Archive for March, 2008

Masa Kecil di Flamboyan

Thursday, March 20th, 2008

Aku menghabiskan sebagian besar masa kecilku di Tempeh, sebuah kota kecamatan di Lumajang. Disana aku tinggal di Jalan Flamboyan. Keluargaku menetap di Tempeh hingga tahun 1991-an. Waktu itu aku sudah kelas 1 MI. Kami pindah sejak nenek dari pihak Ibu sering sakit-sakitan. Nenek ingin Ibu menemaninya.

Selama di Tempeh, banyak sekali kenangan yang tak terlupakan. Ya, masa kecilku bisa dikatakan cukup menyenangkan. Aku punya banyak teman yang baik, yang menuntunku ke jalan kupu-kupu*, yang mengenalkanku pada dunia. Mbak Ulfa, Mbak Nurul, Mbak Okti, Tantri, Mas Dwi, Ido, Novi, Lukman, Aklis, Dilla, dll, mereka adalah teman-teman terbaikku di masa kecil. Tempat bermain favorit kami waktu itu diantaranya adalah rumah Ido (yang waktu itu masih balita), teras mushola Ash-Sholihin yang kebetulan bersebelahan dengan rumahku, rumah Mbak Okti, dan di halaman rumah Mas Afit.

Di rumah Ido yang cukup besar dan mewah itu, kami bisa bermain di kolam ikan, di taman dekat kolam air mancur, di garasi mobil, di teras, bahkan di dalam rumah. Disana biasanya kami main petak umpet, berlari kesana kemari, atau duduk manis di teras sambil baca majalah anak-anak. Meski masih balita, setiap bulan Ido dibelikan majalah oleh Om Rudi, ayahnya. Tentu saja Ido belum bisa membacanya. Ia hanya senang melihat gambar-gambarnya saja. Majalah di rumah Ido yang paling sering kubaca adalah majalah Aku Anak Saleh. Momen ini adalah awal dari kecintaanku membaca. Selain dipinjami majalah, aku juga sering dipinjami mainan. Di rumah Ido kami tidak hanya main sama Ido, tapi juga dengan ayahnya yang senang melucu. Seru banget.

Kalau bermain di teras mushola, kami rame-rame main canthengan, sejenis permainan bola bekel tapi pakai kerikil dengan jumlah banyak. Kebetulan di halaman mushola banyak kerikil. Kalau lagi musim penthilan—main lompat-lompatan pakai tali dari karet gelang warna-warni yang diikat sambung-menyambung—kami juga memanfaatkan teras mushola. Selain itu, kadang kalau mushola sedang dibersihkan, kami suka pura-pura mau bantu ngepel lantai biar diijinkan main prosotan pake air. Karena lantai basah dan licin, tak jarang di antara kami ada yang terjatuh sampai kepalanya membentur lantai. Kalau ada kejadian seperti itu, kami akan saling berkasak-kusuk, “Si Anu tadi pasti didorong sama jin mushola.” Mengada-ada banget ya…. dasar anak kecil, hehe. Begitu selesai prosotan, kami pulang ke rumah dengan baju basah semua. Kadang ortu marah. Tapi kalau langsung mandi dan tidur siang, mereka urung memarahiku ;).

Nah, di halaman rumah Mas Afit yang luas dan bertanah gembur, kami sering memanfaatkannya untuk main rumah-rumahan. Kami bikin rumah-rumahan dari tanah yang masih basah. Biasanya kami mengeruk tanah di bawah pohon belimbing. Kami harus pagi-pagi sekali kalau ingin main rumah-rumahan, karena kalau terlambat, tanah akan mengering dan berwarna putih. Tanah seperti ini akan sulit dibentuk untuk rumah-rumahan. Hanya para cewek yang main rumah-rumahan. Orang-orangan dan pintu rumah-rumahannya dibuat dari lidi yang dipatah-patahkan, sapu ijuknya dari sisa puntung rokok yang tengahnya ditusuk dengan lidi (fungsinya sebagai gagang sapu). Untuk mempermanis rumah-rumahan itu, biasanya kami bikin taman juga di depannya. Tanaman-tanaman di taman bisa pakai bunga belimbing, daun pakis yang masih kecil, lumut yang dikeruk dari dinding, melati, dll. Lalu kami akan berlomba bikin rumah-rumahan paling cantik, indah, dan rapi. Bisa dibilang, rumah-rumahan yang kami buat adalah gambaran rumah impian kami kelak.

