Menjelang Pulang

Menjelang Pulang

Cerpen: R.F.Dhonna

16 November 2005

Hujan di luar belum reda. Kutelungkupkan wajahku di atas bantal. Apek! Aku baru ingat, sarung bantalnya belum dicuci selama dua bulan.

“Brengsek! Make bareng-bareng, giliran disuruh nyuci, nggak ada yang mau!” Kulempar jauh-jauh bantal tak berdosa itu. Apa bantal di semua kamp unit kegiatan mahasiswa memang seperti ini? Atau jangan-jangan, semua fasilitas umum juga bernasib sama: banyak yang mengakui tapi tak banyak yang mau bertanggung jawab?

Kuurungkan niatku untuk bermalas-malasan. Kunyalakan komputer. Aku ingin menggerakkan jari tanganku yang terasa kaku. Lama tidak menulis. What, nggak nyala? Sialan, listrik mati! Pasti ada pemadaman lagi. Dengan dalih hemat energi, kebijakan pihak rektorat memutuskan untuk menggilir pemadaman listrik dari kamp satu ke kamp yang lain di waktu-waktu tertentu. Padahal ini untuk membatasi gerak mahasiswa, yang kata mereka, mulai banyak tingkah. Kali ini giliran kamp komunitasku yang mengalami pemadaman. Pembunuhan kreativitas!

Kupandang sekelilingku, bocor disana-sini. Menyedihkan. Kamp ini sudah tak layak huni sejak lama. Tapi sepertinya pihak kampus menutup mata tentang hal ini. Kucoba mencari benda-benda yang bisa menampung tetesan air. Nihil. Putus asa, kutaruh kardus-kardus kosong di bawah atap yang bocor, sekedar merembeskan tetesannya.

Hujan semakin deras. Terdengar tawa riang anak-anak di luar

sana

. Kudekati satu-satunya jendela kaca di ruangan berukuran 3×4 meter ini. Kuusap embun yang memburamkan jendela itu dengan kaus kumalku. Anak-anak itu bermain bola, di bawah hujan. Tak peduli kotor, dingin, angin, atau petir. Yang penting bermain dan tertawa bersama. Tidak seperti aku sekarang. Sepi. Tak ada rokok atau secangkir kopi yang biasanya menemaniku diskusi dengan teman-teman sesama aktivis Gerakan Mahasiswa Pendobrak, GMP. Bagi mereka, berkumpul bersama keluarga di hari raya seperti sekarang mungkin lebih menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Bahkan aku tak berani pulang.

Krck…krck….Astaga, perutku! Kurogoh saku celanaku. Hhh, sepertinya bulan ini hutangku pada Mak Dayat, penjual pecel di kantin kampus, akan membengkak tajam. Ah, aku tak peduli seandainya nanti perempuan paruh baya itu mencecarku, kenapa aku tidak pulang kampung. Yang penting kenyang!

“Allahu akbar, Allahu akbar!” panggilan salat ashar berkumandang. Seperti biasa, aku hanya mendengarnya saja.

17 November 2005

Butuh waktu. Aku menyadarinya. Orangtuaku pasti tak pernah berharap anaknya menjadi demonstran. Sejak awal aku kuliah, bayangan mereka hanya satu, melihatku pulang berdasi, atau setidaknya membawa gelar S1 tanpa cacat. Kenyataannya, saat ini kuliahku rehat, berkali-kali berurusan dengan kantor polisi dan birokrasi kampus.

Kucoba yakinkan Ayah bahwa aku tak akan terjun ke dunia politik, hanya, ijinkan aku berproses. Tetap saja, beliau tak sepenuhnya menerima pemikiran-pemikiranku.

