Saturday, May 31st, 2008
Duapuluhempat tahun mengeja. Duapuluhempat tahun tlah terbaca. Langkah ini belum berhenti. Tertatih menantang keluh. Mimpi itu masih jauh. Jangan enggan memburunya dengan peluh. Jangan segan selalu ingatkan waktu.
Duapuluhempat tahun mengeja. Duapuluhempat tahun tlah terbaca. Langkah ini belum berhenti. Tertatih menantang keluh. Mimpi itu masih jauh. Jangan enggan memburunya dengan peluh. Jangan segan selalu ingatkan waktu.
Vibi
Cerpen: RF.Dhonna
Kupandangi Vibi dari jauh. Penampilannya masih tetap sama dengan setahun yang lalu, ketika pertama kali dia menemaniku jalan-jalan bersama Rino, cowokku, di suatu sore yang indah. Vibi memang cantik dan menyenangkan. Dia juga lincah. Tak heran jika Rino sangat menyayanginya.
“Perasaan sayang gue ke elo, sama seperti perasaan sayang gue ke Vibi,” kata Rino suatu hari.
Pernyataan ini jelas membuatku sedih, marah, dan cemburu. Bagaimanapun, aku nggak terima disamakan begitu saja dengan Vibi. Aku ceweknya, seharusnya aku berhak mendapatkan kasih sayangnya secara utuh. Tetapi akhirnya aku sadar, sebelum mengenalku, Rino sudah bersama Vibi. Vibi adalah separuh napasnya, aku tidak bisa memisahkan Rino Dari Vibi, begitu juga sebaliknya. Perlu waktu lama untuk memahami semua ini.
Satu hal yang aku suka dari Vibi, ia selalu ada ketika aku sedang membutuhkannya, sama seperti Rino. Inilah yang membuatku turut menyayanginya. Tetapi tak jarang juga Vibi membuatku uring-uringan. Bayangkan, malam Minggu yang seharusnya menjadi milikku dengan Rino, kadang-kadang dengan mudah direbutnya dariku. Dan ketika ku-sms, dengan santainya Rino akan mengatakan bahwa dia sedang ada di salon menemani Vibi treatment. Betapa beruntungnya Vibi. Aku saja nggak pernah diperlakukan seperti itu. Boro-boro mau nungguin, nganterin aja nggak. Pokoknya Rino anti untuk yang satu ini. Alasannya, tanpa ke salon pun aku sudah cantik. Gombal!
* * *
Permusuhan itu menyakitkan. Mungkin inilah yang dirasakan Vibi ketika aku melarang Rino untuk mengajaknya serta dalam pertemuan-pertemuan kami. Waktu itu aku mengultimatum Rino, “Jauhi Vibi, atau kita putus.”
Aku merasa Vibi telah mempermalukanku di depan teman-temanku pada pesta ulang tahun Reina yang mewah. Aku memang berusaha tetap jaga gengsi di hadapan mereka. Tetapi malam itu, Vibi telah mengacaukan semuanya. Sejak saat itu aku benar-benar membencinya.
* * *
“Mey, Vibi hilang!” adu Rino kemarin sore melalui telpon.
“Apa, Vibi hilang?” ulangku.
Seketika itu juga aku menemui Rino di tempat kami biasa bertemu. Kuhampiri Rino di bangku taman belakang sekolah. Wajahnya tampak murung. Aku menyesal telah mengacuhkan Vibi yang selama ini menjadi bagian kisahku dengan Rino. Aku ingat, pertemuan terakhirku dengan Vibi adalah sebulan yang lalu.
“Udah nyoba lapor polisi?” tanyaku pelan. Rino menggeleng lemah. Kelihatannya dia sangat terpukul dengan kejadian ini. “Rin, Vibi pasti kembali,” yakinku. Mudah-mudahan ini dapat sedikit menghiburnya. “Kita akan mencarinya bersama-sama,” lanjutku.
Rino mendesah, pandangannya lurus ke depan. “Makasih, Mey. Ternyata elo masih peduli sama Vibi,” ujarnya sambil beralih memandangku. Kubalas pandangannya dengan senyuman.
Perlahan daun-daun kering dari pohon flamboyan yang menaungi kami saat itu meluruh, mengotori sebuah bangku taman yang bagi kami sangat bersejarah, karena disinilah kali pertama kami menemukan nama ‘Vibi’ kemudian memberikannya untuk motor antik Rino, sebuah vespa butut.
Cerpen ini dimuat di Harian Surya, Minggu 21 November 2004
Dompet
Cerpen: R.F.Dhonna
Titik-titik hujan mulai membasahi tubuh ringkih yang kedinginan itu. Sesekali ia terbatuk-batuk. Musim hujan kali ini membuat pemuda itu tersiksa oleh penyakit menahun yang dideritanya. Tiba-tiba ia teringat Suyatno. Mungkin ini karma, karena dulu ia sering menghardik Suyatno, rekannya sesama gelandangan.