Oh iya, kalau sedang bermain rumah-rumahan, kami harus bicara pelan-pelan. Kalau terlalu berisik, kami akan dimarahi yang punya rumah. Pernah suatu hari kami main petak umpet, eh, bapak Mas Afit langsung keluar rumah dan mengusir kami semua ;).

Di rumah Mbak Okti lain lagi. Karena fasilitasnya sangat lengkap dan rumahnya nyaman, kami jadi betah berlama-lama main disana. Kadang sampai orangtua kami pada nyusul, baru kami pulang ;). Disana kami bermain drama ‘bohong-bohongan’, mendengarkan kaset dongeng, membaca Majalah Bobo, nonton video Google (waktu itu Google—superhero serupa Power Ranger sekarang—sedang naik daun), serta melihat Bu Dian (Mama Mbak Okti dan Tantri) bermain organ mengiringi kedua putrinya berlatih menyanyi. Momen inilah awal kecintaanku pada kesenian.

Diantara kami semua, Mbak Okti terbilang cukup berada. Setiap tahun Mbak Okti dan Tantri selalu merayakan ulang tahunnya. Rumahnya yang memanjang ke belakang sering direnovasi, dilengkapi taman yang cantik di dalam rumah, kamar mandinya sangat luas (kami pernah mandi rame-rame disana, sampai bajuku basah trus dipinjami baju ganti sama Mbak Okti ;)). Keluarga Mbak Okti juga cukup baik. Tak jarang kalau tiba waktu makan siang dan kami masih asyik bermain, kami diajak turut makan siang bersama.

Oh iya, disitu juga ada tukang dongengnya lho. Namanya Om Fendik, Omnya Mbak Okti yang tinggal serumah dengan keluarga Mbak Okti. Favoritnya ndongeng yang serem-serem buat kami. Gara-gara dia, kami semua jadi takut keluar rumah malam hari. Kalau Om Fendik sedang mendongeng, kami semua duduk di dekatnya. Lalu dengan intonasi suara dan mimik yang bikin bulu kuduk kami merinding, ia akan mulai berkisah.

“Di jembatan Kali Mujur**, Herlina menunggu mangsa. Hantu perempuan tanpa kepala itu mencari anak-anak kecil yang berkeliaran sehabis magrib. Dan jika dia tak mendapatkan mangsa, ia akan berjalan ke kampung-kampung, termasuk ke Flamboyan…”

Lalu, “Hwaaaa..!!!” kami semua pun berteriak sekencang-kencangnya. Ha ha ha…

Lain waktu kadang ia suka iseng menakuti kami dengan memasang wajah seram—lidah menjulur, mata melotot seperti orang tercekik—sambil berkata, “Adolf Hitleeerrr…. .” Om Fendik penggemar Mak Lampir kali ya… . Meski suka menakut-nakuti, dia sebenarnya orang yang baik dan lucu.

Teman-teman masa kecilku di Flamboyan adalah anak-anak yang manis, nggak ada yang berlabel ‘anak nakal’. Kalaupun kami sedang marahan, kami tidak pernah bertengkar dengan kekerasan fisik seperti menjambak, memukul, melempar batu, dkk seperti anak-anak kecil sekarang. Paling-paling kami akan saling ngeledek dengan nama julukan ayah masing-masing dan saling ancam. Kalau aku mengalami itu, biasanya aku akan lapor ke ayah. “Yah, si Anu tadi ngatain ayah begini,” laporku. Setelah itu, mungkin karena ingin melegakan perasaan anak kecil, ayahku akan berpura-pura mengejar anak yang kuadukan. Meski cuma pura-pura, tak urung teman-teman pun menyebutku sebagai si tukang ngadu. He he…

Kini semua berpencar. Ada juga yang tetap di Flamboyan. Seperti apa ya, mereka sekarang? Terakhir yang kutahu, Mbak Ulfa sudah menikah, Mbak Okti kuliah di poltek Unibraw, Tantri lulus dari SMADA Lumajang. Dimanapun mereka sekarang, semoga mereka tetap mendapat lindungan dariNya.

