padanya, “Adek nanti kalau udah lahir nggak boleh rewel ya. Ayah sama Bunda jauh dari nenek-kakek, jauh dari keluarga, adek harus ngerti ya. Nggak boleh jadi anak cengeng, harus kuat dan selalu bersemangat, ok?!” Alhamdulillah cara ini ternayata cukup ampuh. Kalau kata orang lain punya bayi itu mengubah pola tidur kita—jadi lebih sering begadang—tidak demikian denganku. Alhamdulillah sampai saat ini jam tidurku tetap normal. Kalaupun aku harus terjaga tengah malam, itu karena si kecil lapar atau haus. Setelah kenyang, dengan sendirinya ia akan tertidur kembali.

Ketika mandi pun si kecil tak pernah meronta. Mandi dengan air hangat atau dingin, dia tetap ceria. No problem pokoknya. Sekali saja dia menangis, yaitu ketika bude dari ayahnya pengen nyoba mandiin dia. Beda tangan beda rasa kali ya.. Memang selama ini aku melakukan semuanya sendiri. Mandiin, bedakin, ganti popok, makan, minum, semua. Ayahnya hanya sesekali saja, kalau sedang nggak ngantor.

Satu lagi yang membahagiakanku, perkembangan motorik dan verbal si kecil tergolong pesat. Usia sebulan ia sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi ‘aneh’ dan bisa tersenyum. Begitu dua bulan, dia sudah bisa merespon orang yang berbicara padanya, menyimak kata-kata yang didengar, lalu berusaha menirunya. Kadang aku membacakan buku untuknya. Lucunya, kalau aku sedang membaca dia ikut bersuara, tapi ketika aku menghentikan bacaanku, ia pun ikut diam. Selain merespon suara, dia juga mulai belajar memiringkan badan, bergerak memutar posisi dari 0 derajat menjadi 45-90 derajat, dan bergerak ke atas.

Usia tiga bulan, ia sudah bisa tertawa lepas kalau ada yang mengajaknya bermain ci-luk-ba, bisa tengkurap tapi belum bisa berbalik sendiri. Begitu empat bulan, ia sudah fasih berguling-guling dan kuat menyangga lehernya. Ia juga sudah pandai menggapai barang apapun yang ada di hadapannya. Nada ocehannya pun semakin bervariasi, kadang ao-ao, nggeee, ya-ya, gyu, kowek-kowek, geeer, dan ok.

Lima bulan berjalan, si kecil senang eksperimen suara. Dia hobi memainkan mulutnya hingga terdengar seperti bunyi kentut, pruuuut, lucu banget. Di usia inilah pertama kali ia bisa mengucap A-y-a-h. Ceritanya, si kecil dan ayahnya sempat pisah selama 4 bulan. Si kecil di Lumajang, ayahnya di Flores. Suatu hari ayahnya sms, bilang kalau ingin pulang ke Lumajang.

“Adek, ayah mau pulang,” jelasku. Seolah mengerti, ia pun meresponku.

“A-yah a-yah,” panggilnya mengejutkanku. Apa aku nggak salah dengar? “A-yah a-yah,” kali ini suaranya lebih kencang. Wah!

Cepat-cepat kuraih hp-ku, kurekam first moment itu di kamera video. Peristiwa-peristiwa seperti ini tak pernah kulewatkan. Aku berusaha memantau sendiri pertumbuhan dan perkembangan si kecil setiap saat. Karena itu sejak lahir kuabadikan apapun tentangnya.

Menginjak enam bulan, si kecil mulai belajar duduk dan merangkak. Waktu itu dia masih setengah hati melakukannya. ‘Kosakatanya’ juga bertambah. Kali ini dia senang mengucap a-ca-ca. Dia juga mulai gemar berteriak-teriak sendiri kalau sedang main. Sebulan kemudian, ia sudah bisa duduk dan merangkak dengan benar. Sesekali juga belajar berdiri sambil berpegangan, kadang pegang kursi, meja, dll. Sekarang si kecil semakin gesit, sampai kuwalahan mengawasinya. Tadinya main di ruang tamu, ditinggal sebentar sudah sampai dapur dan mengobrak-abrik apapun yang dijumpai di perjalanan. Sesekali aku pernah juga lengah mengawasinya sampai nggak tahu kalau ia terjatuh. Si kecil juga sudah mulai belajar berjalan sambil merambat di kursi atau meja. Sengaja tak kubelikan baby walker, karena resiko bayi mengalami kecelakaan sangat tinggi. Selain itu juga nggak baik buat kaki.

Ternyata memang nikmat sekali jadi ibu. Apalagi kalau bisa 24 jam bersama buah hati. Sejak awal aku berkomitmen akan memberi si kecil ASI eksklusif. Bukan hanya selama enam bulan, tapi kalau bisa dua tahun, seperti anjuran dalam Alquran. Toh sementara ini aku belum punya kesibukan di luar rumah. Alhamdulillah sampai detik ini ASI-ku lancar. Jadi nggak ada alasan untuk minta bantuan susu kaleng. Selain hemat, sehat, aman, mudah, juga nggak terpengaruh sama si Enterobacter Sakazaki yang heboh diperbincangkan akhir-akhir ini. Meski ada anjuran untuk mengonsumsi susu kaleng juga selain ASI, aku nggak mau. Keempat anak ibuku termasuk aku nggak ada yang minum susu kaleng, toh sampai semua sebesar sekarang, nggak ada tuh masalah gizi buruk. Makanan si kecil pun sebisa mungkin kubuat sendiri, aku menghindari bahan pengawet yang ada di produk bubur instan. Alhamdulillah BB si kecil selalu sesuai dengan usianya.

Aku ingin mendampingi buah hatiku saat ia melalui masa emasnya. Aku ingin tumbuh kembangnya optimal, sehingga kelak dia bisa menjadi pribadi yang cerdas. Bukan hanya cerdas secara emosi, tapi juga cerdas spiritualnya.