“Heh, kuping gue bisa budeg kalau lu dikit-dikit batuk. Diam sebentar kek, Tokek aja bunyinya sejam sekali,” hardiknya ketika itu.
Di lingkungan pemulung dan gelandangan TPA Kedaeng, pemuda gondrong berusia 20-an itu terkenal dengan nama Gopal. Padahal kedua orangtuanya memberinya nama Abdul Gofar.
Rintik hujan menderas. Jentik-jentik penghisap darah mulai mewabah. Keadaan seperti ini masih untung daripada banjir air bah seperti tahun lalu. Ia berharap mimpi buruk yang membuatnya terusir itu tidak akan terulang lagi. Daerah ini memang aneh, kalau musim kemarau dilanda kekeringan, musim hujannya kebanjiran.
Gopal mengamati sekitarnya. Teman-temannya sudah terlelap beberapa jam yang lalu, sedangkan dirinya sendiri masih terjaga. Dipandanginya satu persatu wajah lelah mereka. Hatinya galau. Sesaat kemudian ia menengadah ke langit, mencoba mencari jawaban sekali lagi. Tetapi yang ia temukan hanya kekecewaan. Bintang-bintang tempatnya bertanya telah tertutup mendung tebal.
Kembali Gopal menimang-nimang dompet yang ditemukannya terselip di antara tumpukan-tumpukan sampah kering tadi siang. Dompet cokelat berisi ratusan ribu, kartu kredit, dan KTP ini bisa membawa keberuntungan, bisa juga membawa petaka. Gopal heran, mengapa ia tertarik membuka dompet itu. Padahal sebelumnya ia tak pernah seiseng ini. “Mungkin ini yang disebut karunia,” batin Gopal mengenang kata-kata Ustad Sholeh, guru ngajinya di kampung.
“Dompet ini tidak usah dikembalikan dulu, jangan-jangan kau dituduh mencuri. Di mata orang-orang kaya seperti orang ini, yang namanya gembel, tetap saja gembel. Bagi mereka tidak ada istilah gembel baik, semua gembel sama: menjijikkan!” nasihat Bang Jamin, pedagang ketoprak yang kerap kali muncul di kawasan Kedaeng. Cerita tentang dompet temuan ini memang hanya Bang Jamin yang ia beri tahu. Gopal mempercayainya karena ia mengenal baik siapa Bang Jamin.
Lelaki beranak satu itu digelari orator ulung oleh komunitas gelandangan Kedaeng. Wawasannya yang lebih luas dan kosakatanya yang lebih intelek ketika berbicara dibandingkan yang lain, mengundang decak kagum pada siapa saja yang mendengar pidatonya. Tak heran jika dalam beberapa aksi unjuk rasa, dia selalu didaulat menjadi koordinatornya.
“Untuk sementara waktu, ada baiknya dompet ini kau titipkan pada abang, biar lebih aman. Abang tidak akan mengambil atau meminta sepeser pun,” lanjut Bang Jamin meyakinkan.
Gopal mengggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sesekali gigitan nyamuk menghampirinya. Disingkapnya kain sarung sampai tengkuk untuk menghalau dingin dan gigitan serangga kecil yang menyebalkan itu. Dengan kening berkerut, Gopal merenung kembali. Ia mulai mempertimbangkan nasihat Bang Jamin. “Saat ini kejujuran sudah kurang dihargai,” kata-kata itu terngiang lagi di telinganya.
Sambil membaringkan tubuhnya, ia menyandarkan kepala pada kedua lengannya. Matanya yang mulai terasa berat dikerjap-kerjapkannya, sekedar mengajak berkompromi. Kemudian dipejamkannya sejenak, tapi sedetik kemudian dia bangkit lagi. Punggung tangannya mendapati cairan kental di lantai yang selama ini menjadi ranjangnya. Dalam gelap, dirabanya cairan itu lalu diendusnya perlahan, anyir! “Sialan!” makinya sambil mengibaskan tangan. Ia tidak menuduh, siapa yang meludah sembarangan di tempat tidurnya itu, karena akhir-akhir ini hampir semua temannya mengeluh sering demam diselingi batuk darah.
Tiba-tiba ia terkesiap, hatinya tergugah oleh naluri kemanusiaannya. Ya, Gopal ingin berbuat baik. Bukankah sebuah kemuliaan seandainya uang itu dipakai untuk berobat teman-temannya ke rumah sakit? Semua akan beres. Tapi ketakutan dengan cepat menyergapnya. Buru-buru niatnya itu diurungkannya. Kalau ia membawa temannya yang sebanyak itu kesana, petugas rumah sakit pasti akan curiga, darimana Gopal mendapat uang sebanyak itu? Ia tak dapat membayangkan kalau dirinya dijebloskan ke penjara semuda ini. Oh, tidak, tidak! Ditepiskannya bayangan itu. “Aku harus hidup sebagai manusia yang bebas, meskipun kehidupan sendiri tidak menganggapku sebagai manusia…,” tekadnya dalam hati.
