Menghitung Hari
Wednesday, June 14th, 2006Sepertinya baru tempo hari aku dipangku ibu, baru kemarin sore aku digendong Ayah, baru tadi pagi ibu menyuapiku sarapan sambil menyiapkan seragam sekolahku. Rasanya juga, baru beberapa jam lalu aku menggelayut manja pada mereka, merengek meminta menemani petualanganku ke alam mimpi. Senin. Selasa. Januari. Februari. 1985. 1995. 2001. 2006…. Kulangkahkan kakiku di jalan yang telah digariskanNya. Bermetamorfosa. Dari bayi yang hanya bisa menangis, anak-anak yang sering merepotkan dan berbuat ulah, remaja yang tak jarang menjengkelkan hati orangtuanya. Hingga, saat ini kujelang detik-detik perubahan, menuju sebuah titik pada fase hidup selanjutnya. Mungkin, menjadi wanita dewasa. Yang mengemban lebih banyak lagi tanggung jawab.
Tiba-tiba, 8 Juli besok, insya4JJI akan kujalani sebuah hidup baru. Benar-benar baru. Karena akan ada orang lain yang mendampingiku mengeja waktu. Menjejak langkah. Menggoreskan sejarah. Membangun peradaban. Merajut bersama cita-cita, menuju cinta-Nya. Berbagi. Memberi. Saling mengisi. Dia, seorang laki-laki yang dulu bahkan bukan siapa-siapaku.
Tidak ada yang bisa menduga, kapan sebuah rencana dikabulkanNya. Alhamdu4JJ, rencana awal tahun terwujud dengan sangat mudah. Aku tak percaya Dia membuka jalan ini begitu lebar, hingga aku leluasa melaluinya. Tak henti ku ucap syukur. Berkali-kali. Mungkin Dia melihat ada sebuah tekat kuat dan niat tulus di hatiku.
Kata orang-orang di sekitarku, episode hidupku happy ending. Happy ending? Kurasa ini belum ending. Kisah ini bukan film India. Begitu tokoh utama menikah, tamat. Setelah ini, mungkin tantangan akan lebih besar, beban hidup akan bertambah berat, masalah akan semakin banyak. Karena itulah, lebih baik ditanggung dua kepala, insya4JJI lebih ringan.
Aku ikhlas menyatukan hidupku dengan hidupnya. Aku yakin, jika ikhlas, Dia akan melimpahiku rahmat dan nikmat-Nya sebanyak dua kali lipat, seperti janji-Nya. Kuredam ketakutan-ketakutanku. Mempertimbangkan perasaan ini, semakin membuatku ragu. Bismillah. Nawaitu. Yang penting niatku baik. Meraih Mardhotillah. Untuk apa hidup jika apa yang kulakukan selama itu tidak diridoi-Nya?
Jumat. Sabtu. Minggu. Senin… Tinggal beberapa hari lagi. Menikah adalah ibadah. Jika sudah waktunya: mau, mampu, dan siap, buat apa ditunda? Masih ingin berkarir? Sudah berkeluarga pun masih tetap bisa berkarir. Masih ingin senang-senang menikmati masa lajang? Memangnya kalau sudah bersuami tidak bisa bersenang-senang? Takut kekurangan rizki? Sudah jelas kok, di QS An Nur 32 “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin 4JJI akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan 4JJI Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha mengetahui.” Tepis kekhawatiran. Optimis saja.
Untuk teman-teman, sahabat, dan saudara-saudaraku yang telah mendoakan kami, terimalah ucapan tulus dari hati kami: TERIMA KASIH…..