Wednesday, January 3rd, 2007
It’s Me, Uki!
Cerpen: RF. Dhonna
“Uki pulang..!” teriak Uki kenceng, lalu menggeletakkan sepedanya di garasi dengan serampangan, GRUBYAK! Mendengar suara keras itu, Maminya langsung ngomel-ngomel.
“Ki, hati-hati dong. Pelan sedikit
kan bisa!” ujar sang Mami kesal.
“Uki haus, Mi,” timpalnya sambil mengambil segelas jus jeruk dari lemari es.
“Mbak Naya dateng tuh,” lanjut Maminya kemudian.
“Hah, Mbak Naya? Mana?!”
“Di kamar kamu, lagi bersih-bersih.”
Mendengar itu, Uki segera berlari ke kamarnya, takut Naya mengubah letak benda-benda koleksinya.
“Baru dateng, Ki?” sapa Naya ketika Uki melongokkan kepalanya di pintu. Naya adalah satu-satunya saudara kandung Uki yang sekarang jadi sekretaris di sebuah perusahaan konveksi di
Jakarta . “Dari mana aja seharian?” lanjut Naya sembari tetap asyik beres-beres. “Kamu selalu ninggalin kamar dalam keadaan berantakan seperti ini, Ki?” lanjutnya lagi.
Uki cuma tersenyum sambil garuk-garuk kepala, nggak nyangka kalau kakaknya yang cantik itu akan menyambutnya dengan pertanyaan itu.
“Lagi libur ya, Mbak?” tanya Uki agak kikuk.
“Nggak.
Ada tugas dari kantor, biasa, kunjungan ke peragaan busana,” jelas Naya. Kali ini seraya merapikan buku-buku Uki yang berserakan di lantai.
“Berapa hari di rumah?”
“Besok pagi mbak sudah balik kok. Ntar malem temenin mbak ya?”
“Nggak ah, males! Emangnya, peragaan busana apa sih, Mbak?”
“Kebaya.” Jawab Naya pendek. “Oh, iya,” tiba-tiba Naya teringat sesuatu. “Ini oleh-oleh buat kamu.”
Uki menerima bungkusan dari sang kakak, lalu mengeluarkan isinya satu persatu.
Ada sebuah lipgloss warna pink yang lucu, satu set kosmetik untuk remaja putri, sebuah rok jins biru tua, serta satu stel kebaya motif renda dari bahan organdi berwarna pastel lembut.
“Kata Mami, bentar lagi sekolah kamu mau ngadain lomba kebaya. Makanya, mbak comotin aja satu stel kebaya buat kamu. Bagus,
kan ? Ini desain pertama lo… .”
Uki tak berkomentar. Ia hanya geli membayangkan dirinya memakai kebaya itu. “Sekarang ABG di
sana lagi gandrung sama rok ini, Ki. Nah, mumpung rok jins model terbaru ini belum sampai sini, mbak pengen kamu jadi trend setter-nya,” ujar Naya sambil mengepaskannya ke pinggang Uki yang kebetulan sedang berdiri. “Dipakai ya, Ki? Mbak keliling
Jakarta lo, nyari rok ini.”
Siapa suruh? Emang Uki peduli? batin Uki tidak senang. Uki tahu, kakaknya bercerita panjang lebar seperti itu biar Uki mau memakai rok pemberiannya.
“Kenapa, Ki? Kamu nggak suka?” rupanya Naya menangkap ketaksenangan Uki. Naya menghela napas panjang. “Uki, kamu sekarang udah enam belas tahun. Mbak pengen melihat kamu berubah.”
Uki menunduk, memilin-milin ujung kaos oblongnya seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri mangga. Uki memang berbeda dengan kakaknya yang feminin. Sejak kecil, Uki sangat dekat dengan sang Papi. Setiap akhir pekan, Papi selalu mengajak Uki jalan-jalan, memancing ikan di sungai, latihan memanah, dan sebagainya. Kadang Uki juga sering ikut ke tempat Papinya mengajar karate. Bahkan setiap kali ada genteng yang bocor, Uki selalu ikut naik ke atap. Mungkin kedekatan dengan sang Papi inilah yang membuat Uki sulit bersikap lemah lembut seperti layaknya seorang cewek. Apalagi teman-temannya di sekolah kebanyakan cowok.
