lebih dari yang kuminta
December 3rd, 2008 by cerpenqTuhan, sungguh, karunia ini sangat besar, begitu juga tanggung jawabnya. bantu aku menjalani semua ini…
Tuhan, sungguh, ini lebih dari yang kuminta…
Tuhan, sungguh, karunia ini sangat besar, begitu juga tanggung jawabnya. bantu aku menjalani semua ini…
Tuhan, sungguh, ini lebih dari yang kuminta…
Ia sosok yang biasa saja, sederhana, tapi prestasinya menurut saya sangat luar biasa. Ia sadar betul, sebagai manusia, bagaimanapun keadaannya, harus tetap bisa mensyukuri apapun pemberiannya. Karena itu, meski mempunyai kekurangan fisik (semasa kecil, karena sakit tiba-tiba kedua kaki dan tangannya menjadi tak berfungsi sebagaimana mestinya), ia tetap menjalani hidup seperti manusia normal lainnya, berusaha untuk berprestasi dengan segala potensi yang dimiliki, berguna untuk orang lain.
Saya mengenal sosoknya beberapa tahun lampau, ketika saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya kelas berapa saya lupa. Tanpa sengaja saya membaca profinya sebagai seorang ‘penyandang keterbatasan fisik’ yang memotori berbagai organisasi di dalam dan luar negeri, memperoleh penghargaan ini itu, yang juga seorang sastrawan. Saya tergetar membaca kisahnya, apalagi ia tinggal di Malang, kota yang tak jauh dari kampung halaman saya. Saya kagum, menyadari ada seorang perempuan yang secara fisik jauh dari kata istimewa tapi prestasinya sangat istimewa.
Saya tak pernah bermimpi bisa bertemu dengannya suatu hari kelak, apalagi bisa berbincang akrab di rumahnya yang asri, tak pernah sekalipun. Hingga satu persatu kesempatan itu datang…
Saya diterima di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang) tahun 2002. Ketika sebagai mahasiswa saya dituntut aktif berorganisasi agar mendapat beasiswa, saya memilih berkecimpung di organisai kepenulisan (karena saya begitu mencintai pekerjaan menulis), yaitu di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP). Banyak hal yang saya peroleh disana, teman-teman yang penuh semangat, kepercayaan diri, ilmu, dan kesempatan-kesempatan.
Di awal-awal jadi mahasiswa, saya membaca tentang perempuan itu lagi. Membaca karya-karyanya yang bertebaran di majalah wanita pun menjadi lebih sering. Kali ini saya lebih tergetar, saya merasa lebih dekat dengannya, karena sekarang saya menetap di Malang.
Suatu hari, saya membaca agenda budaya minggu ini di sebuah koran terkemuka di Jawa Timur, ada sebuah acara diskusi yang pembicaranya adalah perempuan itu. Acara itu sendiri diadakan di gedung dekat rumah saudara saya di Surabaya. Wah, kebetulan, agenda acara itu bertepatan dengan waktu ketika saya berlibur ke Surabaya. Saya berniat datang. Hanya untuk melihat perempuan itu dari dekat.
Hari itu tiba. Pertama melihatnya secara langsung, saya terkesan. Perempuan sederhana itu begitu berwibawa di mata saya, begitu berkarisma. Tanpa sadar saya menitikkan air mata, bukan karena iba melihat kondisi fisiknya yang hanya bisa duduk diam di atas kursi roda, tapi karena kekaguman pada sang pencipta. Subhanallah, Dia memang tak pernah menciptakan sesuatu di muka bumi ini dengan sia-sia… Dia tampakkan banyak kelebihan dibalik kekurangan…
Saya menyimak kata-katanya yang bermakna, menikmati kecerdasannya, saya terbuai. Dan ketika sadar, semangat positif yang ditularkan olehnya telah merasuki batin saya. Perempuan itu telah menginspirasi saya untuk menulis dan tetap menulis, dalam kondisi apapun, sampai kapanpun, hingga mata tak mampu lagi untuk menulis…
Ya, kenyataannya, meski tangannya (yang seharusnya digunakan untuk menulis) tak berfungsi dengan baik, ia tak menyerah. Ia tetap menulis dengan mata, hati, pikiran, dan mulutnya. Perempuan itu tinggal bercerita, asisten pribadinya yang akan membantunya mengetik di komputer.
