Archive for January, 2007

Wednesday, January 3rd, 2007

It’s Me, Uki!

Cerpen: RF. Dhonna

“Uki pulang..!” teriak Uki kenceng, lalu menggeletakkan sepedanya di garasi dengan serampangan, GRUBYAK! Mendengar suara keras itu, Maminya langsung ngomel-ngomel.

“Ki, hati-hati dong. Pelan sedikit

kan

bisa!”  ujar sang Mami kesal.

“Uki haus, Mi,” timpalnya sambil mengambil segelas jus jeruk dari lemari es.

“Mbak Naya dateng tuh,”  lanjut Maminya kemudian.

“Hah, Mbak Naya? Mana?!”

“Di kamar kamu, lagi bersih-bersih.”

Mendengar itu, Uki segera berlari ke kamarnya, takut Naya mengubah letak benda-benda koleksinya.

“Baru dateng, Ki?” sapa Naya ketika Uki melongokkan kepalanya di pintu. Naya adalah satu-satunya saudara kandung Uki yang sekarang jadi sekretaris di sebuah perusahaan konveksi di

Jakarta

. “Dari mana aja seharian?” lanjut Naya sembari tetap asyik beres-beres. “Kamu selalu ninggalin kamar dalam keadaan berantakan seperti ini, Ki?” lanjutnya lagi.

Uki cuma tersenyum sambil garuk-garuk kepala, nggak nyangka kalau kakaknya yang cantik itu akan menyambutnya dengan pertanyaan itu.

“Lagi libur ya, Mbak?” tanya Uki agak kikuk.

“Nggak.

Ada

tugas dari kantor, biasa, kunjungan ke peragaan busana,” jelas Naya. Kali ini seraya merapikan buku-buku Uki yang berserakan di lantai.

“Berapa hari di rumah?”

“Besok pagi mbak sudah balik kok. Ntar malem temenin mbak ya?”

“Nggak ah, males! Emangnya, peragaan busana apa sih, Mbak?”

“Kebaya.” Jawab Naya pendek. “Oh, iya,” tiba-tiba Naya teringat sesuatu. “Ini oleh-oleh buat kamu.”

Uki menerima bungkusan dari sang kakak, lalu mengeluarkan isinya satu persatu.

Ada

sebuah lipgloss warna pink yang lucu, satu set kosmetik untuk remaja putri, sebuah rok jins biru tua, serta satu stel kebaya motif renda dari bahan organdi berwarna pastel lembut.

“Kata Mami, bentar lagi sekolah kamu mau ngadain lomba kebaya. Makanya, mbak comotin aja satu stel kebaya buat kamu. Bagus,

kan

? Ini desain pertama lo… .”

Uki tak berkomentar. Ia hanya geli membayangkan dirinya memakai kebaya itu. “Sekarang ABG di

sana

lagi gandrung sama rok ini, Ki. Nah, mumpung  rok jins model terbaru ini belum sampai sini, mbak pengen kamu jadi trend setter-nya,” ujar Naya sambil mengepaskannya ke pinggang Uki yang kebetulan sedang berdiri. “Dipakai ya, Ki? Mbak keliling

Jakarta

lo, nyari rok ini.”

Siapa suruh? Emang Uki peduli? batin Uki tidak senang. Uki tahu, kakaknya bercerita panjang lebar seperti itu biar Uki mau memakai rok pemberiannya.

“Kenapa, Ki? Kamu nggak suka?” rupanya Naya menangkap ketaksenangan Uki. Naya menghela napas panjang. “Uki, kamu sekarang udah enam belas tahun. Mbak pengen melihat kamu berubah.”

Uki menunduk, memilin-milin ujung kaos oblongnya seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri mangga. Uki memang berbeda dengan kakaknya yang feminin. Sejak kecil, Uki sangat dekat dengan sang Papi. Setiap akhir pekan, Papi selalu mengajak Uki jalan-jalan, memancing ikan di sungai, latihan memanah, dan sebagainya. Kadang Uki juga sering ikut ke tempat Papinya mengajar karate. Bahkan setiap kali ada genteng yang bocor, Uki selalu ikut naik ke atap. Mungkin kedekatan dengan sang Papi inilah yang membuat Uki sulit bersikap lemah lembut seperti layaknya seorang cewek. Apalagi teman-temannya di sekolah kebanyakan cowok.

“Mbak pengen, sekali iniii… aja, Uki mau nyenengin mbak,” pinta Naya memelas. Uki masih mematung. “Ya udah, mbak nggak maksa. Yang penting, mbak udah ngasih kamu semua ini. Mau dipakai apa nggak, terserah kamu!” cetus Naya kemudian sembari meninggalkan kamar Uki. Uki segera membuntutinya.

Naya menghempaskan tubuhnya ke sofa, meraih remote tv, lalu menekan tombol power. Uki duduk di sebelahnya.

“Mbak, kenapa sih, cewek itu harus dandan. Padahal, nggak dandan pun, namanya cewek itu udah pasti cantik

kan

?” Uki melirik Naya dengan ekor matanya. Naya nggak bergeming. Pandangannya lurus menatap tv di depannya. “Sebenarnya, cewek itu dandan buat apa dan untuk siapa sih, Mbak?” kejarnya.

Uki menarik napas panjang. “Uki nggak pengen dandan, kalau ujung-ujungnya hanya untuk menarik perhatian cowok!” sambung Uki, seolah-olah sedang berbicara sendiri. “Selama ini, temen-temen cewek Uki di sekolah heboh beli produk pemutih, make pelembab wajah, nge-rebonding dan ngitemin rambut, ngeborong segala jenis parfum, karena mereka pengen cowok gebetan mereka ngasih perhatian ke mereka. Uki belum pernah denger, kalau mereka mempercantik diri tuh, untuk dirinya sendiri!” cerita Uki gemas. “Jangan-jangan…, Mbak Naya juga nggak jauh beda dengan mereka, biar Mas Bayu nggak ninggalin mbak. Ya,

kan

?” tebak Uki kemudian.