Dari kejauhan kokok ayam mulai bersahutan, fajar hampir tiba. Sebentar lagi, hiruk pikuk
kota akan menggilas idealisme dan harga diri seorang Gopal, seperti biasanya. Hari ini ia sudah memutuskan akan menuruti nasihat Bang Jamin.
* * *
Gopal mengingsutkan wajahnya yang sedang disorot kamera televisi. Bukannya malu, tapi ia benar-benar tidak mengerti, kenapa tiba-tiba datang segerombolan polisi yang menggerebek kemudian menginterogasinya seperti seorang pesakitan. Padahal kemarin Bang Jamin memintanya untuk tidak pergi jauh-jauh karena ada sebuah stasiun televisi yang akan memprofilkan kehidupannya, agar setelah melihat tayangan itu para dermawan berbondong-bondong bersimpati padanya, hanya itu.
Gopal dihardik habis-habisan oleh polisi-polisi itu, dipaksa mengakui kalau ia telah mencopet dompet orang. Merasa tak melakukannya, Gopal membantah tuduhan itu dengan tegas. Ternyata bantahan itu membuahkan bentakan bertubi-tubi yang semakin memekakkan telinganya.
“Sejak awal saya sudah curiga, Pak Polisi. Karena tidak mungkin dia mendapat uang sebanyak itu. Setelah saya desak, dia mengakui kalau uang itu hasil mencopet,” tanpa perasaan bersalah Bang Jamin membeberkan kesaksian palsunya yang meyudutkan Gopal. Mendengar omong kosong itu, gigi Gopal bergemeretak keras. Celakanya, polisi menangkapnya sebagai perlawanan. Tak pelak, sebuah tendangan menghampiri perutnya yang belum terisi sejak pagi.
“Soya tidak tahu kalau dompet saya dicopet. Tahu-tahu waktu di depan loket pembayaran, dompet saya sudah hilang…,” ungkap pemilik dompet ketika ditanya wartawan. “Untung bapak penjuak ketoprak ini segera menghubungi saya. Kalau tidak, tahun depan saya tidak bisa berangkat haji,” tambah sang pemilik.
Merasa dipuji, hidung lelaki tambun itu kembang kempis. “Saya cuma berpesan, hati-hati kalau membawa uang. Sekarang banyak copet yang berlagak seperti pengemis,” lanjut lelaki empat puluh tahun itu sok bijak.
“Dasar penjilat!” maki Gopal dalam hati sambil menatap tajam sosok licik di hadapannya. Tapi ia tidak bisa berlama-lama memperlihatkan kebenciannya, karena sejurus kemudian polisi menyeretnya paksa menuju mobil patroli dengan tangan terborgol.
Sepeninggal Gopal, Bang Jamin kelihatan lebih sumringah, “Sudah wajah masuk tipi, dapet dua ratus ribu lagi, makmur dah…,” ujarnya bahagia. Lelaki itu baru saja membuktikan bahwa gembel tetaplah gembel….
* * *
Cerpen ini dimuat di Deteksi Jawa Pos edisi Senin, 2 Februari 2004
Ulang Tahun Anggi
Cerpen: RF.Dhonna
Anggi memandangi kebun bunga di belakang rumahnya. Hmm, cukup luas juga. Pasti asyik kalau ulang tahunnya nanti dirayakan di sini, seperti usul Tity, teman dekatnya.
“Nggi, daripada kamu pusing mikirin acara kayak apa yang cocok buat ultah kamu, mending nyontek Inge deh, pesta kebun,” usul Tity tadi siang di sekolah.
“Hah, nyontek pestanya Inge? Mending aku nggak ngadain pesta sekalian,” jawab Anggi ketus. Dia nggak mau nyontek pesta rivalnya sebulan yang lalu.
“Waktunya mepet non, tiga hari lagi!” kata cewek berpipi tembem itu semangat.
“Ah, kamu nggak ngerti sih.”
“Kenapa, Aksan? Dengerin ya, kalau Aksan emang suka sama kamu, dia pasti bakal milih kamu daripada Inge.”
“Jangan sok tahu, ah,” timpal Anggi. Kini ia telah berubah pikiran, segudang rencana telah tersusun rapi di kepalanya.
* * *
“Mami..!” Anggi menyapa Maminya yang baru datang dari kantor. “Capek ya, Mi?” tanya Anggi basa-basi. Ada maunya sih…“Mami tahu nggak, tiga hari lagi ada apa?” pancingnya sambil mengambilkan air putih buat sang Mami.
“Memangnya ada apa?” ditanyain balik gitu, kontan si Anggi jadi gondok.
“Masa’ nggak inget sama ultah anak sendiri?!”