Setelah pertemuan pertama itu, saya kecanduan bertemu dengannya, menatapnya ketika berbicara, dan mendengar petuah-petuah saktinya. Setiap ada kegiatan di dalam maupun di luar kampus yang melibatkan namanya, saya selalu berusaha untuk datang. Pesonanya telah terlanjur menghipnotis saya.
Saya ingin sekali menyapanya, berbincang dengannya walau sepatah duapatah kata, tapi saya tidak berani. Bahkan kadang bingung, apa yang ingin saya bicarakan nanti. Entah kenapa. Tetapi suatu hari akhirnya saya terpaksa harus bertemu dengannya, bertanya jawab dengannya tentang suatu fenomena. Waktu itu saya menjadi reporter di tabloid kampus. Redaktur memerintah saya untuk mendatangi perempuan itu di rumahnya, mewawancarinya. Mau tidak mau saya harus mencari bahan pembicaran, mendata pertanyaan terkait dengan masalah yang akan ditanyakan. Persiapan saya nggak main-main, karena yang akan saya hadapi adalah seorang sastrawan kenamaan, yang bisa saja memperlakukan saya seperti reporter amatir yang bau kencur dsb. Ngeri juga membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
Lalu, mulailah saya membuat janji dengan perempuan itu, meneleponnya dan menanyakan kapan punya waktu luang. Diluar dugaan saya, sambutannya begitu ramah dan hangat. Ia bahkan menanyakan nama saya (bukan nama tabloid yang mmenugaskan saya). Setelah menelpon berkali-kali untuk mencari jadwal yang pas, akhirnya suatu sore saya bisa berbincang panjang lebar dengannya. Obrolan kami mengalir bukan seperti wawancara antara wartawan dengan narasumber, tapi seperti obrolan antar teman yang akrab. Saya jadi tak sungkan curhat tentang menulis. Ditemani secangkir teh dan sepiring kue, kami ngobrol berjam-jam. Saya menyerap wejangan-wejangannya tentang kehidupan. Kekaguman saya bertambah…
Perempuan itu telah menginspirasi saya. Perempuan itu adalah Ratna Indraswari Ibrahim…
Ada yang beda dari mudik tahun ini, untuk pertama kalinya aku merasakan pengalaman kehilangan barang sewaktu naik pesawat. Lucunya, barang yang hilang itu nilainya nggak terlalu berharga, yaitu sebuah jilbab warna biru (kotor pula) dan compact disc berisi foto-foto anakku yang terbaru. Nggak jelas yang ngambil petugas bandara atau petugas maskapai pesawat yang kutumpangi, yang pasti barang itu kutaruh di tas ransel yang masuk bagasi.
Dari bandara Sepinggan-Balikpapan ke Juanda-Surabaya kemarin kami sekeluarga naik pesawat mandala. Selama ini sih, nggak pernah kehilangan apapun kalo naik pesawat, jadi tenang-tenang aja nyimpen barang. Eh, pas sampai rumah, ngecek barang bawaan kok ada yang hilang? Selain dua barang remeh temeh yang hilang tadi, di tas yang sama ada sebuah kado yang terbungkus rapi yang akan kuberikan ke ponakanku yang baru lahir. Dah capek-capek bungkus, eh, ternyata jadi korban tangan jahil juga di bandara, pinggirnya ada yang nyobek!