Naya beralih menatap Uki lama, lalu beranjak dari sofa. Ia terlihat sebal mendengar kata-kata Uki yang blak-blakan.

“Mbak, Uki cuma pengen ngejelasin kenapa Uki nggak mau pake rok… .” mendengar perkataan itu, sontak Naya menghentikan langkahnya. Dipandanginya sang adik lekat-lekat.

“Uki nggak phobia rok atau kosmetik seperti perkiraan mbak sama Mami. Jadi Mbak sama Mami nggak perlu bawa Uki ke psikiater segala. Menurut Uki, pake rok itu ribet, nggak praktis. Uki ngerasa nggak bebas dan nggak aman kalo pake rok. Di mata Uki, cewek pake rok itu terkesan lemah banget. Beda kalo pake celana. Celana bikin cewek keliatan enerjik dan lebih macho. Dengan begitu, cowok-cowok jadi mikir dua kali kalo mau ngusilin cewek.” jelas Uki semangat.

“Ki,” Naya mulai buka suara, “cowok ngusilin cewek itu ada alasannya. Kalau cewek itu nggak kegenitan, nggak kecentilan, mereka nggak bakal usil. Lalu dengan penampilan kamu yang tetap seperti ini, apa kamu nggak takut seandainya cowok-cowok nggak  ada yang mau jadi pacar kamu?”

“Ngapain takut? Yang penting Uki ngerasa nyaman dengan penampilan seperti ini, ngerasa pede dan ngerasa jadi diri sendiri.” Ucapnya mantap, seolah yakin kalau kelak prinsipnya ini nggak akan berubah.

“Uki..,”

“Mbak, pake rok itu bisa memancing terjadinya pemerkosaan. Uki nggak mau diperkosa!” potongnya cepat sambil ngeloyor pergi.

Naya tercengang mendengarnya. Kini ia semakin yakin kalau adiknya memang perlu dibawa ke psikiater secepatnya!

                                                                                   Inspirated by Ayu Utami

                                                                                           Si Parasit Lajang

*dimuat di DETEKSI Jawa Pos dan Buku Teks Bahasa Indonesia kelas X KBK 2006 Erlangga

Perempuan-perempuan Yang Menemuiku

Wednesday, January 3rd, 2007

Perempuan-perempuan Yang Menemuiku   

Cerpen: R.F Dhonna

Seorang ibu termangu di sebuah bangku panjang, tepat di bawah pohon asam. Perempuan itu menanti putrinya pulang sekolah di bawah pohon yang ditanam di samping kanan gerbang sekolah dua puluh tahun yang lalu. Sembari menunggu, ia akan bercakap-cakap dengan beberapa orang pedagang kaki

lima

yang sudah lama dikenalnya akrab, yaitu sejak putrinya yang kini berusia

lima

belas tahun itu baru menjadi siswa sekolah ini. Karena itulah ia keasyikan, tak pernah bosan atau mengeluh, walaupun setiap hari harus antar-jemput putrinya sekolah. Tak hanya sekolah, tetapi juga aktivitas lain. Mulai kegiatan ekstrakurikuler, les renang, les modelling, dan kursus bahasa Inggris. Semua dilakukannya sendiri, tanpa sopir pribadi.

Aku juga termasuk salah seorang yang sering diajaknya bicara. Perempuan itu akan menemuiku di ujung trotoar bila merasa membutuhkanku. Ia akan segera  duduk bersila sepertiku, menatap lalu lalang kesibukan pengguna jalan di hadapan kami, lalu mulai berkisah tentang buah hatinya yang sangat ia banggakan.

“Anak itu mendahului takdir, terlahir sebelum namanya tercatat sebagai penghuni baru di dunia. Aku yakin, karena terlahir sebelum waktunya, malaikat-malaikat di langit pun tak akan bersedia mengawasinya setiap detik. Putriku bukan tanggung jawab mereka. Karena itulah aku harus menjaganya sendiri…,” begitu alasan perempuan itu setiap kali kutanya mengapa ia selalu mengikuti putrinya kemana pun sang putri pergi. “Lagipula, lihatlah, dia tumbuh menjadi gadis yang sempurna. Ibu mana yang tak  khawatir? Bagaimana kalau anak gadisku yang rupawan itu menjadi incaran mata-mata lapar?” tambahnya penuh percaya diri.

Tak heran memang jika putrinya itu tampak menarik. Dahulu perempuan itu juga begitu. Sayangnya ia tak bisa mensyukuri karunia Tuhan itu dengan bijak. Ia begitu terlena, hingga suatu saat perempuan itu terperangkap rayuan seorang lelaki…

*  * *

“Aku tak mengerti, kenapa Ibu bersikap seperti itu padaku. Aku bukan anak kecil lagi!” adu putrinya kepadaku. Seperti ibunya, ia juga sering berbagi denganku. Hampir dipastikan, bekal sarapan paginya selalu ia berikan padaku. Sebenarnya dia bukan dermawan, ia hanya kurang menyukai menu yang dipilihkan sang Ibu. Gadis itu tak menyadari bahwa sikap ibunya itu karena sang Ibu sangat menyayangi dan memperhatikannya, demi kebaikannya sendiri.

“Kata Ibu, aku tak boleh bergaul dengan teman laki-lakiku. Ibu akan selalu menasihatiku seperti ini: hati-hati, laki-laki bisa membuatmu terperosok ke jurang. Apalagi jaman sekarang. Jaman ibu masih muda, perempuan masih bergaul dengan sesama perempuan, dan itu tidak sembarangan. Bergaul dengan laki-laki sama saja melanggar tabu. Ah, Ibu, itu kan pergaulan jaman batu!” sungutnya kesal. Aku terus saja mendengar gerutuannya dengan sabar, meski kadang kurang sependapat. Anehnya, ia tak pernah mengungkapkan keberatannya itu kepada ibunya. Sang Ibu pun begitu, seolah tak peduli. Asal di matanya baik, ia tak perlu berusaha mengerti keinginan putrinya. Mata mereka seolah sama-sama tertutup.