March 16th, 2008 by cerpenq

Sejak kecil gadis itu suka membaca dan menulis cerita. Karena kesukaannya itu, ia pernah berangan-angan, kelak ingin kuliah di jurusan yang berkaitan dengan kesukaannya itu. Tetapi ketika ia menyadari keadaan bahwa orangtuanya berpenghasilan sangat pas-pasan dan tidak mungkin bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi, angan-angan itu segera dikuburnya dalam-dalam.

Menjelang ujian akhir SMU, teman-teman sekolahnya yang rata-rata dari keluarga kalangan menengah ke atas sudah mulai sibuk mempersiapkan diri, melanjutkan kemana setelah lulus SMU nanti. Ada yang bingung memilih lembaga bimbingan belajar (bimbel), ada yang aktif mengikuti try out masuk PTN, bahkan ada yang rajin mengikuti tes seleksi awal di sekolah-sekolah kedinasan. Mereka semua terlihat serius.

“Kamu kok santai sih? Memangnya sebentar lagi kamu mau melanjutkan kemana?” Tanya salah seorang teman si gadis suatu hari. Mendengar pertanyaan itu, ia salah tingkah. Gadis itu tak menyangka temannya akan bertanya seperti itu. “Buat apa aku bingung ini-itu tapi nilai ujiannya jeblok. Percuma kan?” jawab si gadis berusaha untuk tetap tenang di hadapan temannya. Padahal waktu itu jantungnya berdetak sangat cepat.

“Betul juga ya,” kata si teman. Gadis lega mendengarnya, karena setidaknya si teman itu tidak akan mencecarnya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain seputar itu.

Sejak saat itu, setiap kali ada pembicaraan yang mengangkat topik tentang perguruan tinggi, bimbel, SPMB, dan sejenisnya, gadis itu berusaha untuk menghindarinya. Baginya, semua itu membuatnya semakin rendah diri dan pesimis menghadapi masa depan. Mendekati ujian, topik itu semakin sering dibicarakan. Setiap hari, guru-guru gencar memberi motivasi, menanamkan kepercayaan diri dan optimisme kepada siswa kelas tiga. Di kelas, diam-diam gadis sering menangis. Rasanya sedih sekali melihat usaha guru-gurunya yang begitu menggebu menyemangatinya, tetapi gadis sendiri tidak mampu mewujudkan harapan-harapan mereka kepadanya.

Gadis itu ingin mengungkapkan semua ini, minimal kepada sang Ayah. Tetapi ia takut, jangan-jangan nasihat Ayahnya nanti malah membuatnya patah semangat. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya suatu malam gadis itu memberanikan diri mengungkapkan kesedihannya itu.

“Bagaimana pendapat Ayah?” tanya gadis setelah bercerita panjang lebar. Kebetulan siangnya, salah seorang gurunya menganjurkan dia untuk mendaftar PMDK ke sebuah PTN di Malang.

“Lebih baik coba ikut seleksi PMDK saja dulu. Seandainya kamu nanti diterima, ayah pasti akan mengusahakan biayanya,” kata Ayah. Gadis itu tidak tahu apakah ucapan Ayahnya itu tulus, atau sekedar menghiburnya. Yang pasti sejak malam itu, meskipun belum tentu kuliah, ia semakin giat belajar. Bagi si gadis yang terpenting saat itu adalah bagaimana caranya agar namanya sebagai seorang alumni kelak meninggalkan kesan yang baik di almamaternya. Ia bekerja keras dan selalu berdoa untuk itu. Seandainya aku tidak kuliah, minimal nilai ujianku harus bisa masuk the best ten. Itu target pastiku, tekad si gadis dalam hati.

Ujian sudah berlangsung tiga hari. Keasyikan mengejar target, gadis itu lupa kalau ia pernah “iseng” mendaftar PMDK, sehingga waktu namanya tercantum dalam surat pemberitahuan yang dikirimkan ke kepala sekolah sebagai salah satu yang lolos seleksi, ia shock dan tidak percaya. Dia diterima di Sastra Indonesia, jurusan yang selama ini diimpikannya!

“Ayah, aku diterima PMDK!” lapor gadis itu pada Ayahnya ketika sampai di rumah. Dilihatnya ekspresi sang Ayah yang biasa-biasa saja. Gadis mulai was-was.

“Bukannya Ayah tidak mengijinkan kamu kuliah. Tapi kalau melihat kondisi keluarga kita yang seperti ini, apa mungkin? Kuliah itu butuh banyak biaya. Masak ayah harus menjual sawah dari nenekmu? Kalau pun sawah itu dijual, mungkin cuma cukup untuk biaya masuk,” jelas Ayah.

“Tapi Ayah kan sudah janji…,” bela gadis.

“Ayah kan cuma bilang, nanti Ayah usahakan biayanya. Ayah sudah berusaha, tapi toh tetap tidak ada biayanya,” sangkal Ayah.

“Kan ada beasiswa, yah. Saya mau berusaha mencari, dan nanti, sambil kuliah saya akan nyambi kerja.”

“Sekarang kamu bisa ngomong seperti ini. Tapi nanti kalau kamu sudah menjalaninya, omonganmu bisa lain lagi.” Gadis sakit hati mendengar kata-kata itu. Seolah-olah selama ini ia pernah membohongi sang ayah. Sedih rasanya, tidak dipercaya oleh Ayah sendiri.

“Yah, kalau kita punya kemauan dan kita berusaha, nanti pasti ada jalan.” Gadis itu merasa suaranya bergetar, karena ia sendiri belum yakin dengan kata-kata itu. Ini adalah alasannya yang terakhir, ia tidak bisa menemukan alasan lagi.