Meski peristiwa yang kualami nggak seberapa dibanding dengan pemudik lain yang konon ada yang kehilangan hp, perhiasan, bahkan barang sekoper, kejadian ini tetap nggak bisa dibiarkan. Barang-barang kecil kalo dikumpulkan nilainya jadi besar. Sebenarnya sudah banyak kasus pencurian barang kayak gini, tapi aku baru pertama kali ini mengalami sendiri. Meski sudah berkali-kali terjadi, tapi kok terulang terus ya? Apa petugas kepolisian kurang serius menanggapi laporan kehilangan para penumpang pesawat? Buat teman-teman, kalo naik pesawat, jangan taruh barang berharga di bagasi, bawa aja, trus tas yang dimasukkan bagasi sebaiknya dikasih gembok risletingnya, biar nggak ada tangan-tangan nakal yang ngembat barang kita.
kupukupu bulan
bulan kitarilah kupukupuku
rasakan semerbaknya
kutunggu kau mengecup madu bunga itu
bulan kupukupu
pelangi gantikan langit muram
bulan menyembul di balik awan taman
angin membawa terbang bulan bersama kupukupu
aku melihat surga menggantung di atasnya
Siang itu, para guru laki-laki asyik ngobrol tentang sahur di bulan puasa. Sambil menikmati makan siang di kantor, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba mengalirlah bahasan tentang poligami. Diam-diam aku menyimak pendapat mereka satu persatu. Rata-rata setuju, dan mereka kompak berpegangan pada sebuah ayat di Alquran yang menyatakan bahwa laki-laki boleh beristri lebih dari satu.
“Kalau saya, dari awal saya bilang ke istri, ini ada ayat yang mengatakan seperti ini. Nanti seandainya itu terjadi pada saya, kamu harus siap,” ucap seseorang diantaranya. Aku terhenyak, wah, indoktrinasi banget…
Nggak enak dengar obrolan yang sepertinya semakin “menyudutkan” perempuan itu, aku keluar ruangan. Kalau aku memaksa berdebat dengan mereka, aku pasti kalah. Selain karena satu kepala lawan banyak kepala, juga karena dalam hal pemahaman agama mereka semua lebih pinter. Jadi seandainya aku mendebat dengan ayat tertentu, mereka pasti berusaha mencari dalil-dalil lain yang sudah mereka hafal di luar kepala.
Dari dulu, aku nggak setuju sama yang namanya poligami, meskipun Islam membolehkan. Aku nggak akan mengijinkan suamiku melakukan itu. Entahlah. Mungkin karena selama ini yang kulihat poligami selalu membuat istri pertama menderita, istri kedua seperti bersenang-senang di atas penderitaan istri pertama, lalu si suami akan cenderung ke istri keduanya. Mungkin juga karena dari banyak kasus poligami yang ada, si istri kedua atau yang kesekian pasti lebih muda dan lebih cantik. Seribu satu yang istri keduanya janda atau lebih tua dari istri pertama. Lalu, tentang alasan para suami menikah lagi juga nggak ada yang benar-benar syar’i. Bahkan yang paling konyol, aku pernah mendengar alasan seorang suami punya istri empat (dan berencana tambah istri lagi) karena ingin kaya, ingin hartanya tambah berlimpah (istilah Jawanya sebagai pesugihan). Astagfirullah.., sebegitu hinakah-nya para perempuan, sehingga kesetiannya dijadikan tumbal kekayaan?
Kalau ada yang bilang, menikah lagi untuk menghindari dosa, fitnah, menguatkan dan menyelamatkan akidah, kenapa harus yang lebih muda dan cantik? Islam memang membolehkan poligami, tapi itu ada syaratnya, yaitu harus BISA ADIL. Aku paling benci kalau ada laki-laki yang ingin menikah lagi, lalu dengan sombongnya dia mengaku bisa berbuat adil (iya, adil buat dirinya sendiri, tapi nggak adil buat para istrinya). Sama diri sendiri saja kadang kita nggak bisa adil, apalagi sama orang lain? Dan kalau nggak bisa adil, justru dosa yang didapat, bukan menghindari dosa lagi. Bagiku, yang bisa adil memperlakukan para istrinya cuma Rasulullah. Selama ini belum pernah kutemui pribadi yang adil seperti beliau.