“Oh, maaf, sayang. Mami benar-benar lupa.” Keduanya terdiam sejenak. “Nggi, jangan ngambek gitu dong. Oke, kamu minta apa? Pasti mami penuhi.”
“Bener, Mi?!” Maminya mengangguk mengiyakan. Sontak wajah Anggi berubah ceria. “Mi, Anggi boleh nggak, ngerayain pesta di kebun belakang?” tanya Anggi hati-hati. Jantungnya berdebar-debar melihat reaksi wajah Mami yang langsung berubah.
“Kalau untuk yang satu ini, mami nggak akan ngasih ijin.” Dierr! Anggi kecewa seketika. “Mami nggak mau bunga-bunga kesayangan mami mati terinjak-injak. Mami sudah capek menata kebun itu… bla… bla… bla… .”
“Ah, mami nggak asyik!” Anggi berlari ke kamarnya. Dibantingnya pintu keras-keras. Anggi sesenggukan. Dia sedih membayangkan ultahnya batal. Dia juga takut dengan cemoohan teman-temannya.
“Nggi, dengar dulu. Kalau selain itu, mami setuju. Buka dong, sayang.. ,” rayunya di depan pintu kamar putrinya.
“Nggak mau!” tukas Anggi ketus. Rupanya dia benar-benar marah.
* * *
Hari ini Anggi menghindar dari teman-temannya di kelas. Begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung ngabur ke warung bakso Mang Akri. Ternyata di sana sudah ada Tity. Anggi buru-buru memutar haluan, tapi…
“Nggi, sini!” yah, ketangkap basah deh. “Gimana, jadi kan pesta kebunnya?”
“Nggak,” jawab Anggi lesu.
“Yah, batal makan enak dong.”
“Dasar gilingan! Pantesan pipimu tembem, makanan aja sih yang diurusin!”
“Ye.. gitu aja panas. Nih, minum jus dulu biar adem.”
Anggi menyeruput jus jeruk Tity yang tinggal setengah gelas.
“Aku lagi marahan nih, sama Mami.”
“So, apa yang bisa aku bantu?”
“Gini, gimana caranya supaya Mami nyesel nggak nurutin permintaanku?”
Kening Tity berkerut mencari ide. “Hmm.. mogok makan aja.”
“Heh, kalo ngasih saran yang masuk akal dong. Emang kamu nggak nangis, liat aku mati kelaparan?!” Tity tertawa ngikik.
“Kalau… nggak pulang sementara, gimana?”
“Boleh juga. Tapi kemana?”
“Yang pasti jangan ke rumahku. Kamu mau nongkrong di emperan kek, ngumpet di kolong jembatan kek, terserah.”
Setelah berpikir sebentar, lagi-lagi akhirnya Anggi setuju dengan usul sahabatnya itu.
* * *
Anggi berjalan menyusuri pinggiran pasar yang mulai sepi. Badannya serasa terpanggang oleh sengatan matahari. Sepulang sekolah, biasanya dia langsung membuka kulkas di ruang makan, duduk di ruang tv yang ber-AC. Tapi hari ini, Anggi harus rela wajahnya yang putih berubah menjadi merah kehitaman, serasa hampir gosong! Kerongkongan Anggi mulai terasa kering, perutnya pun sudah sejak tadi dangdutan. Dihampirinya seorang pedagang es kelapa muda yang mangkal tak jauh dari tempatnya berdiri. Anggi agak jijik juga sih sebenarnya. Dia nggak terbiasa jajan di kaki lima. Tapi terpaksa, nggak ada pilihan lain. Lalu, seperti orang nggak makan sebulan, Anggi meneguk rakus es kelapa muda yang disodorkan abang penjual es itu. Tiba-tiba seorang pengamen kecil menghampirinya, lalu bernyanyi dengan suara seadanya. Diiringi gitar sederhana yang sudah tua, pengamen itu menyanyikan lagu Ayah dengan penghayatan penuh. Anggi jadi trenyuh. Pemilik suara itu adalah seorang gadis kecil berambut panjang, kira-kira usianya empat tahun. Bajunya yang lusuh dan compang-camping, membuatnya tampak tak terawat.
“Adik, sini!” Panggil Anggi ramah. anak itu langsung menghampirinya. “Suara kamu bagus loh,” puji Anggi tulus. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu mendengar suaranya dipuji. “Nama adik siapa? Namaku, Anggi.”
“Nama saya Asih,” ujar anak kecil itu membalas perkenalan Anggi.
“Sudah lama jadi pengamen?” tanya Anggi.
“Sejak umur dua tahun, Kak.”
“Nggak sekolah?” cecar Anggi lagi.
Asih menggeleng.
“Lo, kenapa… nggak sekolah?” Kasihan Asih, sekecil ini sudah disuruh kerja, gumam Anggi dalam hati.