“Nak, kita bukan orang kaya… .” Seketika itu juga persendian si gadis serasa lepas. Ia kecewa, Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa bukan mereka yang jelas-jelas tidak punya keinginan untuk kuliah? Kenapa bukan mereka yang orangtuanya ngotot menyuruh anaknya kuliah demi mempertahankan prestise dan harga diri? Kenapa aku yang benar-benar haus ilmu, tidak boleh sekolah tinggi-tinggi? Keluhan demi keluhan bergulir mengiringi tangisan si gadis di pundak sang Ibu. Rasanya sia-sia ikhtiyarnya selama ini.

“Duh, sayang sekali ya, Bu. Padahal banyak orangtua yang melakukan apa saja agar anaknya bisa kuliah, bahkan ada yang sampai rela mengeluarkan uang berjuta-juta supaya anaknya lulus UMPTN. Eh, ini, anak Ibu yang jelas-jelas sudah diterima, malah nggak diambil,” kata tetangga gadis itu suatu hari ketika ngobrol dengan sang Ibu. Mendengar itu, airmata gadis kembali tak terbendung.

"Sekarang coba dipikir lagi. Sebagai orangtua, kalau kita merasa sudah tidak bisa mewariskan apa-apa kepada anak cucu kita, apalagi yang bisa kita wariskan selain ilmu? Ilmu itu abadi, tapi harta, paling sampai keturunan sekian sudah habis. Jadi untuk apa kita mencari nafkah, kalau bukan untuk menyejahterakan anak-anak kita kelak?" tambah beliau. Dalam hati gadis membenarkan ucapan tetangganya itu.

"Kalau saja anak saya sungguh-sungguh ingin terus sekolah, saya pasti akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Sayangnya, si Fulan itu suka bolos, langganan nggak naik kelas… bla..bla…bla… ." Ya, seandainya saja Ayahnya juga berpikiran seperti itu…

Berhari-hari gadis itu bergelut dengan kekecewaannya. Hingga akhirnya ia sadar, bahwa ternyata selama ini ia kurang ikhlas melakukan segala hal. Aku harus segera bangkit. Aku harus memulai lagi dari awal dengan keikhlasan. Aku akan membuktikan bahwa dimana ada kemauan dan usaha, disitu pasti ada jalan; dimana ada kesukaran pasti ada kemudahan (seperti janji Allah di QS Al Insyirah). Aku yakin dengan janji Allah ini, ucap gadis mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Tiga bulan lagi gadis harus daftar ulang ke PTN itu. Ia segera ingat dengan daftar yayasan penyedia beasiswa untuk mahasiswa yang lolos seleksi masuk PTN melalui jalur PMDK yang ada di majalah Annida. Ia mencoba mengajukan permohonan ke yayasan-yayasan tersebut.

Seminggu setelah ujian akhir, nilai ujian diumumkan di sekolah. Gadis itu sengaja berangkat agak siang, karena semua pasti berebut ingin melihat lebih dulu. Perkiraannya, kalau siang pasti sudah sepi. Gadis melangkahkan kakinya dengan perasaan takut. Ia berusaha mengusirnya, tetapi perasaan itu tetap membuatnya tidak tenang, sampai akhirnya…

"Selamat!" sambut teman-temannya setibanya di depan pintu gerbang. Gadis itu masih tidak mengerti maksud mereka.

"Nilai ujianmu rangking kedelapan sekabupaten!" jelas salah seorang diantara mereka. Alhamdulillah, seketika itu juga gadis itu bersyukur.

"Hayoo.., mana nih, undangan tasyakurannya?" tagih seorang teman dekatnya. "Udah diterima di PT tanpa tes, the best ten lagi. Wah, makan-makan dong..," timpal yang lain.

"Eee, nanti deh, gampang." Gadis itu jadi merasa tak enak dengan ‘todongan’ mereka. Bukannya gadis tidak mau mengadakannya, tapi jangankan tasyakuran, dirayakan dengan keluarga dekat saja belum tentu. Waktu itu, dipikirannya hanya ada satu hal, ia harus segera memanfaatkan keberhasilannya ini untuk mengajukan beasiswa ke Pak Bupati.

Dua bulan berlalu. Alhamdulillah, semua permohonan beasiswa gadis itu dikabulkan. Jumlahnya memang cukup besar, tapi belum bisa mencukupi biaya yang ia butuhkan. Sementara itu, Ayah gadis itu masih tetap dengan pendiriannya. Karena itulah ia sempat tidak saling bertegur sapa dengan beliau selama beberapa hari.

Gadis itu memutar otak sekali lagi, kira-kira bagaimana ya, menutupi kekurangannya? Sepertinya semua yang bisa diusahakan sudah ia lakukan. Ketika pikiran sudah mentok itulah, tiba-tiba salah seorang bibi gadis itu menawarkan bantuannya. Sang bibi ini memang selalu bersemangat membantu saudaranya yang kesulitan. Akhirnya uang itu terkumpul tepat sehari sebelum waktu daftar ulang ditutup. Alhamdulillah…

Keesokan harinya, mungkin karena melihat kegigihan si gadis selama ini, akhirnya hati Ayahnya luluh. Sang Ayahlah yang kemudian mengantarnya ke Malang. Gadis itu menangis. Rasanya terharu dan bahagia sekali mendapat restu dari orangtua.

Selama kuliah, banyak sekali kemudahan-kemudahan yang Allah berikan pada gadis itu. Waktu akan daftar ulang, ia mendapat keringanan biaya masuk sebesar setengah dari biaya keseluruhan yang harus dibayar; setiap tahun mendapat beasiswa; dan sempat menjadi wartawan kampus. Meski uang bulanan dari orangtuanya jauh dari cukup, tapi seolah ada saja rezeki yang datang. Selain dapat honor dari majalah kampus, ia sering dapat honor dari undangan sebagai pemateri diklat jurnalistik. Tulisan-tulisan gadis itu yang dimuat di media massa juga sangat membantu menutupi kebutuhannya. Ia juga sempat memberi les privat untuk anak SD, SMP, dan SMU. Sehingga sebagai mahasiswa, penghasilannya waktu itu terbilang cukup lumayan.