Mengutip pendapat penulis novel Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El-Syirazi, poligami itu rukhsah saja. Seperti sholat boleh duduk bagi orang sakit. Seperti sholat jama dan qashar bagi orang yang bepergian jauh. Asal syariatnya ya monogami. Artinya kalau dalam kondisi normal yang utama tetap monogami. Jika poligami mendatangkan mudharat, bukan manfaat, hukumnya bisa makruh, bahkan haram. Jadi tidak sembarangan. Namanya juga rukshah. Berbuat adillah, ia lebih dekat dengan taqwa, kata Allah dalam Al Quran. Dan monogami itu lebih adil, jadi lebih dekat pada taqwa.
Aku setuju dengan pendapat itu. Poligami memang tidak salah. Boleh, tapi dilakukan dengan syarat tertentu, karena suatu hal yang terjadi di luar yang biasa (normal). Poligami adalah rukshah, keringanan dari Allah.
Yah.. membahas poligami memang tak pernah ada habisnya. Selalu ada pro kontra yang muncul. Seperti siang itu, obrolan para bapak guru tentang poligami semakin seru…
tahun ajaran baru kemarin depdiknas gembar-gembor tentang buku gratis dalam bentuk e-book yang bisa di download di situs resminya. baru kemarin sempat ngintip n nyoba download buku sekolah elektronik (bse) bhs. indonesia kelas 7+8 buat ngajar di sekolah. ternyata prosesnya ribet abis. pertama harus daftar jd anggota, login, trus gak bisa download satu buku langsung, harus per bab. udah gitu kover bukunya juga pisah. download 1 bab aja lamaaaaanya minta ampun. dasar q orangnya gak sabaran, gondok deh…
pak bambang, tolong dong jgn dipersulit. kalo downloadnya ribet plus lama, sama aja bukan buku gratis dong pak, download 1 bab aja hampir sejam. 1×12 bab berapa jam tuh pak? padahal loading si lappy gak lambat-lambat amat. hitung deh pak, beli pulsa buat ngenetnya berapa?
lha, buat yang gak bisa akses internet karena tinggal di daerah terpencil yg gak ada jaringan internet nya gmn? dibagi-bagiin langsung aja pak ke sekolah-sekolah dalam bentuk buku teks… gmn???
Beberapa bulan terakhir ini, ada sebuah pemandangan baru di dekat mesin atm mandiri dekat kontrakan yang sangat menarik perhatianku. Disitu tiap hari berdiri seorang perempuan berjilbab. Sambil menenteng sebuah tas yang berisi segepok amplop, ia berdiri seharian di tempat itu. Sebenarnya nggak cuma seorang sih. Beberapa temannya secara bergantian juga ‘mejeng’ dekat atm itu. Yang sering tuh, mbak-mbak yang agak hitam manis dan yang sering pake celana ketat. Ya, penampilan mereka cukup rapi dan modis.
Mereka bukan penjaga mesin atm, bukan pula petugas keamanan. Salah seorang dari ‘kawanan’ itu pernah ngobrol denganku. Dia mengaku utusan dari sebuah yayasan yatim piatu yang berkantor pusat di Balikpapan. Perempuan itu rela berdiri sambil berpanas-panas atau kehujanan karena satu tujuan: meminta sumbangan sekedarnya dari orang-orang yang baru keluar dari atm itu. Begitu ada orang yang turun dari kendaraan hendak masuk atm, ia mencegatnya sambil memberikan selembar amplop berlogo yayasan X tersebut. Dana yang terkumpul dari amplop-amplop sumbangan itu nantinya akan diberikan untuk anak-anak yatim piatu di bawah naungan yayasan X. Kreatif juga. Lebih kreatif lagi kalo yang ‘ditodongkan’ ke para pengunjung atm bukan amplop sumbangan, tapi hasil kerajinan tangan buatan anak-anak yatim piatu yang dijual dengan harga tertentu.