“Nenek Asih nggak punya uang, Kak. Orangtua Asih sudah meninggal waktu Asih berusia dua tahun.” Ya tuhan, gadis yatim piatu ini tampak tegar. Di tengah kegetiran hidupnya, ia tetap terlihat bahagia. Sepertinya dia bangga karena sudah bisa mandiri di usia dini, pikir Anggi. Dia jadi malu pada dirinya sendiri. Betapa selama ini ia sering menuntut orangtuanya tanpa melihat kesulitan mereka mencari nafkah. Dan satu lagi, Anggi kurang bersyukur dengan keadaannya. Sekarang dia perlu berterima kasih kepada Asih karena Anggi menjadi sadar akan kekeliruannya selama ini.
”Sekarang umur Asih berapa tahun?”
”Sebentar lagi empat.”
“Trus, ulang tahunnya kapan?”
“Satu minggu lagi.”
“Oh ya? Kalau begitu, mau nggak ngerayain bareng kakak? Nanti biayanya kakak tanggung semua,” tanpa sadar Anggi melontarkan kata-kata itu.
“Benar, Kak?” Anggi tersenyum mengangguk. “Kakak baik banget, terima kasih ya, Kak.”
Tiba-tiba hp Anggi berbunyi. “Hallo, Ty,” sapa Anggi genit.
“Nggi, kemana aja sih? Mama kamu nangis-nangis nyari kamu, tahu nggak?” Anggi cengengesan.
“Iya, ini juga aku mau pulang. Eh, aku udah nemu ide yang lebih seru. Aku mau ngerayain ultah di panti asuhan!” tegasnya.
“Hah, ide gitu kamu bilang seru? Apa asyiknya?”
“Sekali-sekali boleh kan, berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti.”
“Aduh, Nggi, kamu mimpi apa sih semalam?” kata Tity nggak percaya.
* * *
Malam ini Anggi bahagia, karena selain bisa merayakan ulang tahunnya sendiri, ia juga merayakan ulang tahun sahabat kecilnya, Asih. Bisa berbagi kebahagiaan dengan Asih adalah anugerah terindah. Meskipun pestanya tadi sederhana, tapi sangat meriah. Semua yang diundang hadir, dan yang istimewa, tentu saja kehadiran Aksan. Apalagi Aksan memberi kado paling besar untuknya. Penasaran, Anggi segera membukanya. Hup! Anggi membekap mulutnya. Aksan memberinya sebuah lukisan yang keren banget!
Segera ia membaca secarik kertas di pojok atas lukisan itu.
Selamat ulang tahun yang ke-12, tebarkan cinta kasih untuk sesama… Aksan
Rasanya Anggi sudah nggak sabar menunggu besok….
*cerpen ini dimuat di Majalah GIRLS no.20 edisi Mei 2008 dengan beberapa editan, diantaranya judul berubah menjadi "Anugerah Terindah"
“Betapa enaknya terlahir sebagai laki-laki.” Itulah pendapat saya dulu (bahkan sampai sekarang pendapat itu terkadang masih sering terlintas di kepala saya). Dibanding makhluk bernama perempuan, selama ini laki-laki distereotipkan lebih ‘bebas’, lebih kuat, lebih berani, dan masih banyak lebih-lebih yang lain. Saya sempat iri dengan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki laki-laki. Meskipun saya tak menampik bahwa perempuan pun punya banyak keistimewaan—diantaranya surga berada di telapak kaki ibu—tapi tetap saja, bagi saya laki-laki itu punya banyak kelebihan.
Ketika masih SD, saya heran dengan susunan kabinetnya Alm.Pak Harto. “Kok menteri perempuannya cuma menteri UPW doang?” Kalau nggak salah waktu itu pernah cuma Ibu Inten Suweno saja yang perempuan. Dalam benak kanak-kanak saya saat itu, saya berpikir, apakah perempuan nggak boleh jadi menteri?
Menginjak remaja, saya melihat fenomena tentang banyaknya kasus MBA (Merit by Accident) yang sering merugikan pihak perempuan. Waktu itu kesimpulan saya satu: enak banget ya jadi laki-laki, perjaka atau nggak perjaka orang lain nggak tahu (kecuali ada penyelidikan ‘investigasi’). Jadi enjoy aja kalau ingin gonta-ganti pasangan. Kalau perempuan? Begitu orang lihat perutnya membesar, bunting, berarti udah nggak perawan lagi. Itu sudah pasti.
Oh iya, dulu saya pernah berkhayal, seandainya saya laki-laki, saya akan keliling dunia pakai sepeda. Dalam bayangan saya, kalau saya laki-laki, berpetualang kemanapun aman, bebas, mudah dapat ijin dari orangtua dan tidak akan terlalu dikhawatirkan. Tidur dimanapun nantinya, nggak masalah. Dasar khayalan anak kecil nyeleneh!