Kini gadis itu percaya, Allah tidak akan memberi masalah tanpa jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya jika kita bersabar. Satu setengah tahun yang lalu gadis itu lulus. Tapi ia belum bisa bernapas lega, karena sebenarnya perjuangannya masih panjang. Ia harus bisa mempersembahkan yang terbaik untuk hidupnya, untuk kedua orangtua, dan terutama untuk agamanya. Semoga kelak gadis itu bisa mencapainya. Amin.

Nokia 3310-ku

March 16th, 2008 by cerpenq

Seorang teman pernah bertanya padaku, "seandainya ada orang yang pengen nukar hape nokia 3310 kamu dengan hape keluaran baru yang lebih canggih, kamu mau nggak?" Tanpa pikir panjang, kujawab, "nggak mau!"
Ada banyak alasan, kenapa hape yang sekarang dianggap kuno itu kupertahankan. Hape itu punya nilai historis tinggi. Aku harus bersusah payah mendapatkannya.
Nokia 3310 yang sampai detik ini masih ’sehat’ itu kubeli dari hasil keringatku sendiri pada 22 Oktober 2004 silam seharga 400 ribu. Hape itu–meski seken– kubeli dalam kondisi cukup baik, lengkap dengan ces asli dan box-nya. Jauh sebelum itu, aku sangat menginginkan sebuah hape. Meski jelek nggak pa-pa, yang penting bisa dipakai telpon dan sms. Makanya, ketika akhirnya aku bisa beli hape, aku seneeeng banget.
Sebagai mahasiswa yang punya mobilitas tinggi (cie..), aku merasa sangat terbantu dengan adanya hape. Prinsip kerjanya yang memudahkan komunikasi benar-benar aku rasakan.
September 2004, redakturku di Majalah Komunikasi menawariku sebuah side job. "Mau nggak jadi panitia pameran buku internasional? honornya lumayan lo." Mendengar kata honor, tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakannya (maklum, lagi maruk-maruknya, he-he..). Ini kesempatan emas untuk menambah isi dompet yang hampir tiap bulan selalu minus.
Tugasku di pameran itu nggak begitu sulit, cuma bantu-bantu nyari + nglobi sponsor. Kalau gol, tentu saja aku dapat insentif. Lalu pada hari-H pameran, tugasku menjaga meja terima tamu, 1/2 hari 25 ribu plus makanan buat berbuka puasa (waktu itu bulan ramadan), sedangkan even akbar dalam rangka memperingati Lustrum X kampusku itu digelar selama 2 minggu. Total insentif yang kuterima cukup lumayan.
Mungkin karena kecapekan selama 1 bulan kesana kemari nyari sponsor, jaga pameran, + lagi puasa juga, begitu even selesai, aku ambruk selama 1 minggu kena gejala tipus. Tapi ‘penderitaanku’ terbayar. Begitu sembuh, aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, my first mobile! Aku puas bisa membeli sesuatu dari hasil kerja kerasku sendiri.
Sekarang, kalau ingat betapa ngoyonya ‘perjuangan’ku waktu itu buat beli hape, rasanya aku semakin sayang sama–pinjam istilah seorang teman–berhala kecil itu. Uniknya, meski nokia 3310-ku itu sudah berkali-kali jatuh dari ketinggian (bahkan sampai pecah jadi 3) onderdilnya masih ok, gak pernah punya masalah kerusakan serius.
Itulah, kenapa aku nggak mau menjual nokia 3310 itu. Sekarang meski ‘tentengan’ku sudah bukan nokia itu lagi, dia masih ada + masih berfungsi baik.

Dokter dan Bonus

September 15th, 2007 by cerpenq

Sebuah tayangan tentang profesi dokter dikupas di salah satu stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu. Tayangan itu menginvestigasi kasus kecurangan yang selama ini dilakukan oleh para dokter kepada pasiennya. Mungkin belum banyak yang tahu jika antara dokter dan perusahaan farmasi tertentu terjalin sebuah kerja sama. Aku baru tau, ternyata profesi dokter nggak sebegitu mulia yang kubayangkan. Memang, nggak semua dokter seperti itu. Tapi dokter rentan sekali tergelincir ke kasus tersebut.

Jamaknya, setiap orang sakit yang periksa ke dokter akan diberi resep tertentu oleh sang dokter. Sebenarnya para dokter itu ada yang mengejar target penjualan produk obat tertentu agar kekayaannya bertambah. Jika seorang dokter berhasil meningkatkan omset penjualan obat tersebut, ia akan mendapatkan bonus barang-barang berharga dari produsen obatnya, seperti mobil, rumah, perhiasan, tabungan, jalan-jalan ke luar negeri, dsb. Seandainya dokter itu memang mata duitan, mudah tergiur oleh bonus-bonus yang dijanjikan, ia akan dengan mudah mengesampingkan sisi kemanusiaannya. Ia akan berubah jadi monster jahat berwajah malaikat. Inilah yang membahayakan hidup orang lain. Pasalnya, tanpa sepengetahuan pasien, ia bisa saja menuliskan resep obat yang salah, yang menganjurkan pasien membeli obat yang menjadi targetnya melipatgandakan harta dengan cara tidak halal tadi. Padahal bukan obat itu yang dibutuhkan pasien agar sembuh. Salah-salah obat itu bisa mempercepat kematian pasien. Serem kan? Taruhannya nyawa! Makanya, misalnya kita sakit, sebagai pasien, kita berhak bertanya pada dokter yang ngasih resep. Tanyakan sejelas-jelasnya: apa nama obat tersebut, apa ada alternatif obat lain yang khasiatnya sama dengan obat yang direkomendasikan tapi harganya lebih murah (karena biasanya nebus obat dari resep dokter mahal), dll. Tindakan ini setidaknya dapat mencegah para dokter itu mencelakai pasiennya. Jangan takut dicap “cerewet”, karna sekali lagi, pasien berhak bertanya!