* * *

            “Kau tahu, anak sekarang gemar coba-coba, cenderung berani, bahkan kepada orangtua sekali pun. Sepertinya putriku juga. Padahal selama ini aku sekolahkan dia di sekolah bermutu. Apa pola pendidikan sekolah itu yang salah?” Perempuan itu selalu begitu setiap kali sang putri melawannya, menyalahkan sekolah tempat putrinya menuntut ilmu, bahkan kadang mengambinghitamkan para guru di sana.

            “Tempo hari putriku membawa teman laki-lakinya ke rumah. Kukira teman anakku itu bukan manusia, tapi allien, seperti di film-film buatan Amerika. Tak tahu sopan santun pula. Tahu apa kata putriku? Dia menyebut temannya itu funky. Aku tak tahu apa benar itu namanya. Jika benar, sungguh nama yang aneh.” Cerita perempuan itu panjang lebar. Sesekali ia memuji dan membandingkan si Funky itu dengan pria yang pernah dicintainya setengah mati, meski kini pria itu pergi entah kemana. Meski telah menoreh luka, kebencian, juga dendam di hatinya. Kukira perempuan itu cemburu pada putrinya, karena lebih mencintai laki-laki yang baru dikenalnya ketimbang ibunya sendiri.

Perempuan itu rupanya sedang berusaha menghapus apapun tentang laki-laki di memorinya. Hampir semua pria tak dipercayainya lagi. Ia pun berusaha menanamkan itu kepada putri semata wayangnya itu.

* * *

”Apa benar para malaikat hanya mau menjaga manusia-manusia saleh? Menurutmu, orang-orang sepertiku layak menerima penjagaan mereka atau tidak?” tanya perempuan itu suatu hari. ”Jangan-jangan… orang-orang yang selama ini sering berbuat dosa memang tak pernah dijaga malaikat, hingga setan leluasa menggodanya?” tebaknya. Bagiku, semua itu tergantung keyakinan masing-masing. Jika seseorang yakin malaikat selalu menjaganya, mengawasinya, berada di dekatnya setiap saat, mengikutinya kemanapun ia melangkahkan kaki, dengan sendirinya ia akan terhindar dari bujukan iblis.

”Bagaimana kau ini?! Berarti selama ini kau menyangkaku tak punya keyakinan?” cecar perempuan itu tak puas. Keyakinan orang berbeda-beda, ada yang sedikit yakin, ada pula yang sangat yakin. Iblis mengkikuti keyakinan manusia, jawabku. ”Kau gila!” Akhirnya perempuan itu memakiku. ”Kau pikir kau bisa mendogmaku dengan ajaran-ajaranmu yang ngawur itu? Jangan berbicara lagi, pergi!” bentaknya.

            Aku gila? Apanya yang gila? Apa karena yang kukatakan ini tak bisa menyenangkan hatinya? Atau karena kata-kataku memang tak bisa masuk ke otaknya?

            Suatu hari perempuan  itu kembali menemuiku. Kali ini dengan tampang memohon.

”Katakan padaku, kenapa anakku terjerat narkoba dan terjebak pergaulan bebas? Anakku bunting oleh beberapa lelaki yang tak jelas, lebih parah dariku, padahal mataku tak pernah lepas darinya.” Aku terperanjat mendengar penuturannya. Nasib anaknya tak lebih baik dari nasib sang Ibu. ”Apakah ini salahku sendiri? Apa benar ini karma? Kau bilang di dunia ini tak ada karma, yang ada setiap perbuatan pasti mendapat balasan setimpal. Tapi kenapa seperti ini?” desaknya. Aku ingat, aku juga pernah mengatakan padanya, siapa menanam sesuatu, dialah yang akan menuai hasilnya. ”Kau bohong! Gila!” lanjutnya terus memakiku.

Perempuan itu terus mengoceh, menuturkan kepedihan hatinya, tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Tak apa, lagipula dia sudah menganggapku gila. Jadi apa pun yang aku sampaikan nanti pasti akan sia-sia.

”Kalau sudah seperti  ini, bersediakah malaikat menjaga kami, masih bersediakah Tuhan mengampuni kami?” perempuan itu bertanya lagi. Tuhan Maha Pengampun, jawabku dalam hati. Aku tetap tak mau bersuara, karena dia sudah menganggapku gila. Padahal sebenarnya aku memang gila, sama sepertinya. Kalau kami waras, tak mungkin kami tercatat sebagai penghuni rumah sakit jiwa.

* dimuat di Malang Post edisi Minggu 26 Februari 2006

Seandainya Aku Bukan Ibumu

Wednesday, January 3rd, 2007

Seandainya Aku Bukan Ibumu

Cerpen: R.F.Dhonna

Hingar bingar pesta masih berlangsung di luar sana. Suaranya benar-benar memekakkan telingaku. Aku ingin menghentikannya, tapi aku harus bersabar sampai beberapa hari lagi. Sungguh, jika Tuhan memberiku kekuatan, aku pasti akan segera keluar dari tempat ini! Dan, ugh, apa ini?! Lagi-lagi aku terpaksa meneguk bir hitam yang membuatku mual itu. Ya Tuhan, sampai kapan hidupku begini? Tak ibakah dia melihat penderitaanku selama ini? Jika di tempat ini saja hidupku seperti budak, dibawa pergi kesana kemari, ke tempat-tempat menjijikkan, dipaksa menelan berbutir-butir ekstasi tiap malam, lalu bagaimana nasibku di luar nanti? Bisa-bisa aku hanya jadi borok bagi manusia-manusia di sekitarku. Ah, mungkin untuk sementara waktu , aku memang harus bertahan di ruangan yang pengap dan sempit ini.