Entah dari mana mulanya, sejak kecil mentalitas saya sudah terbentuk untuk berusaha mengalahkan laki-laki, dalam hal apapun, saya merasa bahwa saya harus di depan laki-laki. Karena itulah ketika saya berhasil menjadi ketua kelas, atau merebut predikat rangking I di kelas—yang biasanya disandang murid laki-laki—misalnya, saya luar biasa bahagia, puas tak terkira.
Saya cenderung suka memakai celana (yang umumnya dipakai anak laki-laki) daripada memakai rok seperti lazimnya anak perempuan. Kalaupun sekali waktu saya memakai rok, itu karena dipaksa Ibu dengan banyak ancaman. Semasa remaja (sampai sekarang), saya juga nggak begitu suka dan malas berdandan. Buat saya cantik itu bukan polesan kosmetik, melainkan cerdas, sehat jasmani rohani, kuat, dan berani; itulah cantik. Meminjam definisi Lan Fang, cantik itu 3B: Brain, Brave (bukan Beauty), Behavior.
Saya cenderung suka memberontak. Aturan tak tertulis dalam keluarga besar saya (dari garis Ayah), jika seorang anak perempuan beranjak remaja (setara lulus SD), wajib memakai jilbab. Tapi saya tidak mengindahkan aturan itu. Saya nggak mau berjilbab karena terpaksa. Saya mau niat berjilbab saya karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Tak heran jika diantara saudara-saudara perempuan saya, sayalah yang paling beda, baru berjilbab ketika SMA. Tidak hanya itu. Saya juga sempat ‘dikucilkan’ oleh keluarga besar saya (dari Ayah lagi, yang selama ini bercitra keluarga ‘santri’) karena aktivitas saya di dunia seni ‘sekuler’. Setelah tanpa sengaja menjuarai lomba menyanyi se-kecamatan, saya yang saat itu masih SD sering diundang manggung di berbagai acara. Sampai SMP, saya masih sering diminta menyanyi di berbagai tempat. Akibatnya, teror semakin sering saya terima dari mereka-mereka yang tidak menyukai aktivitas saya. “Suara itu termasuk aurat perempuan!” kata salah seorang ‘tetua’ di keluarga besar saya. Waktu itu saya cuek saja, jalan terus. Kedua orangtua saya nggak masalah, kenapa justru mereka yang ribut? Toh niat saya menyanyi hanya untuk menyalurkan hobi, melatih kepercayaan diri, menggali potensi, manambah pengalaman, bukan untuk yang lain. Tetapi akhirnya saya nyerah juga setelah mendapat tekanan dari sana-sini. Saya berhenti, dan saya frustasi. Untunglah tak berapa lama saya bisa bangkit dan semangat lagi.
Kata orang-orang di sekitar saya, saya ini juga tergolong nekatan. Waktu SMP, untuk pertama kalinya saya pulang ke rumah dari berlibur di
Surabaya sendirian, bermodal nekat. Ketika SMA, saya pernah pulang dini hari dengan seorang saudara perempuan saya setelah nonton konser grup musik Padi yang saat itu datang ke Lumajang. Padahal jarak rumah saya ke tempat konser cukup jauh, juga susah angkot. Lalu saya pernah nekat minggat dari rumah gara-gara dimarahi Ayah, ngumpet beberapa hari di rumah salah satu om saya. Yang paling spektakuler adalah kenekatan saya melakukan ‘pembangkangan’ terhadap kehendak Ayah dalam memilihkan sekolah untuk saya selama tiga kali berturut-turut. Tapi kenekatan-kenekatan saya selama ini tetap berdasarkan pada banyak pertimbangan lho.
Saya terlahir sebagai perempuan dalam keluarga saya, sebagai sulung dari empat bersaudara dengan dua adik laki-laki dan satu perempuan. Dulu saya sering protes kepada orangtua, karena sehari-hari pekerjaan rumah saya lebih banyak dari adik laki-laki di bawah saya. Usia kami hanya terpaut dua tahun. Waktu itu kedua adik saya yang terakhir belum lahir. Sementara saya menyapu, mengepel, membantu Ibu di dapur, mencuci sekaligus menyeterika baju sendiri, adik dibebaskan bermain dengan teman-temannya sampai sore, padahal adik sudah waktunya mandiri.
“Kenapa saya terus?” teriak saya jengkel.
“Kamu perempuan,” kata Ayah.
Lalu kenapa adik saya yang laki-laki tidak diajarkan seperti itu juga? Apa salahnya laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Lalu, bagaimana nanti kalau sudah beristri? Mau jadi Raja, yang apa-apa harus dilayani istri? Apa semua yang berbau domestik harus dikerjakan istri (:perempuan)? Apakah tujuan laki-laki mengawini perempuan cuma mau dijadikan pembantu? Ngapain kawin kalo gitu?! Cari aja PRT! Dasar laki-laki! Sungut saya dalam hati. Entahlah, saya juga heran, bisa-bisanya pemikiran saya waktu itu (yang masih SMP) sampai sejauh ini.
