Jurus buka mulut
Tuesday, April 8th, 2008Sejak Raya berusia enam bulan, ada satu pekerjaan baru yang begitu menguras tenaga dan pikiranku. Bagiku, pekerjaan inilah yang paling sulit saat itu. Satu pekerjaan yang menantang kreativitas, menyita waktu, dan mampu mengaduk-aduk emosiku. Pekerjaan itu adalah menyuapi si kecil! Ya. Sementara pekerjaan lain seperti memandikan dan menidurkannya, selama ini tidak pernah ada masalah.
Bukan perkara gampang membuat Raya mau makan. Jangankan menelan habis sepiring kecil, memasukkan sesendok kecil penuh bubur bayi ke dalam mulut saja susahnya minta ampun. Aku harus membujuknya sedemikian rupa agar si kecil mau buka mulut. Berbagai jurus kucoba, mulai dari bermain cilukba, mengajaknya ngobrol, bercerita, membacakan buku, bermain ekspresi wajah, menyanyikan lagu anak-anak (kadang sampai kehabisan stok karena lagu anak-anak yang kuhapal sudah kunyanyikan semua, bahkan kadang sampai menggubah syair lagu tertentu dan menciptakan lagu sendiri yang nadanya ngawur, ha he…), melakukan gerakan-gerakan slapstick yang bisa memancing tawanya, pokoknya hampir segala kekonyolan kulakukan agar si kecil mau buka mulut. Kadang sampai mati gaya, karna udah kehabisan cara tapi si kecil tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Capek deeeeh…. Untungnya aku melakukannya di dalam rumah, jadi nggak ada orang lain yang melihatku bertingkah malu-maluin seperti itu. He he..
Sering aku merasa kehabisan kesabaran, merasa dipermainkan oleh si kecil. Kalau sudah begitu, biasanya aku langsung diam, lalu kutinggalkan si kecil yang asyik dengan mainannya. Sebisa mungkin aku menghindari cara-cara anarkis ketika mencekokkan makanan ke mulut si kecil. Karena selain bisa menyebabkan trauma (yang berakibat anak nggak mau makan selamanya), resiko tersedak juga mengancam. Ini lebih membahayakan, nyawa taruhannya.
Pernah kutanyakan ini ke seorang temanku yang sama-sama punya bayi.
“Si kecil susah nggak makannya?” tanyaku.
“Iya.”
“Trus gimana ngatasinnya?”
“Ya dibawa jalan-jalan sambil digendong.”
“Kalo nangis?”
“Tetep disuapin. Malah kalo nangis tambah gampang, kan otomatis buka mulut toh.”
“Kalau tetep nggak mau buka mulut?”
“Pencet aja hidungnya.”
Aku bergidik. Waduh, ini sih kekerasan dalam nyuapin anak (KDNA) namanya. Bayangin aja, waktu nangis atau hidung anak dipencet, saluran napas ikut kebuka, bisa fatal banget akibatnya. Baru-baru ini aja ada seorang bayi meninggal yang awalnya diduga keracunan susu, ternyata gara-gara kesedak pas minum susu botol. Tragis kan…
Sampai sekarang, sebenarnya Raya masih susah makan, tapi nggak sesusah di awal-awal belajar makan. Memang, masih tetap harus pakai jurus buka mulut dulu. Kadang kalau mentok tapi nggak buka-buka juga, sesekali pernah makan sambil kugendong, lalu kubawa jalan-jalan keluar rumah. Tapi cara ini rawan kuman penyakit. Udara terbuka kan banyak debu, bawa bibit-bibit penyakit, belum lagi kalau makanannya dihinggapi lalat. Trus juga, kalau acara makan rutin kayak gini, bisa-bisa jadi kebiasaan anak sampai besar, tiap kali makan minta sambil jalan-jalan. Jangan sampe deh..
Sesekali Raya juga pernah makan sambil nonton vcd film kartun atau vcd apapun yang berhubungan dengan bayi, tapi cara ini juga kurang baik sebenarnya. Konsentrasi anak jadi terpecah antara nonton sama makan. Makanan jadi nggak habis-habis.
Idealnya, acara makan tuh bisa jadi sesuatu yang mendidik dan menyenangkan (istilah kerennya edutainment) bagi batita. Anak makan sambil duduk di tempat makan—kalau bayi biasanya duduk di kereta dorong yang bisa dipakai belajar duduk—lalu kita bercerita bagaimana makanan si kecil dibuat (bahan-bahannya apa saja plus apa manfaatnya buat tubuh) dengan gaya dan penyampaian yang menarik. Jadi selain dapat pengetahuan baru, si kecil juga terhibur. Lebih ideal lagi kalau tiap hari bisa membuat makanan yang bervariasi biar si kecil nggak bosan dan bisa mengenal rasa baru yang berbeda. Aku berusaha menerapkan cara itu sampai sekarang, meski belum berhasil sepenuhnya ;).