* * *

Kenapa aku masih di tempat ini? “Hey, keluarkan aku dari siniii..!!” teriakku sambil memukul-mukul dinding tebal yang mengelilingiku saat ini. Tapi percuma, secepat kilat suaraku memantul kembali. “Hey, keluarkan aku..!!” cobaku sekali lagi. Berulang-ulang kuteriakkan kata-kata itu. Akhirnya aku kalah. Tenagaku, pita suaraku, ah, kenapa tak ada yang mendengarku? Tulikah orang-orang di luar sana? Apakah mereka sengaja membiarkanku terperangkap dalam ruang tanpa cahaya ini? “Habisi dia dengan cara apa pun!” sayup-sayup terdengar suara seorang laki-laki. Kutajamkan pendengaranku. Benarkah suara di luar sana mampu menembus pembatas setebal ini? “Jahanam! Kau tak bisa memperlakukan aku seenakmu.” Kali ini yang kudengar suara wanita. Jahanam? Sepertinya aku sering mendengar kata itu. “Sudah, telan ini! Beruntung kau mendapatkan ini tanpa susah payah!” mendengar kata-kata ini, rasa penasaran akan apa yang terjadi di luar sana segera menguasai benakku. “Kau pikir, dengan barang haram ini, masalah kita bisa selesai?” sejenak, tak kudengar lagi suara mereka. Mungkin sama-sama sedang berpikir. “Setidaknya kau bisa membebaskan dirimu dari masalah ini untuk sementara waktu,” tutur si laki-laki sendu. “Kau gila! Meskipun orang lain menganggapku seperti sampah, tapi hidupku masih berarti, setidaknya untuk janin ini,” balas si wanita sambil mengelus perutnya yang membuncit. Aku merasakan sentuhannya… “Terserah!” suara si laki-laki kembali meninggi, “tapi ingat, jangan sekali-kali datang lagi kepadaku. Camkan itu!” “Bangsat!!!” maki si wanita. Sepertinya laki-laki itu telah pergi meninggalkannya.

* * *

Berhari-hari tak kudengar lagi suara pertengkaran seperti yang terjadi tempo hari. Rupanya, laki-laki itu telah benar-benar pergi. Kini, pil-pil laknat itu telah menjadi santapan harianku. Ia berusaha membunuhku. Dan benar, kian hari tubuhku kian melemah. Rasanya aku tak sanggup jika harus keluar dari tempat ini dengan keadaan remuk redam seperti ini.

* * *

Bayi kurus itu menggeliat, membangunkan tidurku. Aku tak percaya dia anakku, anak yang terlahir dari rahimku. Aku tak tega melihatnya. Bayi laki-laki itu harus menderita karena keegoisanku. Seharusnya aku bahagia dengan kehadirannya. Apalagi kesempurnaan seorang wanita, selain bisa merasakan nikmatnya masa mengandung dan melahirkan? Kuperhatikan raut wajahnya dengan seksama. Kubayangkan, seperti apa dia dua puluh tahun nanti. Oh, aku tak sanggup jika kelak yang ditemuinya hanya sebuah masa depan yang suram. Seharusnya dia terlahir sempurna, rambutnya pekat, matanya bersinar, berdagu belah, bertubuh montok, jari-jarinya lengkap. Tapi karena kebodohanku, semua itu tak terjadi. Bahkan tiba-tiba dia tak tampak seperti bayi, tapi…, wajah itu… , oh… “Aku ingin membunuhnya…!!! Aku ingin membunuhnya.. !!!” teriakku histeris, mengagetkan orang-orang yang sejak tadi menungguiku di luar kamar. Mendengar itu, serta merta orang-orang itu menghambur ke dalam, menjauhkan bayi itu dariku. “Lepaskan aku!” kurasakan orang-orang itu semakin kuat mencengkeram lenganku. Aku ingin merebut bayi itu dari mereka. Lihat, dia tersenyum licik ke arahku! “Dia mengejekku, aku ingin membunuhnya, aku ingin membunuh laki-laki itu, kumohon…!” sekali lagi aku berteriak di sela isak tangisku. Kurasakan suaraku semakin melemah. Tenagaku serasa terkuras. Setiap detik, wajah laki-laki jahanam itu selalu menghantuiku.

* * *

Aku ingat, laki-laki itu pernah memberiku harapan, membangun istana impian di kepalaku, hingga aku tak sadar bahwa semua itu belum terwujud. Tapi aku terlanjur jatuh ke pelukannya. Perlahan dihapusnya bunga-bunga kebahagiaanku yang mulai mekar. Kuncup-kuncupnya pun turut meluruh seiring kepergiaannya setelah ia menanam benih di rahimku. Dia tak mau memetik buahnya bersamaku. Dia mencampakkanku seperti mengibaskan seekor lalat dari boroknya yang membusuk. Aku tak bisa menanggung beban ini sendirian. Aku juga tak mau bayi tak berdosa itu ikut menanggung akibat perbuatanku. Aku menyayanginya. Karena itu aku tak ingin dia bersamaku. Aku tak ingin melihatnya. Dia terlalu suci untuk kubenci, terlalu naïf untuk dijadikan alibi, terlalu berharga untuk dicaci maki. Seandainya dia bukan anakku, akan kubiarkan ia bermain disini, di sampingku. Tapi ternyata dia anakku, dan aku ibunya. Padahal aku tak pernah mengharapkan dia jadi anakku. Inilah ajaibnya hidup. Kadang Tuhan malah memberi sesuatu yang tak pernah kita inginkan. Jika kubiarkan ia bermain disini, ia takkan bisa sebahagia di surga. Aku seorang ibu yang tak punya apa-apa, bahkan kehormatan. Bagaimana aku bisa membuatnya bahagia kelak? Biar dia hidup tenang di sisi Tuhan. Kuraih sebilah pisau di sebelahku. Kubaca doa, kumohon ampunanNya. Ini bukan mauku. Kini akan kuantar kepergian anakku ke surga. Lirih kukatakan, “Tuhan, kukembalikan dia kepadaMu….”

dimuat di Malang Post edisi Minggu 4 Juni 2006

Menjelang Pulang

Wednesday, January 3rd, 2007

Menjelang Pulang

Cerpen: R.F.Dhonna

16 November 2005

Hujan di luar belum reda. Kutelungkupkan wajahku di atas bantal. Apek! Aku baru ingat, sarung bantalnya belum dicuci selama dua bulan.