“Mbak pengen, sekali iniii… aja, Uki mau nyenengin mbak,” pinta Naya memelas. Uki masih mematung. “Ya udah, mbak nggak maksa. Yang penting, mbak udah ngasih kamu semua ini. Mau dipakai apa nggak, terserah kamu!” cetus Naya kemudian sembari meninggalkan kamar Uki. Uki segera membuntutinya.
Naya menghempaskan tubuhnya ke sofa, meraih remote tv, lalu menekan tombol power. Uki duduk di sebelahnya.
“Mbak, kenapa sih, cewek itu harus dandan. Padahal, nggak dandan pun, namanya cewek itu udah pasti cantik
kan ?” Uki melirik Naya dengan ekor matanya. Naya nggak bergeming. Pandangannya lurus menatap tv di depannya. “Sebenarnya, cewek itu dandan buat apa dan untuk siapa sih, Mbak?” kejarnya.
Uki menarik napas panjang. “Uki nggak pengen dandan, kalau ujung-ujungnya hanya untuk menarik perhatian cowok!” sambung Uki, seolah-olah sedang berbicara sendiri. “Selama ini, temen-temen cewek Uki di sekolah heboh beli produk pemutih, make pelembab wajah, nge-rebonding dan ngitemin rambut, ngeborong segala jenis parfum, karena mereka pengen cowok gebetan mereka ngasih perhatian ke mereka. Uki belum pernah denger, kalau mereka mempercantik diri tuh, untuk dirinya sendiri!” cerita Uki gemas. “Jangan-jangan…, Mbak Naya juga nggak jauh beda dengan mereka, biar Mas Bayu nggak ninggalin mbak. Ya,
kan ?” tebak Uki kemudian.
Naya beralih menatap Uki lama, lalu beranjak dari sofa. Ia terlihat sebal mendengar kata-kata Uki yang blak-blakan.
“Mbak, Uki cuma pengen ngejelasin kenapa Uki nggak mau pake rok… .” mendengar perkataan itu, sontak Naya menghentikan langkahnya. Dipandanginya sang adik lekat-lekat.
“Uki nggak phobia rok atau kosmetik seperti perkiraan mbak sama Mami. Jadi Mbak sama Mami nggak perlu bawa Uki ke psikiater segala. Menurut Uki, pake rok itu ribet, nggak praktis. Uki ngerasa nggak bebas dan nggak aman kalo pake rok. Di mata Uki, cewek pake rok itu terkesan lemah banget. Beda kalo pake celana. Celana bikin cewek keliatan enerjik dan lebih macho. Dengan begitu, cowok-cowok jadi mikir dua kali kalo mau ngusilin cewek.” jelas Uki semangat.
“Ki,” Naya mulai buka suara, “cowok ngusilin cewek itu ada alasannya. Kalau cewek itu nggak kegenitan, nggak kecentilan, mereka nggak bakal usil. Lalu dengan penampilan kamu yang tetap seperti ini, apa kamu nggak takut seandainya cowok-cowok nggak ada yang mau jadi pacar kamu?”
“Ngapain takut? Yang penting Uki ngerasa nyaman dengan penampilan seperti ini, ngerasa pede dan ngerasa jadi diri sendiri.” Ucapnya mantap, seolah yakin kalau kelak prinsipnya ini nggak akan berubah.
“Uki..,”
“Mbak, pake rok itu bisa memancing terjadinya pemerkosaan. Uki nggak mau diperkosa!” potongnya cepat sambil ngeloyor pergi.
Naya tercengang mendengarnya. Kini ia semakin yakin kalau adiknya memang perlu dibawa ke psikiater secepatnya!
Inspirated by Ayu Utami
Si Parasit Lajang
*dimuat di DETEKSI Jawa Pos dan Buku Teks Bahasa Indonesia kelas X KBK 2006 Erlangga