ket: * dinukil dari puisi Abdurrahman Faiz

      ** sebuah sungai di kecamatan Tempeh

Enid Blyton

Thursday, March 20th, 2008

Tiba-tiba aku ingat Enid Blyton. Dulu sekali pas jaman SD, aku pernah membaca karyanya yang berjenis kumpulan cerpen. Kalau nggak salah judul bukunya Merpati Putih, terbitan Gramedia. Tapi buku itu berlabel ‘milik negara, tidak diperdagangkan’. Buku itu kukenthit (bukan penjam) dari perpus sekolah pas kelas tiga SD. Kenapa ngenthit? Karena waktu itu aku ambil tapi sengaja nggak kukembalikan lagi. Habisnya buku itu bagus banget sih. Trus waktu itu aku cuma mikir, toh aku sekolah disini bayar, skali-kali ‘manfaatin’ fasilitas gratis yang ada gak papa kan? He he…

Karena pengawasan buku yang keluar masuk perpus nggak ketat, jadi aku tambah nyantai aja. Sebenarnya aku punya niat untuk mengembalikan buku itu, tapi lupa-lupa terus sampai akhirnya hilang tanpa bekas setelah rumahku direnov.

Sekarang aku lagi pengeeeeen banget baca buku itu lagi. Kemarin sempat hunting buku-buku lama Enid di TB Gramedia, tapi judul yang bersangkutan gak ada. Kutelusuri situs resmi Gramedia, hasilnya juga nihil. Ada yang bisa bantu aku ngasih info tentang keberadaan Merpati Putih?

brainy baby

Wednesday, March 19th, 2008

Setelah membaca tentang seri Brainy Baby, DVD untuk perkembangan otak bayi, tanpa piker panjang aku langsung hunting ke gramed dan ketemu. Sampai di rumah, DVD itu langsung kuputar. Si kecil Raya kududukkan di kereta bayinya, kupasangkan sabuk pengamannya, lalu dengan mimik serius ia mulai memperhatikan tayangan yang muncul di layar. Wah, Raya melonjak-lonjak kegirangan melihat gambar bayi-bayi menggemaskan yang menjadi model dalam video itu. Dipikirnya itu teman-teman bermainnya.

Kuperhatikan Raya dari dapur –di rumah nggak ada pembantu, jadi semua kuborong sendiri L–kutinggal cuci piring, nyapu lantai,dll, ia tetap duduk manis. Kadang kupergoki ia sedang senyum-senyum sendiri sambil bertepuk tangan, lalu menggumam dengan ocehan yang tak jelas, seolah ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Brainy Baby cukup membantuku membuat Raya bisa duduk dengan tenang. Maklum, sekarang si kecil mulai banyak tingkah. Kini Brainy Baby jadi teman Raya setiap hari. Daripada nonton tivi yang isinya nggak jelas, mending nyetel Brainy Baby.

full smile

Wednesday, March 19th, 2008

Assalamualaikum adek, selamat pagi…

Hmm.. senyum yang indah

Anak sehat, bangun tidur nggak nangis….

Senyuman sepanjang hari buat Ayah dan Bunda

Dari adek yang selalu kuat dan bersemangat

Dari adek yang cerdas dan solihat

Dari adek yang ceria dan bahagia

Sambut cinta dan kasihNya

Lalu tebar di semesta dengan tulus ikhlas

Selamat malam adek, selamat tidur

Lelaplah dengan senyum paling indah

Peluk cium kami untukmu

Ceritakan mimpi semalammu esok hari

Senandung cinta buat Raya

delapan bulan kehadirannya

Wednesday, March 19th, 2008

Senyummu secerah mentari

Tatapanmu sesejuk embun pagi

Celoteh dan tangismu semerdu nyanyian surga

Jika ada seseorang yang bisa menguasaiku

Merampas seluruh cinta, perhatian, dan waktuku Itu adalah kau….