“Brengsek! Make bareng-bareng, giliran disuruh nyuci, nggak ada yang mau!” Kulempar jauh-jauh bantal tak berdosa itu. Apa bantal di semua kamp unit kegiatan mahasiswa memang seperti ini? Atau jangan-jangan, semua fasilitas umum juga bernasib sama: banyak yang mengakui tapi tak banyak yang mau bertanggung jawab?

Kuurungkan niatku untuk bermalas-malasan. Kunyalakan komputer. Aku ingin menggerakkan jari tanganku yang terasa kaku. Lama tidak menulis. What, nggak nyala? Sialan, listrik mati! Pasti ada pemadaman lagi. Dengan dalih hemat energi, kebijakan pihak rektorat memutuskan untuk menggilir pemadaman listrik dari kamp satu ke kamp yang lain di waktu-waktu tertentu. Padahal ini untuk membatasi gerak mahasiswa, yang kata mereka, mulai banyak tingkah. Kali ini giliran kamp komunitasku yang mengalami pemadaman. Pembunuhan kreativitas!

Kupandang sekelilingku, bocor disana-sini. Menyedihkan. Kamp ini sudah tak layak huni sejak lama. Tapi sepertinya pihak kampus menutup mata tentang hal ini. Kucoba mencari benda-benda yang bisa menampung tetesan air. Nihil. Putus asa, kutaruh kardus-kardus kosong di bawah atap yang bocor, sekedar merembeskan tetesannya.

Hujan semakin deras. Terdengar tawa riang anak-anak di luar

sana

. Kudekati satu-satunya jendela kaca di ruangan berukuran 3×4 meter ini. Kuusap embun yang memburamkan jendela itu dengan kaus kumalku. Anak-anak itu bermain bola, di bawah hujan. Tak peduli kotor, dingin, angin, atau petir. Yang penting bermain dan tertawa bersama. Tidak seperti aku sekarang. Sepi. Tak ada rokok atau secangkir kopi yang biasanya menemaniku diskusi dengan teman-teman sesama aktivis Gerakan Mahasiswa Pendobrak, GMP. Bagi mereka, berkumpul bersama keluarga di hari raya seperti sekarang mungkin lebih menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Bahkan aku tak berani pulang.

Krck…krck….Astaga, perutku! Kurogoh saku celanaku. Hhh, sepertinya bulan ini hutangku pada Mak Dayat, penjual pecel di kantin kampus, akan membengkak tajam. Ah, aku tak peduli seandainya nanti perempuan paruh baya itu mencecarku, kenapa aku tidak pulang kampung. Yang penting kenyang!

“Allahu akbar, Allahu akbar!” panggilan salat ashar berkumandang. Seperti biasa, aku hanya mendengarnya saja.

17 November 2005

Butuh waktu. Aku menyadarinya. Orangtuaku pasti tak pernah berharap anaknya menjadi demonstran. Sejak awal aku kuliah, bayangan mereka hanya satu, melihatku pulang berdasi, atau setidaknya membawa gelar S1 tanpa cacat. Kenyataannya, saat ini kuliahku rehat, berkali-kali berurusan dengan kantor polisi dan birokrasi kampus.

Kucoba yakinkan Ayah bahwa aku tak akan terjun ke dunia politik, hanya, ijinkan aku berproses. Tetap saja, beliau tak sepenuhnya menerima pemikiran-pemikiranku.

Aku sengaja tak meminta pendapat Ibu. Beliau pasti menangis sambil mengatakan, “Ibu tak sanggup jika suatu saat melihatmu pulang tak bernyawa… .” Ah, Ibu. Aktivitasku tak seradikal bayanganmu. GMP bukan gerakan anarkis seperti yang ditulis media

massa

. Yang kau lihat di televisi tempo hari pun hanya kebetulan, bukan sebuah kesengajaan. Justru aparat-aparat keparat itu yang memulai. Aksi damai GMP ternoda kekerasan, menitikkan darah.

“Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya,” ujar Ayah ketika membesukku di hotel prodeo. Aku sempat mendekam di

sana

selama

lima

hari pasca aksi damai menentang kenaikan BBM sebelum bulan puasa kemarin. Tapi akhirnya aku bebas. Aparat tak menemukan bukti andilku pada peristiwa berdarah itu.

Aku sadar sepenuhnya. Dunia yang kutapaki saat ini beresiko mengundang 3B: Bui, Buang, Bunuh. Paling beruntung masuk bui, setengah beruntung dibuang entah kemana, dan yang paling sial, dibunuh. Aku tak peduli. Aku percaya, apa yang aku lakukan masih benar. Mungkin orang lain menganggapku gila, nyari mati. Mereka tak sadar, bahwa memilih atau tidak memilih menjadi seperti sekarang ini, giliranku mati pasti datang.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman sesama aktivis, memberitahuku tentang pemblacklist-an nama kami di kampus. Bahkan data diri kami sudah terdaftar di polres sebagai pengacau. Ah, biarkan saja. Itu tindakan orang sakit hati, bukti nyata arogansi birokrat masa kini. Yang orang tahu, GMP organisasi kiri, condong ke komunis dan identik dengan ateis. Tapi apa mereka tahu kalau selama ini kami mengasuh beratus-ratus anak jalanan dan pemulung, yang katanya dipelihara oleh negara? Setiap sore kami meluangkan waktu untuk mereka. Meski keberadaan mereka dijamin oleh undang-undang, nyatanya mereka tetap terlantar. Ah, kok jadi sok moralis begini? Tidak. Jangan anggap aku hero, karena aku memang bukan pahlawan. Aku hanya jengah melihat banyak ketimpangan yang terjadi di sekelilingku. Tenang saja, Tuhan tidak tidur. Tapi tunggu, Tuhan tidak tidur saja sudah carut marut seperti ini, bagaimana jika ia tidur ya?

