delapan bulan kehadirannya

Senyummu secerah mentari

Tatapanmu sesejuk embun pagi

Celoteh dan tangismu semerdu nyanyian surga

Jika ada seseorang yang bisa menguasaiku

Merampas seluruh cinta, perhatian, dan waktuku Itu adalah kau….

Just 4 Raya, From Bunda with love

Ia tertidur lelap dalam dekapanku. Kupandangi bibirnya yang mungil, pipinya yang menggemaskan, matanya yang terpejam damai, kulitnya yang lembut, sungguh, setiap detik ia selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur kepadaNya. Ia membuat hari-hariku lebih berwarna dengan segala kerepotan, kenikmatan, dan kebahagian sebagai ibu baru. Delapan bulan sudah usianya kini. Ia tumbuh menjadi anak sehat dan menyenangkan. Nyaris tak pernah rewel ataupun bermasalah. Hanya sekali pada satu tengah malam di bulan Ramadan ia terjaga semalaman. Tanpa sebab (atau mungkin aku yang nggak ngerti apa yang dia inginkan), ia terus menangis. Tetapi begitu diperdengarkan murotal, ia bisa lelap kembali sampai pagi. Mengenai kerewelan ini, sebenrnya aku telah mengajarkannya sejak dalam kandungan. Setiap hari kukatakan padanya, “Adek nanti kalau udah lahir nggak boleh rewel ya. Ayah sama Bunda jauh dari nenek-kakek, jauh dari keluarga, adek harus ngerti ya. Nggak boleh jadi anak cengeng, harus kuat dan selalu bersemangat, ok?!” Alhamdulillah cara ini ternayata cukup ampuh. Kalau kata orang lain punya bayi itu mengubah pola tidur kita—jadi lebih sering begadang—tidak demikian denganku. Alhamdulillah sampai saat ini jam tidurku tetap normal. Kalaupun aku harus terjaga tengah malam, itu karena si kecil lapar atau haus. Setelah kenyang, dengan sendirinya ia akan tertidur kembali.

Ketika mandi pun si kecil tak pernah meronta. Mandi dengan air hangat atau dingin, dia tetap ceria. No problem pokoknya. Sekali saja dia menangis, yaitu ketika bude dari ayahnya pengen nyoba mandiin dia. Beda tangan beda rasa kali ya.. Memang selama ini aku melakukan semuanya sendiri. Mandiin, bedakin, ganti popok, makan, minum, semua. Ayahnya hanya sesekali saja, kalau sedang nggak ngantor.

Satu lagi yang membahagiakanku, perkembangan motorik dan verbal si kecil tergolong pesat. Usia sebulan ia sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi ‘aneh’ dan bisa tersenyum. Begitu dua bulan, dia sudah bisa merespon orang yang berbicara padanya, menyimak kata-kata yang didengar, lalu berusaha menirunya. Kadang aku membacakan buku untuknya. Lucunya, kalau aku sedang membaca dia ikut bersuara, tapi ketika aku menghentikan bacaanku, ia pun ikut diam. Selain merespon suara, dia juga mulai belajar memiringkan badan, bergerak memutar posisi dari 0 derajat menjadi 45-90 derajat, dan bergerak ke atas.

Usia tiga bulan, ia sudah bisa tertawa lepas kalau ada yang mengajaknya bermain ci-luk-ba, bisa tengkurap tapi belum bisa berbalik sendiri. Begitu empat bulan, ia sudah fasih berguling-guling dan kuat menyangga lehernya. Ia juga sudah pandai menggapai barang apapun yang ada di hadapannya. Nada ocehannya pun semakin bervariasi, kadang ao-ao, nggeee, ya-ya, gyu, kowek-kowek, geeer, dan ok.

Lima bulan berjalan, si kecil senang eksperimen suara. Dia hobi memainkan mulutnya hingga terdengar seperti bunyi kentut, pruuuut, lucu banget. Di usia inilah pertama kali ia bisa mengucap A-y-a-h. Ceritanya, si kecil dan ayahnya sempat pisah selama 4 bulan. Si kecil di Lumajang, ayahnya di Flores. Suatu hari ayahnya sms, bilang kalau ingin pulang ke Lumajang.

“Adek, ayah mau pulang,” jelasku. Seolah mengerti, ia pun meresponku.

“A-yah a-yah,” panggilnya mengejutkanku. Apa aku nggak salah dengar? “A-yah a-yah,” kali ini suaranya lebih kencang. Wah!

Cepat-cepat kuraih hp-ku, kurekam first moment itu di kamera video. Peristiwa-peristiwa seperti ini tak pernah kulewatkan. Aku berusaha memantau sendiri pertumbuhan dan perkembangan si kecil setiap saat. Karena itu sejak lahir kuabadikan apapun tentangnya.

Menginjak enam bulan, si kecil mulai belajar duduk dan merangkak. Waktu itu dia masih setengah hati melakukannya. ‘Kosakatanya’ juga bertambah. Kali ini dia senang mengucap a-ca-ca. Dia juga mulai gemar berteriak-teriak sendiri kalau sedang main. Sebulan kemudian, ia sudah bisa duduk dan merangkak dengan benar. Sesekali juga belajar berdiri sambil berpegangan, kadang pegang kursi, meja, dll. Sekarang si kecil semakin gesit, sampai kuwalahan mengawasinya. Tadinya main di ruang tamu, ditinggal sebentar sudah sampai dapur dan mengobrak-abrik apapun yang dijumpai di perjalanan. Sesekali aku pernah juga lengah mengawasinya sampai nggak tahu kalau ia terjatuh. Si kecil juga sudah mulai belajar berjalan sambil merambat di kursi atau meja. Sengaja tak kubelikan baby walker, karena resiko bayi mengalami kecelakaan sangat tinggi. Selain itu juga nggak baik buat kaki.

Ternyata memang nikmat sekali jadi ibu. Apalagi kalau bisa 24 jam bersama buah hati. Sejak awal aku berkomitmen akan memberi si kecil ASI eksklusif. Bukan hanya selama enam bulan, tapi kalau bisa dua tahun, seperti anjuran dalam Alquran. Toh sementara ini aku belum punya kesibukan di luar rumah. Alhamdulillah sampai detik ini ASI-ku lancar. Jadi nggak ada alasan untuk minta bantuan susu kaleng. Selain hemat, sehat, aman, mudah, juga nggak terpengaruh sama si Enterobacter Sakazaki yang heboh diperbincangkan akhir-akhir ini. Meski ada anjuran untuk mengonsumsi susu kaleng juga selain ASI, aku nggak mau. Keempat anak ibuku termasuk aku nggak ada yang minum susu kaleng, toh sampai semua sebesar sekarang, nggak ada tuh masalah gizi buruk. Makanan si kecil pun sebisa mungkin kubuat sendiri, aku menghindari bahan pengawet yang ada di produk bubur instan. Alhamdulillah BB si kecil selalu sesuai dengan usianya.

Aku ingin mendampingi buah hatiku saat ia melalui masa emasnya. Aku ingin tumbuh kembangnya optimal, sehingga kelak dia bisa menjadi pribadi yang cerdas. Bukan hanya cerdas secara emosi, tapi juga cerdas spiritualnya.

Leave a Reply