Untunglah saya dapat suami yang nggak pernah memperlakukan saya seperti pembantu. Saya tahu, pelayanan istri terhadap suami, sekecil apapun bentuknya—membuatkan kopi misalnya—bernilai pahala. Tapi bagi saya, membebankan semua pekerjaan domestik kepada istri adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM, nggak manusiawi, menentang fitrah, karena para istri pun bisa lelah seperti para suami yang baru pulang kerja (istri juga manusia!). Karena ini, sempat terlintas pikiran ngaco plus iseng di kepala saya, kenapa ya, yang sering saya jumpai adalah buku-buku how to tentang kiat-kiat melayani suami? Kok nggak pernah saya jumpai judul ‘Tips Melayani Istri’? (just kidding…).
Di keluarga besar saya (dari garis Ayah), diantara anak-anak perempuan yang penurut kepada kedua orangtuanya, yang tak bebas menentukan pilihan, saya tumbuh menjadi anak perempuan yang suka ‘membangkang’. Tapi saya berani mempertanggungjawabkan ‘pembangkangan’ saya.
Saya gemas melihat saudara-saudara perempuan saya yang ‘iya’ saja ketika selepas SD dimasukkan pesantren, dipaksa masuk ke MTs dan sejenisnya, lalu ketika dewasa suami pun harus pilihan orangtua, bla bla bla… Saya tidak mau itu terjadi pada saya. Saya tidak mau jadi kerbau. Dan ‘pembangkangan’ pun dimulai.
Lulus SD, saya dijemput salah seorang anak pakdhe saya (dari garis Ayah). Saya dipaksa masuk MTs di Pasuruan, dekat rumahnya, seperti saudara-saudara saya yang lain yang dulu pernah ‘nyantri’ disana. Entah dapat keberanian dari mana, saya menolak. Saya lari dari rumah, sembunyi di rumah seorang budhe (dari garis Ibu). Saya mengancam nggak mau pulang kalau terus dipaksa masuk MTs. Akhirnya Ayah mengalah.
“Apa maumu?” tanya Ayah.
Lalu saya utarakan keinginan saya untuk menentukan sendiri saya akan sekolah dimana. SMPN I Tempeh menjadi pilihan saya. Waktu itu saya begitu yakin dengan pilihan saya, optimis bahwa pilihan saya benar. Walaupun sebagai konsekuensinya saya terancam tidak akan diberi uang saku yang memadai oleh Ayah dan beliau tidak bersedia mengantar-jemput saya ke sekolah, saya tidak gentar. Justru saya semakin tertantang untuk melakukan yang terbaik, membuktikan bahwa pilihan saya tidak salah. Tahun pertama, setiap hari saya mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 7-8 kilo. Sekolah saya beda
kota kecamatan dengan tempat tinggal saya. Mau naik angkot uang nggak cukup. Tahun kedua dan ketiga, kadang-kadang saja, karena sering dapat tumpangan teman, dan Alhamdulillah kadang bisa naik angkot.
Keyakinan saya berbuah manis. Saya lulus sebagai salah satu the best ten dari sekolah itu. Meski demikian, entah mengapa Ayah kembali melakukan pemaksaan kehendak pada saya. Kali ini saya tidak boleh sekolah di SMA pilihan saya tanpa alasan. Jelas saya menentang habis-habisan. Tanpa persetujuan Ayah, dengan hati pedih saya tetap mendaftar ke SMA Negeri 2 Lumajang. Selama tiga tahun hari-hari saya penuh perjuangan untuk meminta kepercayaan Ayah. Untunglah semangat juang itu tak pernah padam di hati saya.
Lulus SMA, saya berhasil masuk ke salah satu PTN di Malang tanpa tes (lewat jalur PMDK). Lagi-lagi Ayah menentang keinginan saya melanjutkan pendidikan. “Jurusan yang kamu pilih itu ndak bonafit, ndak ada prospeknya,” cela Ayah. Siapa bilang? kilah saya dalam hati. Ayah lihat ya, nanti. Akan kubuktikan! tekad saya.
Saat ini, meski belum sepenuhnya tekad itu terbukti, orangtua saya (terutama Ayah) akhirnya mau memberi kepercayaan pada saya untuk memutuskan sendiri apa pun yang saya inginkan. Saya bersyukur, karena sejak dulu inilah yang saya inginkan: diberi kepercayaan menjalani hidup berdasarkan keputusan-keputusan yang saya buat sendiri, bebas menentukan pilihan. Bagaimanapun, saya sendiri-lah yang tahu apa yang terbaik untuk hidup saya, karena saya yang menjalani, bukan orang lain.
Menjelang dua puluh empat tahun hidup sebagai perempuan, ternyata menjadi perempuan itu cukup menyenangkan, meski kadang melelahkan….