18 November 2005

Teman-temanku belum kembali. Aku masih sendiri. Kulongok kamar bedeng tempat kuletakkan barang-barangku, penuh baju kotor bergelantungan. Kalau tidak segera dibereskan, bikin nyamuk kerasan. Aku akan melaundrykan baju-baju ini. Eits, jangan mengira aku banyak uang. Justru akulah potret nyata “mahasiswa perantauan yang kere.”  Tempat kos tidak tetap, makan sering ngutang, bahkan baju juga sering pinjam.

Aku numpang nyuci di rumah Abas, salah satu temanku yang berasal dari dalam

kota

. Kebetulan di rumahnya ada mesin cuci.

“Gimana kabar TA elo?” Tanya Abas. “Meskipun diskors, tetap bimbingan,

kan

?” lanjutnya.

Aku menggeleng, “Pak Buyung ikut-ikutan kesumat padaku.” Jawabku menyebut nama dosen pembimbing tugas akhirku. Pelan kuseruput kopi panas yang dibuatkan ibu Abas tadi.

“Wah, benar-benar menghambat kelulusan,” komentar Abas.

“Biarlah, Bas,” kataku. Toh, aku sudah gagal membuktikan ke adik-adik tingkatku, juga keluarga besarku, bahwa bergabung dengan GMP tak mempengaruhi prestasi akademisku. Apa lagi yang harus aku lakukan? Harapanku serasa semakin jauh…

19 November 2005

Hari ini, hari pertamaku berkumpul lagi dengan anjal dan adik-adik pemulung asuhan GMP. Kurancang acara halal bi halal kecil-kecilan. Kuhibur mereka dengan permainan gitar tuaku. Mereka bernyanyi dengan bersemangat. Bergantian mengalunlah lagu-lagu band papan atas seperti Peterpan, Dewa, Radja…. Sungguh, anak-anak yang luar biasa. Menyenangkan sekali berada di tengah kerumunan mereka.

“Dulah, Yanti, Abdi, dan semua, abang mau tanya, nih. Apa cita-cita kalian kalau sudah besar nanti?”

“Saya pingin dagang sayur keliling,” ungkap Dulah.

“Kalau saya, tukang becak, Bang,” sahut Abdi.

“Aku sopir truk…. !”

Satu persatu anak-anak itu mengutarakan keinginannya. Kerongkonganku tercekat. Mungkin bagi mereka, pekerjaan-pekerjaan itu lebih layak dari nasib mereka sekarang. Tetapi, sebegitu pesimiskah mereka menatap masa depan, hingga tak berani bercita-cita tinggi? Tanpa sadar, butiran bening mengalir dari mataku. Aku tak pernah seperti ini…..

20 November 2005

Aku muak! Apa sih, maksud orang-orang kerdil itu? Pihak rektorat mengeluarkan statemen ke publik bahwa GMP menyebarkan benih-benih komunis di kampus, pernyataan yang sama sekali tidak berdasar. Apa mereka tidak puas dengan mencekal kelulusan aktivis GMP, memblacklist nama kami, memasukkan data-data kami ke kepolisian? Siapa pun yang mengeluarkan pernyataan ini, rektor tetap harus bertanggung jawab!

Aku harus menemuinya sekarang. Kudatangi teman-temanku. Abas, Gunawan, dan Pram segera menggerakkan teman-teman yang lain. Beramai-ramai kami mengendarai motor, mendatangi kediaman rektor. Emosi kami sudah terlanjur meletup-letup.

Di tengah jalan, tiba-tiba turun hujan lebat.

“Bangsat!!!” makiku.

DUAARR!! Kilatan petir menyambar, hampir mengenaiku. Baru saja aku melihatnya jelas, di depan mataku. Seketika itu juga, hujan bertambah deras.

“Astaghfirullah..!” ucapku spontan. Lututku bergetar. Kuhentikan motorku, lalu kubawa menepi. Apa yang terjadi padaku? Sungguh, seperti mimpi, tubuhku masih utuh. Tuhan masih memberiku kesempatan hidup. Padahal jika ia berkehendak, bisa saja petir itu benar-benar merenggutku. Tuhan, maafkan aku.

21 November 2005

Sajadah itu masih tergelar. Ya, hari ini aku mulai salat lagi, rutinitas yang sempat kutinggalkan dua tahun lamanya. Aku merenung panjang. Selama ini aku terlalu sering mendzolimi diriku sendiri, melukai hati orang tuaku, oh…

Aku bertekad untuk pulang besok. Ya, aku harus pulang. Abas, Pram, Gunawan, serta yang lain di kamp GMP, memandangku heran.

“Lo nggak pa-pa

kan

?” tanya Abas. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Ada

telepon buat lo, cepet ke ruang menwa!” Tiba-tiba Aryo muncul.

Aku bergegas ke

sana

. Biasanya orang rumah yang telepon. Kira-kira berita penting apa yang disampaikan? Aku hapal betul, kalau tidak ada yang penting atau mendesak, mereka tidak akan telepon.

Sesampainya di depan ruangan resimen mahasiswa (menwa), kuketuk pintunya perlahan.

“Eh, masuk, Bi!” sambut Yayak, aktivis menwa yang kebetulan sedang berada di dalam.