Tentang yayasan X, entah benar atau fiktif, yang jelas keberadaan perempuan itu sangat membuatku merasa kurang nyaman jika hendak mengambil uang di atm itu. Bukannya suudzon, tapi siapa yang tahu jika perempuan itu hendak berbuat jahat dengan cara merekam nomor pin nasabah pakai kamera tersembunyi atau lainnya? Modus kejahatan saat ini macam-macam dan semakin canggih. Aku yakin, tiap orang yang melihatnya pasti risih, mempunyai kecurigaan sendiri-sendiri, jangan-jangan dia begini-begitu…dll.
Miris juga sebenarnya, karena dia memakai atribut muslimah tapi ‘minta-minta’. Kesannya kok, gimanaaaaa gitu. Ya… positip thinking aja kali. Mudah-mudahan uang itu benar-benar disalurkan ke yang berhak….
Tiga bulan pertama menikah
Sehari setelah menikah, lelaki itu memboyong istrinya ke Jakarta. Pegawai negeri sipil seperti dia tidak bisa berlama-lama mengambil cuti. Di Jakarta, mereka tinggal di sepetak kamar berukuran tak lebih dari 3×4 meter, sebuah kamar kos-kosan di daerah stasiun Juanda-Gambir yang memang disewakan untuk para pekerja yang berkantor di sekitar kawasan itu.
Begitu turun dari kereta Gajayana, belum sempat merasakan indahnya bulan madu, lelaki itu pun langsung ngantor. Barulah ketika weekend tiba, ia bisa mengajak istrinya keliling kota, jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta, melihat keramaian di Pasar Baru, berkunjung ke Istiqlal, Monas, dan tempat-tempat lain yang belum pernah dikunjungi sang istri. Maklum, itulah pertama kali istrinya menginjakkan kaki di ibu kota.
Seminggu menikmati kebersamaan, sang istri harus meninggalkannya sendiri lagi di rimba Jakarta, untuk menyelesaikan studinya di sebuah universitas negeri di Malang. Skripsi sang istri yang baru berjalan 25% harus segera dirampungkan agar tak menjadi beban berkepanjangan. Demi tanggung jawab sang istri kepada kedua orangtuanya, lelaki itu rela sering hidup terpisah dengan pujaan hatinya itu. Selama beberapa waktu sang istri terpaksa harus bolak balik Jakarta-Malang. Lelaki itu mendukung penuh sang istri untuk segera merampungkan kuliah yang selama empat tahun ini ditempuhnya dengan penuh perjuangan. Kesepian demi kesepian menemaninya setiap malam tatkala sang istri tak berada di sisinya. Ketika istrinya mulai menyerah dengan keadaan, merasa pesimis lulus dalam waktu dekat, ia pun tak henti menyemangati. Ia tak ingin melihat istrinya gagal. Kata-kata seperti Konsen ke skripsi, jangan pikirkan aku; make me proud of you; u’re the best thing for me, love you, yang sering ia sms-kan ke sang istri, menjadi energi baru yang mampu membangkitkan kembali semangat wanita itu.
Lelaki itu rela mengalami masa-masa yang kurang menyenangkan ini sementara waktu. Toh, nanti kalau istrinya berhasil lulus empat tahun seperti yang ia harapkan, ia juga ikut lega. Saat itu mereka dituntut harus berkorban, demi masa depan yang lebih membahagiakan.
Perjuangan dan pengorbanan pasangan suami istri itu pun membuahkan hasil yang manis. Tiga bulan kemudian, sang istri lulus. Meski saat acara seremonial wisuda lelaki itu berhalangan hadir (karena pekerjaan), binar-binar kebanggaan di wajahnya tak dapat ia sembunyikan.
Ia bersyukur, doa-doanya selama ini dikabulkan olehNya. Setelah semua urusan di Malang selesai, istrinya kembali menyusulnya ke Jakarta. Mereka seatap lagi. Proses adaptasi sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya pun baru terjadi. Mereka mulai saling mengenal pribadi masing-masing lebih jauh, berusaha menyelaraskan perbedaan-perbedaan yang ada, belajar memahami satu sama lain, serta saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangan.