Aku sengaja tak meminta pendapat Ibu. Beliau pasti menangis sambil mengatakan, “Ibu tak sanggup jika suatu saat melihatmu pulang tak bernyawa… .” Ah, Ibu. Aktivitasku tak seradikal bayanganmu. GMP bukan gerakan anarkis seperti yang ditulis media

massa

. Yang kau lihat di televisi tempo hari pun hanya kebetulan, bukan sebuah kesengajaan. Justru aparat-aparat keparat itu yang memulai. Aksi damai GMP ternoda kekerasan, menitikkan darah.

“Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya,” ujar Ayah ketika membesukku di hotel prodeo. Aku sempat mendekam di

sana

selama

lima

hari pasca aksi damai menentang kenaikan BBM sebelum bulan puasa kemarin. Tapi akhirnya aku bebas. Aparat tak menemukan bukti andilku pada peristiwa berdarah itu.

Aku sadar sepenuhnya. Dunia yang kutapaki saat ini beresiko mengundang 3B: Bui, Buang, Bunuh. Paling beruntung masuk bui, setengah beruntung dibuang entah kemana, dan yang paling sial, dibunuh. Aku tak peduli. Aku percaya, apa yang aku lakukan masih benar. Mungkin orang lain menganggapku gila, nyari mati. Mereka tak sadar, bahwa memilih atau tidak memilih menjadi seperti sekarang ini, giliranku mati pasti datang.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman sesama aktivis, memberitahuku tentang pemblacklist-an nama kami di kampus. Bahkan data diri kami sudah terdaftar di polres sebagai pengacau. Ah, biarkan saja. Itu tindakan orang sakit hati, bukti nyata arogansi birokrat masa kini. Yang orang tahu, GMP organisasi kiri, condong ke komunis dan identik dengan ateis. Tapi apa mereka tahu kalau selama ini kami mengasuh beratus-ratus anak jalanan dan pemulung, yang katanya dipelihara oleh negara? Setiap sore kami meluangkan waktu untuk mereka. Meski keberadaan mereka dijamin oleh undang-undang, nyatanya mereka tetap terlantar. Ah, kok jadi sok moralis begini? Tidak. Jangan anggap aku hero, karena aku memang bukan pahlawan. Aku hanya jengah melihat banyak ketimpangan yang terjadi di sekelilingku. Tenang saja, Tuhan tidak tidur. Tapi tunggu, Tuhan tidak tidur saja sudah carut marut seperti ini, bagaimana jika ia tidur ya?

18 November 2005

Teman-temanku belum kembali. Aku masih sendiri. Kulongok kamar bedeng tempat kuletakkan barang-barangku, penuh baju kotor bergelantungan. Kalau tidak segera dibereskan, bikin nyamuk kerasan. Aku akan melaundrykan baju-baju ini. Eits, jangan mengira aku banyak uang. Justru akulah potret nyata “mahasiswa perantauan yang kere.”  Tempat kos tidak tetap, makan sering ngutang, bahkan baju juga sering pinjam.

Aku numpang nyuci di rumah Abas, salah satu temanku yang berasal dari dalam

kota

. Kebetulan di rumahnya ada mesin cuci.

“Gimana kabar TA elo?” Tanya Abas. “Meskipun diskors, tetap bimbingan,

kan

?” lanjutnya.

Aku menggeleng, “Pak Buyung ikut-ikutan kesumat padaku.” Jawabku menyebut nama dosen pembimbing tugas akhirku. Pelan kuseruput kopi panas yang dibuatkan ibu Abas tadi.

“Wah, benar-benar menghambat kelulusan,” komentar Abas.

“Biarlah, Bas,” kataku. Toh, aku sudah gagal membuktikan ke adik-adik tingkatku, juga keluarga besarku, bahwa bergabung dengan GMP tak mempengaruhi prestasi akademisku. Apa lagi yang harus aku lakukan? Harapanku serasa semakin jauh…

19 November 2005

Hari ini, hari pertamaku berkumpul lagi dengan anjal dan adik-adik pemulung asuhan GMP. Kurancang acara halal bi halal kecil-kecilan. Kuhibur mereka dengan permainan gitar tuaku. Mereka bernyanyi dengan bersemangat. Bergantian mengalunlah lagu-lagu band papan atas seperti Peterpan, Dewa, Radja…. Sungguh, anak-anak yang luar biasa. Menyenangkan sekali berada di tengah kerumunan mereka.