“Ibumu baru saja telpon. Katanya, semalam Ayahmu terkena serangan jantung. Kamu disuruh cepat pulang…”

Tiba-tiba telingaku berdenging. Aku tak mampu lagi mendengar kelanjutan berita itu.

                                                               

Malang

,

30 November 2005

dimuat di Malang Post edisi Minggu 23 Juli 2006

Wednesday, January 3rd, 2007

Pelajaran Buat Nanda

Cerpen: R.F Dhonna*

“Banguuuun!” teriak Tweety kencang. “Banguuun, Nanda!” serunya sekali lagi. Percuma, Nanda tak bergeming. Tweety berteriak untuk ketiga kalinya, dilanjutkan teriakan keempat, kelima… yup! Nanda mulai menggeliat. Tweety bersorak girang.

Nanda membuka matanya perlahan, lalu dipukulnya Tweety dengan gemas hingga, “AUW!” Tweety terpelanting ke kolong tempat tidur.

“Aduh… sakit…,” ratap Tweety pelan. “Katanya  minta dibangunin jam lima. Udah dibangunin sampai pita suaraku hampir putus, eh, nggak dipeduliin,  malah dapat pukulan lagi. Hu… hu…,” gerutu si pipi gembul itu sambil menangis.

“Ada apa lagi, Ty?” ternyata di kolong itu ada Casio.

“HWA…!” ditanya begitu, tangis Tweety semakin keras. “Aku dipukul lagi, padahal aku sudah menjalankan tugasku dengan baik…,” adunya pada Casio.

“Sudahlah, kamu nggak sendiri. Nasib kita sama, Ty. Kita cuma bisa mengingatkan Nanda. Kalau toh, nanti Nanda mengalami kejadian buruk, itu bukan kesalahan kita. Yang penting, kita sudah mengingatkan,” ucap Casio bijaksana.

“Tapi aku kasihan sama Nanda. Lama-lama dia bisa jadi pemalas.”

“Iya sih, tapi kita bisa apa?” sejenak keduanya berpikir.

“Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran?” cetus Tweety.

“Maksud kamu?” Casio balik bertanya. Tweety segera membisikkan idenya itu ke telinga Casio. Casio tampak manggut-manggut.

* * *

“Kriiiing!” weker di samping tempat tidur Nanda berbunyi. Nanda melonjak kaget. Dengan malas, diliriknya jarum pendek pada jam weker berbentuk kepala boneka Tweety itu. Pukul 05.30. “Ah, masih pagi,” ujar Nanda sambil menarik kembali selimutnya yang melorot ke lutut.

Pukul enam tepat. Nanda membuka mata lagi, tapi kemudian ia kembali bermanja-manja dengan selimut tebalnya itu. Tiba-tiba…

“Nanda, kamu nggak sekolah? Ayo bangun!”

“Masih ngantuk, Ma. Biasanya kan, Nanda bangun jam setengah tujuh,” ujar Nanda sambil melihat jam tangan Casio-nya yang juga menunjukkan angka yang sama dengan yang  dilihatnya pada jam weker.

“Ini sudah siang, Nanda!”

“Ah, Mama. Iya-iya, Nanda bangun!” Nanda segera pergi ke kamar mandi. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya Nanda berangkat dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak antara rumah dengan sekolahnya dekat. Sesampainya di sekolah, Nanda terkejut.

“Pak, Pak Udin, buka pintunya dong, Pak! Nanda ada ulangan, nih!” teriak Nanda dari pintu gerbang. Dengan perasaan tidak sabar, dipukul-pukulnya pintu besi itu berkali-kali.

“Maaf, Mbak, kalau bel masuk sudah berbunyi, pintu gerbang harus dikunci.”

“Iya, tapi ini

kan

belum jam tujuh. Lihat nih,” ujar Nanda sambil memperlihatkan Casio yang terpasang manis di pergelangan tangannya.

“Lho, Mbak Nanda ini bagaimana, wong jam di atas pintu gerbang jelas-jelas menunjuk angka delapan, kok dibilang belum jam tujuh. Jam tangan Mbak tuh, yang minta diservis.” sahut penjaga sekolah itu.

“Yah, Pak Udin,” kata Nanda kecewa. Terpaksa ia kembali pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, Nanda langsung berlari ke kamarnya. Diamatinya jam weker dan jam tangannya dengan seksama. Keduanya menunjuk angka yang sama. Lalu ia melihat jam dinding di ruang tv. Kok nggak sama ya?” batinnya. Melihat keanehan itu, Nanda menemui mamanya di dapur.

Lho, kamu bolos?” sambut mamanya. Nanda menunduk takut.

“Nanda terlambat, Ma,” jawab Nanda pelan, tak berani menatap sang m

Mimpi Evan

Wednesday, January 3rd, 2007

Mimpi Evan

Cerpen: R.F.Dhonna*

Pagi-pagi sekali Evan sudah berangkat ke sekolah. Sebelum bel masuk berbunyi, dia harus sampai kelas. Evan berusaha untuk tidak terlambat lagi seperti biasanya. Dia kapok disuruh meringkas buku. Meski demikian, ternyata hari itu Evan tetap menerima hukuman. Kali ini bukan karena terlambat, tetapi karena tidak mengerjakan pe-er!

”Kamu kok senang sih, dihukum?” tanya Ali, teman sebangkunya.

”Aku lupa, Al,” jawab Evan.

”Lupa atau malas?” tanya Ali sekali lagi. Evan merengut kesal. Ia tak terima jika ada yang mengatainya pelupa atau pemalas. Karena itu, Evan memilih tak menjawabnya. Ia segera pergi ke kebun belakang sekolah, melaksanakan hukuman dari Bu Ratri: mencabuti rumput liar yang tumbuh subur di sela-sela tanaman jahe.

