Archive for April, 2006

Berakhir Sudah

Monday, April 3rd, 2006

Akhirnya saat ini datang juga: masa PPL-ku di SMP Sriwedari (sebuah SMP swasta di Malang) selesai. Rasanya legaaa… banget. Sabtu (1/4/06) lalu pamitan ‘n perpisahan sama guru-guru. Sama para siswanya hari Rabunya. Lazimnya sebuah peristiwa perpisahan, momen itu pun diwarnai keharuan dan isak tangis.

“Bu, kok cuma dua bulan seh, males diajar Pak Sugeng lagi, mboseni, jangan pergi dulu ta..,” rengek seorang ‘muridku’ sambil mengomentari guru Bahasa Indonesia yang asli di sekolah itu.

“Bu, enakan ibu yang ngajar, daripada pak Sugeng, sering ditinggal, jarang diterangkan..,” komen yang lain.

Aku cuma tersenyum. Ya nggak bisa kalo ibu disini terus, ibu bisa gila, setiap hari stres… batinku. Gimana nggak stres, tiap hari berhadapan dengan anak-anak ‘bermasalah’ yang selalu bikin ulah. Emang gak smua gitu, tapi mayoritas. Aku aja kaget waktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas 3A & 3B. sambutan mereka ‘luar biasa’ (apalagi 3B yang terkenal sarangnya trobel maker). Awalnya aku bisa nahan untuk pasang tampang angker, dikit-dikit taksenyumin ‘n kalo ada yang nyoba jail taknasehatin dengan suara pelan dan lembut. Tapi setelah dua minggu jalan (dengan pertemuan senin sampe kamis di dua kelas), mereka mulai bikin hatiku ‘gatal’, aku nggak tahan untuk nggak mbentak, hingga suatu hari, terpaksa kulayangkan penghapus papan tulis ke deretan belakang (di 3B) dan hampir nampar (di 3A). gregetan banget sih! Ternyata gini rasanya dicuekin murid. Mungkin ini juga ya, yang dirasain guru-guruku dulu waktu aku bergurau pas beliau lagi serius menerangkan pelajaran (Pak-Bu-maap…).

Selanjutnya aku nggak berani marah, tapi langsung aku tawarin, “yang nggak ingin ikut pelajaran, silakan keluar, ibu nggak maksa kalian ikut. Daripada di kelas ngganggu teman yang lain. Ibu hanya bersedia mengajar anak-anak yang serius ingin lulus ujian, bla..bla..bla…,”. ujung-ujungnya jadi nggak ada yang mau keluar, tapi aku keluarkan paksa karna tetep bikin ulah. Kalo nggak gitu, terpaksa nama anak yang bersangkutan aku catet di buku tata tertib siswa buat laporan ke guru BP. Aku nggak punya jalan lain untuk ngatasin mereka…

Ternyata bukan cuma aku yang mengeluhkan kenakalan anak-anak Sriwedari, tapi semua mahasiswa PPL! Menghadapi anak-anak ‘luar biasa’ ini,aku sering mengelus dada. Mereka miskin sopan santun, sekolah cuma dianggap beban, belajar males, pengennya maeee…n ‘n nyantaiiiii mulu. Ok aku maklum, mungkin jenuh karna mau UNAS. Tapi mereka terlalu. Aku sampe bingung, gimana melukiskan keterlaluan mereka.

Gara-gara sering jutek di kelas, pas aku minta saran kritik di selembar kertas, banyak yang kasih komen kalo aku mahal senyum, bahkan ada yang bilang aku galak dan pemarah (asli, nulisnya pake huruf besar, pake tanda seru pula—ini adalah komen anak-anak yang dendam karna sering tak omelin, HA ha…) tapi banyak juga yang komen, “Bu Dhonna itu guru yang paling lucu, imut ‘n nggemesin (mosok seeehhhh?), kalo ngajar sersan, penjelasannya gampang dimengerti, sabar ngadepin kita-kita yang banyak tanya, tapi kalo marah nakutin…,” ha ha ha.. ! (lagi-lagi aku pengen ketawa).

Sebenarnya rata-rata mereka mengaku ingin jadi orang sukses, pengen pinter ‘n nyenengin ortu, dan dalam waktu dekat pengen lulus ujian dengan nilai memuaskan. Ini terbukti waktu aku tugasi bikin karangan bertema “Rencanaku setelah lulus SMP.” Nggak ada yang nggak punya cita-cita mulia. Aku sampe terharu baca tulisan-tulisan itu (tepatnya kasian, karena dengan keinginan-keinginan besar itu mereka masih bingung dan nggak tau gimana cara meraihnya). Aku yakin mereka sudah berusaha, tapi usaha mereka masih kalah dengan ketakberdayaan mereka menghadapi keadaan dan kenyataan di sekitar mereka (Bersyukurlah kita yang selamat, yang sampai detik ini berhasil mengatasi ‘godaan-godaan’ masa ABG, yang selangkah demi selangkah terus maju ke arah cita-cita masa kecil kita….). kadang, diam-diam aku membayangkan, kira-kira sepuluh tahun lagi mereka jadi apa ya? Aku sempat membandingkan anak-anak Sriwedari dengan teman-teman SMPku dulu dari segala sudut. Hasilnya jauuuh banget (bukane sok nyombong loh). Apa karena kultur lingkungan mereka yang ‘sekolah swasta’ ya? Apalagi ini swasta perbatasan antara kelas atas dan menengah. Ada benarnya juga sih. Dari jaman dulu, produk ‘dalam negri’ dan ‘luar negri’ memang beda, CENDERUNG lebih bagus ‘dalam negri’. Wajar kalo aku kaget, nggak pernah ngerasain sekolah /punya temen di ‘luar negri’ sih.

Btw, dua bulan praktek ngajar di Sriwedari, bikin aku ngerti bahwa jadi guru tuh nggak gampang , harus sabaaaaaaaaaaaaaaa…r banget (aku jadi pikir-pikir lagi buat milih profesi ini), tanggung jawabnya juga guedhe banget. Setiap hari mikirin cara, gimana yang baik nggak ketularan yang buruk, gimana yang buruk berubah jadi baik, dan gimana yang sudah baik bisa lebih baik lagi. Masalah gaji guru yang katanya kecil.., nggak munafik sih, ini juga jadi pertimbangan alasan, kenapa banyak guru yang nggak berhasil bekerja secara profesional. Tapi…. Aku ingat kata pak Ripto (salah satu staf guru)… “Siapa bilang gaji guru kecil? Buesar lho, surga! Saya ini ya, selama jadi guru, berkali-kali dapat ungkapan terimakasih dari mantan-mantan murid saya: ketemu di angkot tahu-tahu ongkos saya sudah dibayar, ngantri bayar listrik tiba-tiba didahulukan, makan di warung tau-tau gratis… jangan kuatir, gaji guru itu besar, melebihi pekerjaan lain, datangnya tidak dari 1 arah, tapi dari segala arah, dalam berbagai waktu dan kesempatan. Kuncinya satu: pengabdian.”

Hmm… akan saya pertimbangkan, Pak…