Semua terasa indah, apalagi saat Ramadan tiba. Inilah Ramadan pertama yang mereka lalui bersama. Saat-saat paling seru adalah ketika berburu makanan untuk berbuka dan sahur. Karena di kamar kos tak ada dapur, otomatis mereka harus hunting makanan di jalan setiap hari. Selain itu, tarawih setiap malam di masjid Istiqlal juga menjadi momen istimewa buat mereka berdua, karena sama-sama pengalaman pertama.
Idul Fitri tiba, mereka pun mudik ke kampong halaman. Lelaki itu hanya bisa sepuluh hari saja berada di tengah-tengah keluarga besarnya. Sedangkan sang istri memilih tinggal beberapa hari lagi.
“Sayang, aku telat datang bulan nih. Jangan2, dah isi…,” tulis sang istri d isms untuknya suatu pagi.
“Coba di tespek ya, mudah-mudahan isi,” balas lelaki itu. Ia memang sangat mengharapkan bisa dikaruniai momongan secepatnya.
“Positif..,” sms sang istri keesokan harinya.
“Alhamdulillah, akhirnya aku akan jadi ayah. Kita akan jadi orangtua, sayang! Tolong jaga diri baik-baik ya, makan bergizi, minum vitamin, istirahat cukup, jangan terlalu capek. Kita sudah dipercaya olehNya untuk memegang amanah ini. Jangan sia-siakan ya…,” balasnya bahagia.
“Tapi kan belum tentu hasil itu valid,” sms sang istri lagi.
“Ke dokter aja biar jelas. Jangan mikir biaya. Semahal apa pun, lakukan demi calon anak kita,” balas lelaki itu.
Setelah USG, dokter memastikan bahwa di rahim istrinya telah terlihat tanda-tanda kehamilan. Sang istri tampak tak terlalu bahagia dengan berita itu, karena merasa belum siap hamil. Lelaki itu pun meyakinkan sang istri, bahwa apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik dariNya untuk kehidupan rumah tangga mereka. Demi kesehatan janin, lelaki itu melarang istrinya kembali ke Jakarta. Perjalanan dengan kereta selama 9—10 jam cukup rentan menyebabkan keguguran. Ia juga tak tega membiarkan istrinya dalam keadaan hamil tinggal di kamar sempit, pengap, dan panas seperti di kos-kosan. Sementara waktu sang istri menetap di kampung halaman, sampai datang kejelasan ia akan ditugaskan dimana, karena dalam waktu dekat ada penempatan kerja.
Begitulah, tiga bulan menikah, lelaki itu merasa mendapat dua karunia yang sangat indah: istrinya lulus S1 empat tahun, dan tak lama kemudian positif hamil.
Tiga bulan pertama hamil
Wanita itu mulai mual-mual, bahkan muntah. Makan apa pun rasanya tak enak, inginnya tidur sepanjang hari. Badan tak bisa diajak kompromi, lemas dan mudah capek. Wanita itu sedih, karena ‘penderitaan’ itu dialaminya sendirian tanpa dampingan suami. Mengetahui hal ini, sang suami jadi merasa bersalah. Lelaki itu ingin sekali pulang kampung, berada di samping sang istri, selalu ada jika istrinya membutuhkan kehadirannya. Apa daya, pekerjaan mengikatnya. Lelaki itu sering menangis dalam hening, sesak memikirkan kondisi istrinya yang kian memburuk.
“Jangan terlalu stres, Bunda, biar calon anak kita tumbuh sempurna fisik dan mentalnya. Teruslah usaha untuk tetap sehat. Ayah cinta Bunda. Bunda harus kuat, harus tegar. Ayah kenal Bunda sebagai sosok yang nggak mudah nyerah pada cobaan.
Ayah selalu berdoa buat Bunda. Maafin Ayah yang belum bisa ada kalo Bunda butuh sewaktu-waktu. Sabar ya, Bunda. Kita pasti bisa kumpul secepatnya.