Ngomongin tentang hak bertanya, dua tahun yang lalu aku pernah punya pengalaman kurang menyenangkan dengan seorang dokter di RSU Lumajang, sebut saja dokter x. Waktu itu aku njaga ayahku yang sakit. Kebetulan ayah kehabisan kamar, jadi terpaksa ditempatkan di lorong kelas tiga. Nggak sengaja aku menyebabkan kulit tangan ayah yang dipasangi jarum infus mengeluarkan darah setelah kuantar ke kamar mandi. Ini karna aku megang infusnya terlalu rendah. Aku lapor ke dokter. Dia bilang tunggu sebentar. Ternyata sebentarnya lama sekali. Aku lihat dokter x ini sempat melayani pasien lain yang melapor setelah aku, padahal pasien lain itu nggak ada masalah apa-apa. Lalu jalan-jalan keluar ruangan tanpa keperluan apa-apa. Kesal, kuingatkan dokter itu kalo ayahku segera butuh bantuan untuk memasang infus baru. Aku tanya baik-baik, kenapa kok lama sekali. Eh, dia malah bentak-bentak aku. “Pekerjaan saya banyak mbak, sabar dulu!” semprotnya dengan muka tak bersahabat. Mungkin karna dari pasien kelas tiga ya, jadi pelayanannya nomer tiga juga. Lain waktu aku tanya, “Sebenarnya sakit ayah saya apa?” karna gejalanya memang campur-campur. Mungkin karna udah senewen dengan kejadian pertama, dengan ketus dokter x menjawab,”Belum tahu, Mbak, makanya ini diperiksa, didiagnosa.” Ih, aku tambah gregetan. Yang bener aja, masak udah tiga hari nginep belum tahu ayah sakit apa??? Aku NGGONDOK POLLL!!!

Balik lagi ke kasus resep. Kadang aku mikir, adakah hubungan antara kasus curang ini dengan tulisan tangan para dokter yang kebanyakan—maaf—tak bisa dibaca dengan mata telanjang? Apakah mereka sengaja menulis dengan model cakar ayam agar pasiennya tak curiga? Lalu apakah pembubuhan tanda tangan, stempel, atau kop kantor dokter pada kertas resep juga ada hubungannya dengan kasus omset penjualan obat? Kalau nggak ada, untuk apa resep dokter diberi tanda tangan, stempel, atau kop? Agar nebus di apotik dapat keringanan harga? Menurut pengalaman pribadiku sih, nggak ngefek apa-apa, tetep aja mahal. Kalau nggak ada hubungannya, kenapa para dokter nggak nulis resepnya di kertas polos aja, dengan tulisan rapi plus jelas, tanpa tanda tangan dkk itu, kenapa? Dokter berhak dapat bonus, tapi caranya harus halal, nggak asal tulis obat demi bonus, harus jujur.

Semoga dengan banyaknya kasus kecurangan model ini dan kasus-kasus lainnya yang terungkap, para dokter akan lebih manusiawi dan menggunakan nuraninya ketika bekerja.

14 - 17 Juli 2007

September 1st, 2007 by cerpenq

Sabtu 14 juli 2007 pukul 21-an. Mendadak perutku sakit. Rasanya seperti ingin buang air besar. Setiap 5-10 menit sekali, sakit itu menderaku selama 1 menit. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Perlahan ketegangan merayap—inikah saatnya? Inikah pertanda bahwa bayi yang bersemayam di rahimku sembilan bulan lamanya akan segera lahir? Inikah yang namanya kontraksi? Keesokan harinya, kukonsultasikan hal ini pada Mbak Tri, bidan depan rumah.

“Tunggu sampai sakitnya lebih dari satu menit,” jawab Mbak Tri. “Sabar aja, siapkan mental,” tambahnya. Menurut informasi yang kudapat dari orang-orang yang pernah melahirkan, kalau sakitnya sudah tak bisa ditahan dan pembukaan sudah sempurna (umumnya sepuluh), itu artinya bayi sudah siap dikeluarkan. Aku belum seperti itu. Hari itu aku masih bisa beraktivitas seperti biasa: masak, bersih-bersih rumah, dan lainnya. Pun keesokan harinya. Tidak ada perubahan pada rasa sakit itu.

Terngiang kembali kata-kata dokter empat hari sebelumnya, setelah meng-USG kandunganku untuk kelima kalinya. “Ibu, karena ini sudah lewat tanggal perkiraan lahir (11 Juli), kalau hari rabu depan ibu belum juga melahirkan, berarti ibu harus melahirkan di rumah sakit, pakai rangsangan agar bayinya cepat keluar.” Hah, dirangsang? Aku merinding, membayangkan proses induksi (salah satu teknik rangsangan) yang katanya sangat sakit. Tidak. Aku ingin melahirkan normal. Aku berdoa semoga bayi ini bisa keluar sebelum Rabu 18 Juli nanti.

Senin pagi 16 Juli, Mbak Tri bilang sudah pembukaan satu. Aku harap-harap cemas. Kemungkinan besar paling lambat aku akan melahirkan malam harinya. Tapi menjelang pagi besoknya (Selasa 17 Juli), pembukaannya hanya berubah sedikit. Satu lebih sedikit. “Anak pertama umumnya memang begini, jarak pembukaan satu dengan pembukaan selanjutnya lama, bahkan ada yang sakitnya sampai seminggu,” terang Mbak Tri berusaha menenangkanku. Dia seorang bidan, jam terbangnya banyak, sudah sering menangani bermacam-macam proses persalinan. Yang biasa maupun yang berkasus. Jadi dia lebih tahu. Ibuku sendiri ketika melahirkanku mengalami kontraksi selama tiga hari. Ibu mertuaku juga bilang, nggak perlu khawatir, nanti kalau melahirkan anak kedua nggak akan sesulit anak pertama prosesnya. Jadi aku ‘terpaksa’ agak tenang juga mendengar cerita-cerita itu.