”Huh, kayak tukang kebun saja! Mending disuruh meringkas buku daripada kotor-kotor begini!” rutuk Evan seraya memegang jijik rumput-rumput yang bertanah tebal. ”Ada-ada saja Bu Ratri, bikin peraturan seenaknya!”

Sambil membersihkan rumput yang panjang-panjang itu, Evan terus mengomel. Tanpa disadarinya, berpasang-pasang mata tengah memperhatikannya.

Kenapa sih, harus ada peraturan di sekolah? Yang nggak boleh memakai sepatu selain hitam-lah, nggak boleh telat masuk kelas-lah, harus memakai atribut lengkap, harus mengerjakan pe-er sesuai perintah, harus ini.. harus itu…, ah, aku pusing! Evan merutuk dalam hati. Di saat teman-temannya asyik menikmati jam istirahat di kantin, ia malah harus berpanas-panas di tengah kebun. Parahnya, ia langganan melakukan pelanggaran! Evan lalu membayangkan ia sekolah di SD lain, bukan SD favorit tempatnya belajar sekarang, yang menurut Evan terlalu ketat menerapkan peraturan. Atau, memang dirinya ya, yang bandel?

Tanpa terasa, Evan telah menjalankan hukumannya dengan baik. Mungkin karena capek, pada jam terakhir, ia pun tertidur di bangkunya. Tiba-tiba ia merasa sangat lapar. Dipandanginya sekeliling. Teman-teman yang tadi bersamanya tidak ada.  Dimana ia sekarang? Yang tampak cuma pepohonan dan tumbuh-tumbuhan liar. Evan melihat ke atas, banyak burung beterbangan. Lalu ia mendengar auman serigala di kejauhan. Sontak bulu romanya berdiri. Evan baru menyadari kalau dirinya tersesat di tengah hutan sendirian.

Terdorong rasa lapar, Evan memberanikan diri untuk berjalan. Aha, dia menemukan sebatang pohon pisang yang berbuah sangat lebat! Baru saja Evan akan memetiknya, tiba-tiba secepat kilat seekor kera menyambarnya.

”Hey, itu pisangku, aku yang lebih dulu menemukannya!” teriak Evan.

”Enak saja. Memangnya hutan ini punya ayah-ibumu?” Evan tertegun. Kera ini bisa memahami bahasa manusia, bahkan bisa bicara!

”Tapi kau mengambilnya tanpa permisi,” sahut Evan.

”Ho-ho-ho… anak kecil, ini hutan. Siapa cepat, dialah yang dapat.”

”Apakah seperti itu peraturan di sini?” kening Evan berkerut.

”Kau ini aneh. Penghuni hutan itu tidak pernah mengenal kata peraturan. Bagi kami, yang kuat pasti menang dan yang lemah pasti kalah,” jelas kera itu sambil melahap satu-persatu pisang di tangannya.

”O, begitu. Baiklah. Sekarang biar adil, berikan padaku setangkup,” pinta Evan memelas.

”Enak saja, cari sendiri dong.”

”Tapi… hey, hey, aku lapar!” teriak Evan. Kera itu berlari meninggalkannya.

            Evan berjalan lagi. Tapi ia tak menemukan sama sekali buah-buahan yang bisa dimakan. Sementara itu, perutnya semakin melilit. Ia berhenti sejenak, lalu duduk di dekat semak-semak.

”Auw, kau menduduki tubuhku!” teriak sebuah suara dari balik semak-semak itu. Rupanya seekor kelinci. ”Sedang apa kau di sini? Ini tempatku, pergi! Kau sudah memasuki wilayah kekuasaanku.” kata kelinci dengan angkuh.

”Apa, enak saja, ini wilayah kekuasaanku!” tiba-tiba muncul kelinci lain.

”Apa buktinya kalau ini wilayah kekuasaanmu?”

”Raja hutan baru saja memberikannya padaku.”

”Apa kau bilang? Aku sudah bertahun-tahun tinggal di sini.”

”Kau berani menentang raja? Baiklah, sekarang juga aku akan mengadukan kau!”

            ”Hey, jangan curang. Ini masalah kita berdua, tak perlu melibatkan raja!”

            Evan bingung melihat kedua kelinci itu bertengkar. Akhirnya ia tinggalkan mereka. Aneh, sesama kelinci berebut wilayah yang tak tampak garis batasnya.

            Evan berjalan lagi. Tap-tap-tap…, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Sesosok bayangan mengikutinya. Evan menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Tap-tap-tap…, suara itu terdengar lagi. Dengan sigap Evan menoleh lagi. Astaga, seekor rubah hitam yang terlihat sangat lapar menatapnya tajam!

            Evan mundur beberapa langkah, bersiaga untuk lari. Satu…dua.., UPS, ternyata di belakangnya ada satu rubah lagi! Tubuh Evan bergetar hebat. Kakinya seperti terpaku di tanah. Kedua rubah itu siap menerkam.

            ”TIDAAAAK!!!” Evan terjaga. Ternyata Evan hanya bermimpi. Untung tidak ada pelajaran.

            ”Kamu mimpi apa, Van?” tanya Ali yang sejak tadi duduk di sampingnya.

            Evan menggaruk-garuk kepalanya sambil menguap lebar. ”Menurut kamu, penting nggak, di hutan diberi peraturan?”

            ”Maksud kamu, untuk para perambah hutan, biar nggak berburu binatang dan menebang pohon sembarangan?” Ali menatap Evan heran.

            ”Bukan, tapi untuk penghuni hutan, biar nggak memperebutkan apa pun yang ada di hutan dan bisa tercipta keadilan.” jawab Evan asal. Tubuhnya menyelonjor lagi di atas meja. ”Untung ya, sekolah kita bukan hutan.” sambungnya.

            Ali geleng-geleng kepala tak mengerti lalu meninggalkan Evan yang sepertinya bersiap tidur lagi. Evan cuma melantur, pikir Ali.

*dimuat di majalah GIRLS edisi Juni 2006