Ayah sayang Bunda. Terlalu kecil perhatian Ayah dibandingkan pengorbanan Bunda.” Hanya sms-sms seperti inilah yang bisa ia kirimkan untuk menghibur dan meneguhkan hati sang istri.
Di saat suami-suami lain mungkin bisa mendampingi istrinya selama hamil, mencarikan makanan atau apa pun yang diinginkan istri ketika ngidam di awal-awal kehamilan, menyediakan buku-buku tentang kemilan dan persiapan-persiapan persalinan, dll., ia justru tak bisa. Hatinya pedih membayangkan ketakberdayaannya.
Di sisi lain, lelaki itu dilanda kecemasan menanti kabar dimana kelak ia dipindahtugaskan oleh pemerintah. Beberapa bulan menunggu, kabar mengejutkan itu tiba: ia ditempatkan di Ende-Flores, NTT! Lelaki itu tak menyangka ia akan ditugaskan jauh ke kota kecil di Indonesia timur itu.
Masalah baru muncul, mungkinkah ia membawa serta istrinya terbang ke Ende, sementara sang istri sedang hamil muda? Pertanyaan ini membuatnya tak bisa tenang selama berhari-hari. Setelah perdebatan panjang dengan keluarga, mempertimbangkan baik buruknya, sang istri pun setuju ikut ke Ende. Alhamdulillah, semua kekhawatiran yang sempat menghantui pikiran mereka masing-masing tak terjadi. Mereka berkumpul kembali sejak Februari 2007, merajut hari-hari sebagai keluarga baru yang mandiri.
Tiga bulan pertama setelah kelahiran si kecil
Malam itu, lelaki itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana proses kelahiran sang buah hati. Pikirannya diliputi ketegangan melampaui detik-detik ketika sang istri mempertaruhkan nyawa, berjuang dengan darah, demi menghadirkan sesosok jiwa ke dunia. Ia takjub, hingga tanpa sadar airmatanya menitik satu-satu tatkala proses itu berakhir. Sebuah peristiwa yang tak pernah terlintas di kepalanya.
Jauh-jauh hari, lelaki itu menyatakan tak bersedia menemani sang istri melahirkan, karena ia merasa takut dan tak siap. Mendekati hari-H, akhirnya ia memberanikan diri menyaksikan peristiwa itu, demi membantu kelancaran proses melahirkan. Ia sadar, keberadaannya nanti juga bisa mendatangkan spirit dan kekuatan ekstra bagi sang istri.
Begitu putrinya lahir, lelaki itu tak canggung membersihkan ari-ari si kecil yang mungkin tampak sangat menjijikkan, lalu menguburkannya di halaman rumah. Malam-malam setelah kehadiran si kecil, ia rela begadang menemani sang istri menyusui. Ketika si kecil terjaga di tengah malam karena popoknya basah—sementara sang istri tertidur karena kelelahan—ia pun sigap menggantinya dengan yang bersih. Hampir seluruh pekerjaan rumah dihandelnya. Ia sama sekali tak mengijinkan istrinya melakukan apapun sampai stamina sang istri benar-benar pulih.
Usia tujuh hari—setelah si kecil diakikahkan, rambutnya dicukur habis, serta diberi nama—lelaki itu turut membantu memandikan si kecil. Sementara sang istri memegang tubuh mungil si kecil, ia yang membasuhkan air ke seluruh tubuhnya. Ia sering membantu sang istri melakukan ritual sebelum memandikan si kecil di pagi hari, yaitu menjemur si kecil di loteng. Sinar matahari pagi sebelum jam delapan baik untuk kesehatan bayi.