Hari itu Mbak Tri memberi deadline. Kalau sampai magrib pembukaannya belum juga sempurna, aku harus ke RSU Ende. Kegelisahan kembali menyergapku. Perasaanku mulai campur aduk. Antara takut, gelisah, tegang, ingin nangis, semua menyatu. Sejak dulu aku ingin melahirkan di bidan saja. Rupanya suamiku menangkap apa yang kurasakan. Dengan lembut ia meyakinkanku, “Sabar, optimis, pasti bisa lahir hari ini. Masih ada waktu untuk berusaha.” Sejenak aku merasa tenang. Di saat seperti ini, dukungannya sangat berharga untukku, membuatku kembali bersemangat.

Perlahan ia memapahku naik turun tangga yang ada di dalam rumah. Sambil meringis kesakitan, kukuatkan diri untuk berjalan. Mbak Tri menganjurkanku jalan-jalan agar pembukaannya secepatnya bisa bertambah. Sebenarnya fisikku sudah sangat lemah waktu itu. Tiga hari tiga malam aku tak bisa tidur nyenyak. Selama itu kuhabiskan waktu di tempat tidur untuk meredakan rasa sakit itu. Detik demi detik serasa lebih panjang dari biasanya.

Empat jam setelah pemeriksaan pertama di hari Selasa, mbak Tri memeriksaku kembali. Dan, alangkah sedihnya aku. Dengan rasa sakit yang sangat luar biasa, ternyata hanya nambah tiga pembukaan saja! Aku kembali pesimis, air mataku mengalir deras. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan suamiku. Dalam hati aku bertanya, dosa apakah yang kuperbuat, hingga Allah membuatku sedemikian menderita menjelang proses persalinan anak pertamaku? Empat hari sudah aku menahan rasa sakit itu. Dan aku merasa tenagaku telah terkuras habis. Aku tak berdaya. Mentalku down. Kapankah ini berakhir?

Suami tak henti-hentinya menenangkanku. Lantunan doa dan dzikir tak putus dipanjatkannya untukku. Ia mengajakku tabah dan tawakal menghadapi masa-masa sulit ini. Kubaca istighfar, salawat nabi, dan kalimat-kalimat toyyibah lainnya. Sambil berharap, Allah memperkenankanku melahirkan hari ini.

Empat jam selanjutnya, mbak Tri kembali memeriksaku. Apa yang dikatakannya membuat keteganganku memuncak: pembukaannya masih tetap empat! Ya Allah, apa lagi yang harus aku lakukan? Aku sudah usaha jalan-jalan, dzikir, berdoa, apalagi? Kesabaranku mulai meluntur. Dalam keadaan kalut, aku mencoba menghubungi kedua orangtuaku, meminta maaf jika selama ini ada kesalahanku yang belum termaafkan. Di seberang sana mereka terus mendoakanku, semoga persalinannya lancar. Aku terharu.

Menjelang magrib, Mbak Tri mengingatkanku supaya mempersiapkan semua yang akan dibawa ke RS. Tapi aku tak melakukannya. Aku berusaha untuk yakin, bahwa itu tak akan terjadi. Mbak Tri memeriksaku lagi. Kupejamkan mata. Aku pasrah. Tiba-tiba ada satu titik cerah: pembukaan sudah sembilan! Subhanallah… tinggal sedikit lagi. Akhirnya aku batal ke RS. Mbak Tri mengerahkan kedua temannya sesama bidan untuk standby di rumahku sejak magrib. Rasa sakit ini semakin tak tertahankan. Tapi Mbak Tri bilang, tunggu sampai air ketuban pecah. Duh, ternyata belum benar-benar berakhir.

Aku berusaha lagi. Kubawa jalan-jalan lagi walau tertatih. Sambil terus melafalkan la haula wa la quwwata illa billah, harapanku agar bayi dalam kandunganku segera lahir terus merekah. Aku percaya, Allah bersamaku. Sampai jam sembilan malam, ternyata ketuban belum pecah juga. Kulihat Mbak Tri segera mengambil tindakan, memecah paksa ketuban! Begitu ketuban pecah, berarti bayi harus keluar secepatnya, tidak boleh melebihi 6 jam. Jika lebih dari itu, akan sangat berbahaya bagi bayi. Celakanya, 1 jam setelah ketuban pecah, kontraksiku melemah. Mengejanku juga masih salah. Ketiga bidan yang menangani persalinanku mulai resah. Aku juga semakin lelah dan lemah. Bahkan di sela-sela proses mengejan, aku sempat tertidur.

Susah payah aku berjuang melawan rasa kantuk yang menderaku. Orang-orang di sekelilingku semakin stres, karena sampai jam sebelas malam, bayi di rahimku belum juga berhasil dikeluarkan. Sudah dua jam sejak ketuban pecah! Aku sudah tak bisa berpikir apa-apa, kosong. Kudengar tiga bidan saling berbisik. Mereka berencana membawaku ke RS jika sampai jam 12 malam aku belum melahirkan.

Sementara itu, suamiku yang selama proses persalinan membantu menopang tubuh dan kepalaku dari belakang, tak henti menyemangatiku agar aku bisa mengejan sekuat tenaga. Entah apa pertimbangan ketiga bidan tadi, tiba-tiba mereka sepakat untuk menyuntikkan cairan (mungkin fungsinya untuk merangsang kontraksi) ke tubuhku. Di antara hidup dan mati, tak putus kusebut namaNya. Ajaib, seolah-olah ada sebentuk energi baru mengalir ke seluruh tubuh. Aku mengejan sekuat-kuatnya, dan.. Allahuakbar, sekitar pukul dua puluh tiga lebih lima puluh sembilan menit, anakku lahir………..