“Dulah, Yanti, Abdi, dan semua, abang mau tanya, nih. Apa cita-cita kalian kalau sudah besar nanti?”

“Saya pingin dagang sayur keliling,” ungkap Dulah.

“Kalau saya, tukang becak, Bang,” sahut Abdi.

“Aku sopir truk…. !”

Satu persatu anak-anak itu mengutarakan keinginannya. Kerongkonganku tercekat. Mungkin bagi mereka, pekerjaan-pekerjaan itu lebih layak dari nasib mereka sekarang. Tetapi, sebegitu pesimiskah mereka menatap masa depan, hingga tak berani bercita-cita tinggi? Tanpa sadar, butiran bening mengalir dari mataku. Aku tak pernah seperti ini…..

20 November 2005

Aku muak! Apa sih, maksud orang-orang kerdil itu? Pihak rektorat mengeluarkan statemen ke publik bahwa GMP menyebarkan benih-benih komunis di kampus, pernyataan yang sama sekali tidak berdasar. Apa mereka tidak puas dengan mencekal kelulusan aktivis GMP, memblacklist nama kami, memasukkan data-data kami ke kepolisian? Siapa pun yang mengeluarkan pernyataan ini, rektor tetap harus bertanggung jawab!

Aku harus menemuinya sekarang. Kudatangi teman-temanku. Abas, Gunawan, dan Pram segera menggerakkan teman-teman yang lain. Beramai-ramai kami mengendarai motor, mendatangi kediaman rektor. Emosi kami sudah terlanjur meletup-letup.

Di tengah jalan, tiba-tiba turun hujan lebat.

“Bangsat!!!” makiku.

DUAARR!! Kilatan petir menyambar, hampir mengenaiku. Baru saja aku melihatnya jelas, di depan mataku. Seketika itu juga, hujan bertambah deras.

“Astaghfirullah..!” ucapku spontan. Lututku bergetar. Kuhentikan motorku, lalu kubawa menepi. Apa yang terjadi padaku? Sungguh, seperti mimpi, tubuhku masih utuh. Tuhan masih memberiku kesempatan hidup. Padahal jika ia berkehendak, bisa saja petir itu benar-benar merenggutku. Tuhan, maafkan aku.

21 November 2005

Sajadah itu masih tergelar. Ya, hari ini aku mulai salat lagi, rutinitas yang sempat kutinggalkan dua tahun lamanya. Aku merenung panjang. Selama ini aku terlalu sering mendzolimi diriku sendiri, melukai hati orang tuaku, oh…

Aku bertekad untuk pulang besok. Ya, aku harus pulang. Abas, Pram, Gunawan, serta yang lain di kamp GMP, memandangku heran.

“Lo nggak pa-pa

kan

?” tanya Abas. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Ada

telepon buat lo, cepet ke ruang menwa!” Tiba-tiba Aryo muncul.

Aku bergegas ke

sana

. Biasanya orang rumah yang telepon. Kira-kira berita penting apa yang disampaikan? Aku hapal betul, kalau tidak ada yang penting atau mendesak, mereka tidak akan telepon.

Sesampainya di depan ruangan resimen mahasiswa (menwa), kuketuk pintunya perlahan.

“Eh, masuk, Bi!” sambut Yayak, aktivis menwa yang kebetulan sedang berada di dalam.

“Ibumu baru saja telpon. Katanya, semalam Ayahmu terkena serangan jantung. Kamu disuruh cepat pulang…”

Tiba-tiba telingaku berdenging. Aku tak mampu lagi mendengar kelanjutan berita itu.

                                                               

Malang

,

30 November 2005

dimuat di Malang Post edisi Minggu 23 Juli 2006

Leave a Reply