Just 4 Raya, From Bunda with love

Ia tertidur lelap dalam dekapanku. Kupandangi bibirnya yang mungil, pipinya yang menggemaskan, matanya yang terpejam damai, kulitnya yang lembut, sungguh, setiap detik ia selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur kepadaNya. Ia membuat hari-hariku lebih berwarna dengan segala kerepotan, kenikmatan, dan kebahagian sebagai ibu baru. Delapan bulan sudah usianya kini. Ia tumbuh menjadi anak sehat dan menyenangkan. Nyaris tak pernah rewel ataupun bermasalah. Hanya sekali pada satu tengah malam di bulan Ramadan ia terjaga semalaman. Tanpa sebab (atau mungkin aku yang nggak ngerti apa yang dia inginkan), ia terus menangis. Tetapi begitu diperdengarkan murotal, ia bisa lelap kembali sampai pagi. Mengenai kerewelan ini, sebenrnya aku telah mengajarkannya sejak dalam kandungan. Setiap hari kukatakan padanya, “Adek nanti kalau udah lahir nggak boleh rewel ya. Ayah sama Bunda jauh dari nenek-kakek, jauh dari keluarga, adek harus ngerti ya. Nggak boleh jadi anak cengeng, harus kuat dan selalu bersemangat, ok?!” Alhamdulillah cara ini ternayata cukup ampuh. Kalau kata orang lain punya bayi itu mengubah pola tidur kita—jadi lebih sering begadang—tidak demikian denganku. Alhamdulillah sampai saat ini jam tidurku tetap normal. Kalaupun aku harus terjaga tengah malam, itu karena si kecil lapar atau haus. Setelah kenyang, dengan sendirinya ia akan tertidur kembali.

Ketika mandi pun si kecil tak pernah meronta. Mandi dengan air hangat atau dingin, dia tetap ceria. No problem pokoknya. Sekali saja dia menangis, yaitu ketika bude dari ayahnya pengen nyoba mandiin dia. Beda tangan beda rasa kali ya.. Memang selama ini aku melakukan semuanya sendiri. Mandiin, bedakin, ganti popok, makan, minum, semua. Ayahnya hanya sesekali saja, kalau sedang nggak ngantor.

Satu lagi yang membahagiakanku, perkembangan motorik dan verbal si kecil tergolong pesat. Usia sebulan ia sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi ‘aneh’ dan bisa tersenyum. Begitu dua bulan, dia sudah bisa merespon orang yang berbicara padanya, menyimak kata-kata yang didengar, lalu berusaha menirunya. Kadang aku membacakan buku untuknya. Lucunya, kalau aku sedang membaca dia ikut bersuara, tapi ketika aku menghentikan bacaanku, ia pun ikut diam. Selain merespon suara, dia juga mulai belajar memiringkan badan, bergerak memutar posisi dari 0 derajat menjadi 45-90 derajat, dan bergerak ke atas.

Usia tiga bulan, ia sudah bisa tertawa lepas kalau ada yang mengajaknya bermain ci-luk-ba, bisa tengkurap tapi belum bisa berbalik sendiri. Begitu empat bulan, ia sudah fasih berguling-guling dan kuat menyangga lehernya. Ia juga sudah pandai menggapai barang apapun yang ada di hadapannya. Nada ocehannya pun semakin bervariasi, kadang ao-ao, nggeee, ya-ya, gyu, kowek-kowek, geeer, dan ok.

Lima bulan berjalan, si kecil senang eksperimen suara. Dia hobi memainkan mulutnya hingga terdengar seperti bunyi kentut, pruuuut, lucu banget. Di usia inilah pertama kali ia bisa mengucap A-y-a-h. Ceritanya, si kecil dan ayahnya sempat pisah selama 4 bulan. Si kecil di Lumajang, ayahnya di Flores. Suatu hari ayahnya sms, bilang kalau ingin pulang ke Lumajang.

“Adek, ayah mau pulang,” jelasku. Seolah mengerti, ia pun meresponku.

“A-yah a-yah,” panggilnya mengejutkanku. Apa aku nggak salah dengar? “A-yah a-yah,” kali ini suaranya lebih kencang. Wah!

Cepat-cepat kuraih hp-ku, kurekam first moment itu di kamera video. Peristiwa-peristiwa seperti ini tak pernah kulewatkan. Aku berusaha memantau sendiri pertumbuhan dan perkembangan si kecil setiap saat. Karena itu sejak lahir kuabadikan apapun tentangnya.

Menginjak enam bulan, si kecil mulai belajar duduk dan merangkak. Waktu itu dia masih setengah hati melakukannya. ‘Kosakatanya’ juga bertambah. Kali ini dia senang mengucap a-ca-ca. Dia juga mulai gemar berteriak-teriak sendiri kalau sedang main. Sebulan kemudian, ia sudah bisa duduk dan merangkak dengan benar. Sesekali juga belajar berdiri sambil berpegangan, kadang pegang kursi, meja, dll. Sekarang si kecil semakin gesit, sampai kuwalahan mengawasinya. Tadinya main di ruang tamu, ditinggal sebentar sudah sampai dapur dan mengobrak-abrik apapun yang dijumpai di perjalanan. Sesekali aku pernah juga lengah mengawasinya sampai nggak tahu kalau ia terjatuh. Si kecil juga sudah mulai belajar berjalan sambil merambat di kursi atau meja. Sengaja tak kubelikan baby walker, karena resiko bayi mengalami kecelakaan sangat tinggi. Selain itu juga nggak baik buat kaki.