Tuhan,
Apakah saya salah jika mempertanyakan kodrat?
Apakah saya nyeleneh seandainya mendobrak batas-batas yang membelenggu kedua kaki saya?
Apakah saya berdosa apabila menggugat takdir?
Apakah saya terkutuk karena menuntut keadilan?
Apakah saya gila karena menginginkan kesetaraan?
……………………………………………………………………..
Malam ini aku baru saja menuntaskan novel Laskar Pelangi yang—merujuk pada KOMPAS edisi Selasa kemarin—selama beberapa bulan terakhir ini menjadi novel terlaris kedua di Indonesia setelah Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy. Kulahap buku keren karya Andrea Hirata itu selama kurang lebih empat mingguan. Sebenarnya—seperti Ayat-ayat Cinta—aku sudah mengenal Indonesia’s most powerful book ini sejak lama. Aku sempat baca review-nya di Majalah Annida ketika baru di-launching oleh penulisnya beberapa tahun silam. Tapi aku baru tertarik membeli novel fenomenal itu—serta membacanya—sebulan lalu. Aku memang punya traumatik tersendiri pada buku. Berkali-kali mengalami ‘penipuan’ karena terkecoh sama judul yang menarik, sampul buku berlabel best seller, dan karangan penulis ternama, aku jadi lebih berhati-hati (lagi) ketika memilih bacaan. Memang sih, nggak ada ruginya membaca berbagai macam buku seperti buku-buku yang isinya nggak mutu dan mengecewakan. Tapi tetep aja nggak menyenangkan. Sekarang kalau sebuah buku sering dibicarakan orang, dikritik sana-sini, diperbincangkan di banyak media massa, aku baru bisa percaya kalau buku itu berkualitas. Berarti aku wajib membacanya. Jadinya memang telat, tapi selamat. Ya, biar lambat asal selamat jadi jurus amanku memilih bacaan.
Gembar gembor tentang Laskar Pelangi akan segera difilmkan, menjadi penambah daya tarik novel tetralogi itu untuk segera kukoleksi. Bagiku jika sebuah novel dilayarlebarkan, berarti ada sesuatu yang unik dan berbeda dalam novel itu. Dan benar, aku menemukan banyak sekali kejutan-kejutan baru dalam novel memoar itu. Unsur lokalitasnya sangat kental; realitas sehari-hari dipaparkan secara lugas; ada kebersahajaan, spirit, dan pelajaran-pelajaran moral lainnya.
Ada tiga kisah yang menurutku paling seru, yaitu ketika sekolah para tokoh dalam novel berusaha mengalahkan sekolah elit PN—sekolah yang tak pernah terkalahkan dalam hal apapun selama bertahun-tahun—dalam karnaval tahunan dan cerdas cermat, serta ketika para tokoh berpetualang ke Pulau Lanun. Tapi yang terdahsyat adalah pengalaman para tokoh ketika menantang maut di tengah laut dalam perjalanan ke Pulau Lanun untuk menemui Tuk Bayan Tula. Aku ikut merasa tegang. Dan hikmah yang dapat diambil dari pengalaman mereka itu sangat luar biasa, membuatku merinding!
Terlepas dari itu, aku sebenarnya juga sedikit kecewa pada Laskar Pelangi, karena kisah tokoh paling jenius di novel itu—Lintang—berakhir tragis, harus DO dari sekolahnya karena nggak punya biaya! Aku benar-benar menitikkan air mata waktu membaca bab ketika Lintang berpamitan dengan teman-teman dan para guru karena harus berhenti sekolah, lalu mencari nafkah untuk keluarga besarnya yang melarat, menggantikan sang Ayah yang baru meninggal dunia. Lintang tak berdaya menerima keadaan. Ia tak menemukan celah lain untuk berusaha agar tetap sekolah. Dadaku sesak rasanya. Ingin sekali aku ‘melihat’ Lintang tetap bisa sekolah karena dapat beasiswa atau bantuan lainnya. Tapi agaknya memang itulah yang ingin dikisahkan penulis, Lintang sad ending.
Cerita pedih Lintang adalah kisah berlian yang terbuang. Memilukan. Mengapa aku demikian emosional mendapati tokoh Lintang yang gagal? Karena dulu aku pernah nyaris seperti Lintang. Alhamdulillah Allah SWT segera memberiku kemudahan.
Bagiku, Laskar Pelangi adalah angin segar di tengah serbuan novel-novel hedon plus sekuler yang tak bertanggung jawab. Ia jauh dari epigonisme yang akhir-akhir ini marak setelah kemunculan Ayat-ayat Cinta. Novel ini meneguhkan prinsip klise yang kupegang selama ini, bahwa HIDUP ADALAH PERJUANGAN (sampai titik darah penghabisan). Empat jempol untuk Andrea Hirata!