Lega, syukur, semua terasa manis. Tak dapat terlukis. Rasa sakit, nyeri, ketakutan, ketakberdayaan, semua menguap begitu kulihat bayi perempuanku yang masih merah, berganti bahagia yang menyusup pelan-pelan. Alhamdulillah, semua berjalan cukup lancar. Anakku lahir selamat meski sempat terlilit tali pusar. Ia tampak sehat, lucu, dan menggemaskan. Adakah keajaiban lain yang dialami wanita selain peristiwa kelahiran buah hatinya?

17 Juli 2007, menjadi babak baru bagiku. Hari itu aku menjadi manusia baru dengan amanah baru: menjadi seorang ibu dari bayi mungil yang kuberi nama Asmaraya Naura Yasmin. Sebelum kelahiran Raya, aku hanyalah seorang istri. Kini aku harus belajar lagi, belajar bagaimana menjadi ibu yang baik, ibu yang ideal, ibu yang bisa jadi teladan bagi anak-anaknya kelak. Aku berada di titik nol lagi. Aku harap, perlahan bisa naik ke angka yang lebih tinggi dan jangan sampai jatuh ke angka sebelumnya. Amin.

Kelahiran Raya adalah peristiwa yang sangat luar biasa, sangat mengesankan. Dengan kuasaNya, aku bisa melewati detik-detik tersulit dalam hidupku. Dengan proses persalinan yang sangat berbeda dari proses persalinan normal lainnya, aku masih diberi banyak kemudahan olehNya. Seandainya tidak ada campur tanganNya, tidak mungkin Raya bisa lahir. Setelah peristiwa ini terjadi, aku menyadari banyak hal. Mataku terbuka, pikiranku tercerahkan. Raya membuatku semakin mengerti arti sebuah perjuangan. Sejak awal kehamilan, jujur, memang sangat merepotkan. Triwulan pertama aku mual-mual, susah makan, bedrest everyday. Triwulan berikutnya, aku harus terbang ke Ende-NTT, meninggalkan kampung halaman. Penderitaan baru, karena jauh dari orangtua dan saudara. Triwulan terakhir sering stres membayangkan proses persalinan tanpa dampingan orang-orang terdekat, tegang membayangkan sulitnya mengasuh bayi, dll. Kujalani semua itu dengan berat dan setengah hati. Tapi sekarang aku bersyukur, itu semua anugerah. Ya, bisa merasakan semua itu adalah anugerah yang sangat luar biasa, pengalamanku bertambah, perjalanan hidupku menjadi kaya dan bernuansa. Semua ini hikmah. Minimal aku bisa membagi pengalaman ini kepada orang lain.

Mengutip kata Neno Warisman, setiap anak adalah bintang. Aku sangat setuju. Bagaimanapun keadaan anak itu, dia adalah bintang bagi orangtuanya. Raya adalah bintangku. Seperti arti namanya, aku ingin kelak Raya punya nama besar, yang senantiasa memancarkan cahaya bagi sekelilingnya, dan menebar keharuman seperti bunga melati. Kalau boleh mengibaratkan, Raya ibarat sebuah aset berharga. Aku harus merawatnya dengan baik, menjaganya dengan cinta, dan mendidiknya dengan kasih sayang. Mengandung dan melahirkannya aku sudah di antara hidup dan mati. Rugi banget kalau apa yang sudah membuatku demikian susah payah selama sembilan bulan, kusia-siakan begitu saja. Ya, Raya ibarat aset bagiku di masa depan. Semua amalan manusia jika ia sudah meninggal akan terputus, kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan doa anak saleh. Aku berharap, kelak doa-doa Raya akan menuntun aku dan suamiku, orangtuanya, ke surga. Amin.

Sisi Lain Iqbal

April 6th, 2007 by cerpenq

pagi ini, datang sebuah kabar yang mengejutkan dari adik laki-lakiku, Iqbal, "mbak, aku kesuk ate budhal mondok (aku besok mau berangkat mondok–nyantri di pondok pesantren)," katanya. aku tercenung lama. dalam waktu dua bulan, satu lagi penghuni rumah yang akan pergi. setelah aku ke ende, adikku ke curah kates-jember. rupanya tahun 2007 ini ayah-ibuku harus ikhlas "kehilangan" dua anak sekaligus.

sebenarnya sudah lama aku mendengar rencana iqbal untuk mondok. tapi waktu itu, kupikir dia hanya ingin saja, nggak serius. ternyata keinginannya yang satu ini begitu kuat. Aku ingat, dia mengungkapkan keinginan ini pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu. Tapi kedua orantuaku keberatan, karena tidak ingin 2 anaknya meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan. Waktu itu aku baru setahun kuliah di

Malang

. Akhirnya orangtuaku berjanji, begitu aku lulus, mereka akan mengabulkan keinginan iqbal. Ya, sementara waktu, iqbal terpaksa harus mengalah untukku.

Kenyataan berkata lain, karena sebelum wisuda, aku memutuskan untuk menikah. Dan itu artinya, aku tidak akan ‘kembali’ lagi ke rumah setelah mengantongi gelar sarjana, tapi harus ikut suami.

Aku kira, iqbal sudah lupa dengan keinginan itu, apalagi dia sudah punya pekerjaan, dan sepertinya dia enjoy nyari uang. Ternyata keinginan itu tak pernah surut. Suatu hari, ketika aku sedang berada di rumah, beberapa bulan menjelang keberangkatanku ke ende,aku melihat iqbal membolak-balik kalender 2007 yang terpajang di dinding ruang keluarga.

“kowe ndelok opo se (kamu lihat apa sih?),” tanyaku gusar.