Ternyata memang nikmat sekali jadi ibu. Apalagi kalau bisa 24 jam bersama buah hati. Sejak awal aku berkomitmen akan memberi si kecil ASI eksklusif. Bukan hanya selama enam bulan, tapi kalau bisa dua tahun, seperti anjuran dalam Alquran. Toh sementara ini aku belum punya kesibukan di luar rumah. Alhamdulillah sampai detik ini ASI-ku lancar. Jadi nggak ada alasan untuk minta bantuan susu kaleng. Selain hemat, sehat, aman, mudah, juga nggak terpengaruh sama si Enterobacter Sakazaki yang heboh diperbincangkan akhir-akhir ini. Meski ada anjuran untuk mengonsumsi susu kaleng juga selain ASI, aku nggak mau. Keempat anak ibuku termasuk aku nggak ada yang minum susu kaleng, toh sampai semua sebesar sekarang, nggak ada tuh masalah gizi buruk. Makanan si kecil pun sebisa mungkin kubuat sendiri, aku menghindari bahan pengawet yang ada di produk bubur instan. Alhamdulillah BB si kecil selalu sesuai dengan usianya.

Aku ingin mendampingi buah hatiku saat ia melalui masa emasnya. Aku ingin tumbuh kembangnya optimal, sehingga kelak dia bisa menjadi pribadi yang cerdas. Bukan hanya cerdas secara emosi, tapi juga cerdas spiritualnya.

Sunday, March 16th, 2008

Sejak kecil gadis itu suka membaca dan menulis cerita. Karena kesukaannya itu, ia pernah berangan-angan, kelak ingin kuliah di jurusan yang berkaitan dengan kesukaannya itu. Tetapi ketika ia menyadari keadaan bahwa orangtuanya berpenghasilan sangat pas-pasan dan tidak mungkin bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi, angan-angan itu segera dikuburnya dalam-dalam.

Menjelang ujian akhir SMU, teman-teman sekolahnya yang rata-rata dari keluarga kalangan menengah ke atas sudah mulai sibuk mempersiapkan diri, melanjutkan kemana setelah lulus SMU nanti. Ada yang bingung memilih lembaga bimbingan belajar (bimbel), ada yang aktif mengikuti try out masuk PTN, bahkan ada yang rajin mengikuti tes seleksi awal di sekolah-sekolah kedinasan. Mereka semua terlihat serius.

“Kamu kok santai sih? Memangnya sebentar lagi kamu mau melanjutkan kemana?” Tanya salah seorang teman si gadis suatu hari. Mendengar pertanyaan itu, ia salah tingkah. Gadis itu tak menyangka temannya akan bertanya seperti itu. “Buat apa aku bingung ini-itu tapi nilai ujiannya jeblok. Percuma kan?” jawab si gadis berusaha untuk tetap tenang di hadapan temannya. Padahal waktu itu jantungnya berdetak sangat cepat.

“Betul juga ya,” kata si teman. Gadis lega mendengarnya, karena setidaknya si teman itu tidak akan mencecarnya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain seputar itu.

Sejak saat itu, setiap kali ada pembicaraan yang mengangkat topik tentang perguruan tinggi, bimbel, SPMB, dan sejenisnya, gadis itu berusaha untuk menghindarinya. Baginya, semua itu membuatnya semakin rendah diri dan pesimis menghadapi masa depan. Mendekati ujian, topik itu semakin sering dibicarakan. Setiap hari, guru-guru gencar memberi motivasi, menanamkan kepercayaan diri dan optimisme kepada siswa kelas tiga. Di kelas, diam-diam gadis sering menangis. Rasanya sedih sekali melihat usaha guru-gurunya yang begitu menggebu menyemangatinya, tetapi gadis sendiri tidak mampu mewujudkan harapan-harapan mereka kepadanya.

