Laskar Pelangi (:bukan promosi, tapi sekilas apresiasi)

Malam ini aku baru saja menuntaskan novel Laskar Pelangi yang—merujuk pada KOMPAS edisi Selasa kemarin—selama beberapa bulan terakhir ini menjadi novel terlaris kedua di Indonesia setelah Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy. Kulahap buku keren karya Andrea Hirata itu selama kurang lebih empat mingguan. Sebenarnya—seperti Ayat-ayat Cinta—aku sudah mengenal Indonesia’s most powerful book ini sejak lama. Aku sempat baca review-nya di Majalah Annida ketika baru di-launching oleh penulisnya beberapa tahun silam. Tapi aku baru tertarik membeli novel fenomenal itu—serta membacanya—sebulan lalu. Aku memang punya traumatik tersendiri pada buku. Berkali-kali mengalami ‘penipuan’ karena terkecoh sama judul yang menarik, sampul buku berlabel best seller, dan karangan penulis ternama, aku jadi lebih berhati-hati (lagi) ketika memilih bacaan. Memang sih, nggak ada ruginya membaca berbagai macam buku seperti buku-buku yang isinya nggak mutu dan mengecewakan. Tapi tetep aja nggak menyenangkan. Sekarang kalau sebuah buku sering dibicarakan orang, dikritik sana-sini, diperbincangkan di banyak media massa, aku baru bisa percaya kalau buku itu berkualitas. Berarti aku wajib membacanya. Jadinya memang telat, tapi selamat. Ya, biar lambat asal selamat jadi jurus amanku memilih bacaan.

Gembar gembor tentang Laskar Pelangi akan segera difilmkan, menjadi penambah daya tarik novel tetralogi itu untuk segera kukoleksi. Bagiku jika sebuah novel dilayarlebarkan, berarti ada sesuatu yang unik dan berbeda dalam novel itu. Dan benar, aku menemukan banyak sekali kejutan-kejutan baru dalam novel memoar itu. Unsur lokalitasnya sangat kental; realitas sehari-hari dipaparkan secara lugas; ada kebersahajaan, spirit, dan pelajaran-pelajaran moral lainnya.

Ada tiga kisah yang menurutku paling seru, yaitu ketika sekolah para tokoh dalam novel berusaha mengalahkan sekolah elit PN—sekolah yang tak pernah terkalahkan dalam hal apapun selama bertahun-tahun—dalam karnaval tahunan dan cerdas cermat, serta ketika para tokoh berpetualang ke Pulau Lanun. Tapi yang terdahsyat adalah pengalaman para tokoh ketika menantang maut di tengah laut dalam perjalanan ke Pulau Lanun untuk menemui Tuk Bayan Tula. Aku ikut merasa tegang. Dan hikmah yang dapat diambil dari pengalaman mereka itu sangat luar biasa, membuatku merinding!

Terlepas dari itu, aku sebenarnya juga sedikit kecewa pada Laskar Pelangi, karena kisah tokoh paling jenius di novel itu—Lintang—berakhir tragis, harus DO dari sekolahnya karena nggak punya biaya! Aku benar-benar menitikkan air mata waktu membaca bab ketika Lintang berpamitan dengan teman-teman dan para guru karena harus berhenti sekolah, lalu mencari nafkah untuk keluarga besarnya yang melarat, menggantikan sang Ayah yang baru meninggal dunia. Lintang tak berdaya menerima keadaan. Ia tak menemukan celah lain untuk berusaha agar tetap sekolah. Dadaku sesak rasanya. Ingin sekali aku ‘melihat’ Lintang tetap bisa sekolah karena dapat beasiswa atau bantuan lainnya. Tapi agaknya memang itulah yang ingin dikisahkan penulis, Lintang sad ending.

Cerita pedih Lintang adalah kisah berlian yang terbuang. Memilukan. Mengapa aku demikian emosional mendapati tokoh Lintang yang gagal? Karena dulu aku pernah nyaris seperti Lintang. Alhamdulillah Allah SWT segera memberiku kemudahan.

Bagiku, Laskar Pelangi adalah angin segar di tengah serbuan novel-novel hedon plus sekuler yang tak bertanggung jawab. Ia jauh dari epigonisme yang akhir-akhir ini marak setelah kemunculan Ayat-ayat Cinta. Novel ini meneguhkan prinsip klise yang kupegang selama ini, bahwa HIDUP ADALAH PERJUANGAN (sampai titik darah penghabisan). Empat jempol untuk Andrea Hirata!

2 Responses to “Laskar Pelangi (:bukan promosi, tapi sekilas apresiasi)”

  1. Ika M Susanti Says:

    Kalau sampai sekarang, tiga buku dari tetralogi yang kalau menurut ika bagus justru kok malah yang Sang Pemimpi ya? Membaca buku itu benar-benar sampai bisa nangis senangis-nangisnya dan bisa ketawa sejadi-jadinya, kalau itu dibandingkan buku Laskar Pelangi atau yang Edensor.
    Ada satu bab di situ yang membuat ika berpikir banyak adalah pas si Ikal sempat menurun motivasi belajarnya. Rasanya pengen nangis sejadi-jadinya waktu dia merasa menyesal pas dimarahi gurunya dan waktu menghadapi bapaknya. Tapi jadi ikut-kutan semangat pas si Arai memotivasi Ikal bahwa jadi orang itu jangan mendahului nasib.
    Buku yang sangat bagus, Sang Pemimpi!

  2. Irma Says:

    hehe… irma belum baca yang itu…
    bagus ya mbak? harus dibaca juga nih..

Leave a Reply