“Kok suwe yo, mauludan? (kok lama ya, maulud nabi?),” sahut iqbal. Tangannya terus membolak-balik kalender.

“Memangnya kenapa?” tanyaku lagi.

“Aku mau mondok,” jawabnya singkat.

Aku melongo. Seketika itu aku tersadar, bahwa sebentar lagi iqbal pasti akan menagih janji kepada kedua orangtuaku.

Teringat bahwa iqbal saat ini sudah punya pkerjaan, buru-buru aku menimpali. “Ngapain sih? Ngaji di langgar toh sama saja.” Ya, di dekat rumah ada sebuah langgar (musholla) yang dipakai mengaji. Pelajaran yang diajarkan disana hampir sama dengan yang diajarkan di ponpes-pnpes. Bedanya mungkin hanya masalah menginapnya saja. “Lagian sekarang kamu sudah bisa nyari uang sendiri. Kalo kamu mondok, berarti kamu nadah lagi sama ortu,” tambahku mencoba menasihati.

“Pokoknya aku pingin mondok,” tegasnya kekeh.

Lima

tahun lalu, selepas SMP di Kunir, iqbal melanjutkan sekolah ke sebuah Madrasah Aliyah (MA) swasta di Pasuruan. Bukannya tanpa alasan  dia disekolahkan jauh dari rumah. Selain NEM-nya tak mencukupi untuk masuk SMA negeri se-Lumajang (NEM iqbal sekitar 20-an. Kalopun bisa sekolah SMA, ujung2nya lari ke swasta juga), pakde + budeku di Pasuruan menawarkan diri untuk mendidik iqbal yang saat itu dipandang tengah bermasalah dengan intelektualnya. Kebetulan pakdeku memiliki jabatan penting di MA itu. Jadi, meski sebenarnya NEM iqbal nggak cukup untuk mendaftar ke sekolah itu, dia tetap bisa menjadi siswanya. Tentu saja, lewat ‘jalan belakang’, tapi nggak pake ‘pelicin’ alias gratis-tis.

Dua bulan berselang, terdengar kabar tak mengenakkan dari keluarga bude + pakde. Kata mereka, iqbal sangat merepotkan. Setiap hari selalu membuat ulah. Tak tahan dengan selentigan saudara2ku yang terus memojokkan kami sekeluarga, orangtuaku nekat mengambil paksa iqbal pulang ke rumah. Mereka nggak peduli sudah mengeluarkan banyak uang untuk daftar ulang, seragam, dan buku2 iqbal. Yang mereka pikirkan saat itu satu, menjaga nama baik keluarga. Mungkin ini salah satu akibat masuk MA lewat KKN ya, jadinya runyam.

Terlepas dari benar tidaknya kelakuan buruk iqbal selama di Pasuruan, aku bersyukur, karena tingkah lakunya masih dalam batas kewajaran. Tidak ke narkoba, judi, miras, atau yang serem2 lainnya. Adikku masih normal.

Sekeluarnya dari MA, praktis kegiatan iqbal hanya ngaji di musholla dari sore hingga malam. Dia males sekolah lagi. Belakangan aku menerima pengakuan mengejutkan dari iqbal, “Aku nggak mau sekolah lagi karena aku nggak kuat mikir, mbak…” aku tersentak, ternyata ini permasalahannya, kenapa NEM Iqbal sampai anjlok dan kenapa waktu mencicipi sekolah di MA dia tampak ogah2an. Tapi akhirnya aku maklum. Menoleh ke riwayat masa kecilnya, iqbal pernah mengalami peristiwa yang sangat tragis. Waktu usia 2 tahun, iqbal tenggelam di sungai depan rumah, tersangkut di bawah jembatan selama beberapa menit, hingga akhirnya ditemukan mengambang dengan tubuh membiru. Orang2 yang menyaksikan peristiwa itu telah memvonisnya tewas. Tapi, subhanallah, keajaiban terjadi. Beberapa saat setelah diangkat dari sungai, dia menangis, dia memanggil ibu…  oh, adikku..  Inikah mukjizat? Allah masih berkenan memberinya nafas…. Tak henti2nya kami sekeluarga bersyukur.

Tahun demi tahun berganti, aku tak menyadari jika iqbal berbeda dengan anak laki-laki lain seusianya. Dia begitu pendiam, tertutup, seperti asyik dengan diri sendiri, cenderung cuek dengan lingkungan, bicara agak gagap, ‘bandel’, pokoknya aneh. Ini sangat terlihat sejak dia masuk SMP. Melihat gejala2nya, kemungkinan iqbal mengalami kerusakan otak akibat tenggelam di sungai. Tapi hingga kini aku terus menduga-duga dan tak berani memastikan. Karena toh, perkembangan intelektualnya dalam bidang agama cukup membanggakan. Meskipun tingkah lakunya masih childish, dan ssst… belum pernah ‘mengenal’ cewek, dia berhasil jadi salah satu pengajar di musholla. Alhamdulillah, tak henti syukur ini kupanjatkan. Allah maha adil. Meski di bidang ilmu umum iqbal mengalami keterbatasan, tapi dia punya kelebihan pada ilmu agama, pandai menulis kaligrafi pula.

Sekarang, di usianya yang telah melampaui angka 20, dia masih sangat bersemangat mencari ilmu agama. Baginya mungkin tak ada kata terlambat. Aku salut.

Dengan tekad bulat dan semangat yang begitu menggebu, besok dia akan meninggalkan segala kenyamanan yang tersedia di rumah.

Terbanglah adikku, nikmati kedahsyatan pengetahuan yang bertebaran di muka bumi, gali ilmu Allah yang maha luas. Semoga niat sucimu diberkahi-Nya, menjadikanmu anak yang soleh, hingga kelak membawa Ayah-Ibu ke surga…. Amin. Doaku selalu menyertaimu…..