Gadis itu ingin mengungkapkan semua ini, minimal kepada sang Ayah. Tetapi ia takut, jangan-jangan nasihat Ayahnya nanti malah membuatnya patah semangat. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya suatu malam gadis itu memberanikan diri mengungkapkan kesedihannya itu.

“Bagaimana pendapat Ayah?” tanya gadis setelah bercerita panjang lebar. Kebetulan siangnya, salah seorang gurunya menganjurkan dia untuk mendaftar PMDK ke sebuah PTN di Malang.

“Lebih baik coba ikut seleksi PMDK saja dulu. Seandainya kamu nanti diterima, ayah pasti akan mengusahakan biayanya,” kata Ayah. Gadis itu tidak tahu apakah ucapan Ayahnya itu tulus, atau sekedar menghiburnya. Yang pasti sejak malam itu, meskipun belum tentu kuliah, ia semakin giat belajar. Bagi si gadis yang terpenting saat itu adalah bagaimana caranya agar namanya sebagai seorang alumni kelak meninggalkan kesan yang baik di almamaternya. Ia bekerja keras dan selalu berdoa untuk itu. Seandainya aku tidak kuliah, minimal nilai ujianku harus bisa masuk the best ten. Itu target pastiku, tekad si gadis dalam hati.

Ujian sudah berlangsung tiga hari. Keasyikan mengejar target, gadis itu lupa kalau ia pernah “iseng” mendaftar PMDK, sehingga waktu namanya tercantum dalam surat pemberitahuan yang dikirimkan ke kepala sekolah sebagai salah satu yang lolos seleksi, ia shock dan tidak percaya. Dia diterima di Sastra Indonesia, jurusan yang selama ini diimpikannya!

“Ayah, aku diterima PMDK!” lapor gadis itu pada Ayahnya ketika sampai di rumah. Dilihatnya ekspresi sang Ayah yang biasa-biasa saja. Gadis mulai was-was.

“Bukannya Ayah tidak mengijinkan kamu kuliah. Tapi kalau melihat kondisi keluarga kita yang seperti ini, apa mungkin? Kuliah itu butuh banyak biaya. Masak ayah harus menjual sawah dari nenekmu? Kalau pun sawah itu dijual, mungkin cuma cukup untuk biaya masuk,” jelas Ayah.

“Tapi Ayah kan sudah janji…,” bela gadis.

“Ayah kan cuma bilang, nanti Ayah usahakan biayanya. Ayah sudah berusaha, tapi toh tetap tidak ada biayanya,” sangkal Ayah.

“Kan ada beasiswa, yah. Saya mau berusaha mencari, dan nanti, sambil kuliah saya akan nyambi kerja.”

“Sekarang kamu bisa ngomong seperti ini. Tapi nanti kalau kamu sudah menjalaninya, omonganmu bisa lain lagi.” Gadis sakit hati mendengar kata-kata itu. Seolah-olah selama ini ia pernah membohongi sang ayah. Sedih rasanya, tidak dipercaya oleh Ayah sendiri.

“Yah, kalau kita punya kemauan dan kita berusaha, nanti pasti ada jalan.” Gadis itu merasa suaranya bergetar, karena ia sendiri belum yakin dengan kata-kata itu. Ini adalah alasannya yang terakhir, ia tidak bisa menemukan alasan lagi.

“Nak, kita bukan orang kaya… .” Seketika itu juga persendian si gadis serasa lepas. Ia kecewa, Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa bukan mereka yang jelas-jelas tidak punya keinginan untuk kuliah? Kenapa bukan mereka yang orangtuanya ngotot menyuruh anaknya kuliah demi mempertahankan prestise dan harga diri? Kenapa aku yang benar-benar haus ilmu, tidak boleh sekolah tinggi-tinggi? Keluhan demi keluhan bergulir mengiringi tangisan si gadis di pundak sang Ibu. Rasanya sia-sia ikhtiyarnya selama ini.

“Duh, sayang sekali ya, Bu. Padahal banyak orangtua yang melakukan apa saja agar anaknya bisa kuliah, bahkan ada yang sampai rela mengeluarkan uang berjuta-juta supaya anaknya lulus UMPTN. Eh, ini, anak Ibu yang jelas-jelas sudah diterima, malah nggak diambil,” kata tetangga gadis itu suatu hari ketika ngobrol dengan sang Ibu. Mendengar itu, airmata gadis kembali tak terbendung.

"Sekarang coba dipikir lagi. Sebagai orangtua, kalau kita merasa sudah tidak bisa mewariskan apa-apa kepada anak cucu kita, apalagi yang bisa kita wariskan selain ilmu? Ilmu itu abadi, tapi harta, paling sampai keturunan sekian sudah habis. Jadi untuk apa kita mencari nafkah, kalau bukan untuk menyejahterakan anak-anak kita kelak?" tambah beliau. Dalam hati gadis membenarkan ucapan tetangganya itu.

"Kalau saja anak saya sungguh-sungguh ingin terus sekolah, saya pasti akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Sayangnya, si Fulan itu suka bolos, langganan nggak naik kelas… bla..bla…bla… ." Ya, seandainya saja Ayahnya juga berpikiran seperti itu…

Berhari-hari gadis itu bergelut dengan kekecewaannya. Hingga akhirnya ia sadar, bahwa ternyata selama ini ia kurang ikhlas melakukan segala hal. Aku harus segera bangkit. Aku harus memulai lagi dari awal dengan keikhlasan. Aku akan membuktikan bahwa dimana ada kemauan dan usaha, disitu pasti ada jalan; dimana ada kesukaran pasti ada kemudahan (seperti janji Allah di QS Al Insyirah). Aku yakin dengan janji Allah ini, ucap gadis mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Tiga bulan lagi gadis harus daftar ulang ke PTN itu. Ia segera ingat dengan daftar yayasan penyedia beasiswa untuk mahasiswa yang lolos seleksi masuk PTN melalui jalur PMDK yang ada di majalah Annida. Ia mencoba mengajukan permohonan ke yayasan-yayasan tersebut.

Seminggu setelah ujian akhir, nilai ujian diumumkan di sekolah. Gadis itu sengaja berangkat agak siang, karena semua pasti berebut ingin melihat lebih dulu. Perkiraannya, kalau siang pasti sudah sepi. Gadis melangkahkan kakinya dengan perasaan takut. Ia berusaha mengusirnya, tetapi perasaan itu tetap membuatnya tidak tenang, sampai akhirnya…

"Selamat!" sambut teman-temannya setibanya di depan pintu gerbang. Gadis itu masih tidak mengerti maksud mereka.

"Nilai ujianmu rangking kedelapan sekabupaten!" jelas salah seorang diantara mereka. Alhamdulillah, seketika itu juga gadis itu bersyukur.

"Hayoo.., mana nih, undangan tasyakurannya?" tagih seorang teman dekatnya. "Udah diterima di PT tanpa tes, the best ten lagi. Wah, makan-makan dong..," timpal yang lain.

"Eee, nanti deh, gampang." Gadis itu jadi merasa tak enak dengan ‘todongan’ mereka. Bukannya gadis tidak mau mengadakannya, tapi jangankan tasyakuran, dirayakan dengan keluarga dekat saja belum tentu. Waktu itu, dipikirannya hanya ada satu hal, ia harus segera memanfaatkan keberhasilannya ini untuk mengajukan beasiswa ke Pak Bupati.

Dua bulan berlalu. Alhamdulillah, semua permohonan beasiswa gadis itu dikabulkan. Jumlahnya memang cukup besar, tapi belum bisa mencukupi biaya yang ia butuhkan. Sementara itu, Ayah gadis itu masih tetap dengan pendiriannya. Karena itulah ia sempat tidak saling bertegur sapa dengan beliau selama beberapa hari.

Gadis itu memutar otak sekali lagi, kira-kira bagaimana ya, menutupi kekurangannya? Sepertinya semua yang bisa diusahakan sudah ia lakukan. Ketika pikiran sudah mentok itulah, tiba-tiba salah seorang bibi gadis itu menawarkan bantuannya. Sang bibi ini memang selalu bersemangat membantu saudaranya yang kesulitan. Akhirnya uang itu terkumpul tepat sehari sebelum waktu daftar ulang ditutup. Alhamdulillah…

Keesokan harinya, mungkin karena melihat kegigihan si gadis selama ini, akhirnya hati Ayahnya luluh. Sang Ayahlah yang kemudian mengantarnya ke Malang. Gadis itu menangis. Rasanya terharu dan bahagia sekali mendapat restu dari orangtua.

Selama kuliah, banyak sekali kemudahan-kemudahan yang Allah berikan pada gadis itu. Waktu akan daftar ulang, ia mendapat keringanan biaya masuk sebesar setengah dari biaya keseluruhan yang harus dibayar; setiap tahun mendapat beasiswa; dan sempat menjadi wartawan kampus. Meski uang bulanan dari orangtuanya jauh dari cukup, tapi seolah ada saja rezeki yang datang. Selain dapat honor dari majalah kampus, ia sering dapat honor dari undangan sebagai pemateri diklat jurnalistik. Tulisan-tulisan gadis itu yang dimuat di media massa juga sangat membantu menutupi kebutuhannya. Ia juga sempat memberi les privat untuk anak SD, SMP, dan SMU. Sehingga sebagai mahasiswa, penghasilannya waktu itu terbilang cukup lumayan.

Kini gadis itu percaya, Allah tidak akan memberi masalah tanpa jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya jika kita bersabar. Satu setengah tahun yang lalu gadis itu lulus. Tapi ia belum bisa bernapas lega, karena sebenarnya perjuangannya masih panjang. Ia harus bisa mempersembahkan yang terbaik untuk hidupnya, untuk kedua orangtua, dan terutama untuk agamanya. Semoga kelak gadis itu bisa mencapainya. Amin.

Nokia 3310-ku

Sunday, March 16th, 2008

Seorang teman pernah bertanya padaku, "seandainya ada orang yang pengen nukar hape nokia 3310 kamu dengan hape keluaran baru yang lebih canggih, kamu mau nggak?" Tanpa pikir panjang, kujawab, "nggak mau!"
Ada banyak alasan, kenapa hape yang sekarang dianggap kuno itu kupertahankan. Hape itu punya nilai historis tinggi. Aku harus bersusah payah mendapatkannya.
Nokia 3310 yang sampai detik ini masih ’sehat’ itu kubeli dari hasil keringatku sendiri pada 22 Oktober 2004 silam seharga 400 ribu. Hape itu–meski seken– kubeli dalam kondisi cukup baik, lengkap dengan ces asli dan box-nya. Jauh sebelum itu, aku sangat menginginkan sebuah hape. Meski jelek nggak pa-pa, yang penting bisa dipakai telpon dan sms. Makanya, ketika akhirnya aku bisa beli hape, aku seneeeng banget.
Sebagai mahasiswa yang punya mobilitas tinggi (cie..), aku merasa sangat terbantu dengan adanya hape. Prinsip kerjanya yang memudahkan komunikasi benar-benar aku rasakan.
September 2004, redakturku di Majalah Komunikasi menawariku sebuah side job. "Mau nggak jadi panitia pameran buku internasional? honornya lumayan lo." Mendengar kata honor, tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakannya (maklum, lagi maruk-maruknya, he-he..). Ini kesempatan emas untuk menambah isi dompet yang hampir tiap bulan selalu minus.
Tugasku di pameran itu nggak begitu sulit, cuma bantu-bantu nyari + nglobi sponsor. Kalau gol, tentu saja aku dapat insentif. Lalu pada hari-H pameran, tugasku menjaga meja terima tamu, 1/2 hari 25 ribu plus makanan buat berbuka puasa (waktu itu bulan ramadan), sedangkan even akbar dalam rangka memperingati Lustrum X kampusku itu digelar selama 2 minggu. Total insentif yang kuterima cukup lumayan.
Mungkin karena kecapekan selama 1 bulan kesana kemari nyari sponsor, jaga pameran, + lagi puasa juga, begitu even selesai, aku ambruk selama 1 minggu kena gejala tipus. Tapi ‘penderitaanku’ terbayar. Begitu sembuh, aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, my first mobile! Aku puas bisa membeli sesuatu dari hasil kerja kerasku sendiri.
Sekarang, kalau ingat betapa ngoyonya ‘perjuangan’ku waktu itu buat beli hape, rasanya aku semakin sayang sama–pinjam istilah seorang teman–berhala kecil itu. Uniknya, meski nokia 3310-ku itu sudah berkali-kali jatuh dari ketinggian (bahkan sampai pecah jadi 3) onderdilnya masih ok, gak pernah punya masalah kerusakan serius.
Itulah, kenapa aku nggak mau menjual nokia 3310 itu. Sekarang meski ‘tentengan’ku sudah bukan nokia itu lagi, dia masih ada + masih berfungsi baik.