Tiga bulan saja lelaki itu mengalami ‘kerepotan-kerepotan’ sebagai orangtua baru bersama sang istri, karena sewaktu usia si kecil menginjak empat bulan, kembali ia terpisah dengan keluarga kecilnya. Setelah mudik lebaran (waktu itu si kecil genap tiga bulan), lelaki itu akan dipindahtugaskan kembali ke kota lain. Daripada menyengsarakan si kecil karena harus bolak-balik naik pesawat, ia sepakat dengan sang istri untuk berkumpul kembali setelah SK penempatan kerja yang baru diumumkan. Kesabaran keluarga kecil itu kembali diuji. Awal 2008, SK itu diumumkan. Lelaki itu ditempatkan di Samarinda. Akhirnya sejak Februari 2008, ia bisa berkumpul kembali dengan istri dan buah hatinya.
Untuk suamiku yts ytc, yang super baik dan penuh pengertian, makasih atas hari-hari cinta yang kau persembahkan selama dua tahun ini. Met ultah pernikahan yang ke-2, mudah-mudahan Allah menjaga keutuhan keluarga kita, melindungi kita semua di bawah naungan ridhoNya, menyatukan kita selamanya di dunia, dan kelak mempertemukan kita kembali di kehidupan selanjutnya. Amiiiin….
Masih di bulan Juni, kado luar biasa kembali kuterima dariNya. Kali ini berhubungan dengan si kecil Raya. Minggu 15 Juni lalu, Raya demam. Kukira cuma panas demam biasa, efek samping tumbuh gigi—di gusi bawah ada tanda-tanda akan tumbuh dua gigi—ternyata bukan.
Hari Senin, Raya masih ceria seperti biasa, tetap makan sesuai porsi sehari-hari. Selasa, Raya tampak lesu dan lemas, gak nafsu makan, gak banyak tingkah atau ngoceh seperti biasanya. Aku belum curiga kalau sakit si kecil serius.
Besok paginya, kutanyakan pada beberapa teman dan saudara yang punya anak seusia Raya, bagaimana tanda-tanda anak akan tumbuh gigi. Hari itu Raya semakin drop, nggak bisa bangun dari tempat tidur. Salah seorang dari mereka menyarankan periksa ke dokter. Siangnya kubawa Raya ke dokter terdekat.
Melihat gejala demam Raya, dokter merekomendasikan Raya dibawa ke Laboratorium untuk periksa darah. Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur ke lab klinik rujukan. Begitu hasilnya keluar, trombosit Raya dinyatakan turun. Dokter bilang, itu gejala demam berdarah stadium satu. Saat itu juga kami putuskan membawa Raya ke IGD RSU Samarinda. Setelah beberapa hari disana, baru ketahuan kalau si kecil terkena demam dengue, temannya demam berdarah. Bedanya, kalau DB trombosit dan leukosit sama-sama turun, dengue hanya trombositnya saja yang turun, leukosit naik.
Kami nggak nyangka si kecil bisa terkena penyakit mengerikan seperti itu. Selama ini kami terbiasa hidup bersih. Cuma lingkungan sekitar rumah kontrakan kami memang agak kurang sehat, depan belakang ada got, sirkulasi udara di dalam rumah juga nggak bagus.
Dugaanku, ini dampak dari kebanjiran kemarin, karena rumah sempat terendam semalam. Aku lupa melakukan fogging. Ini cobaan sekaligus pelajaran buat kami. Agaknya kami sekeluarga harus lebih ekstra lagi menjaga kebersihan lingkungan.
Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, juni tahun ini saya akan mendapat kado luar biasa. Siang itu, Kamis 5 Juni lalu, Samarinda diguyur hujan lebat. Suami saya sudah di kantor lagi setelah pulang ke rumah pada jam istirahat. Setelah beberapa menit, kok hujan tambah lebat, batin saya. rumah kontrakan saya bocor di sana-sini. Anak saya mulai rewel. Dengan menggendong si kecil, saya periksa seluruh ruangan. Begitu melongok kamar mandi, astaghfirullah, air selokan masuk. Posisi lantai rumah kontrakan saya memang lebih rendah dari jalan. Di pintu kamar mandi terdapat tembok pembatas setinggi lutut untuk mencegah air masuk ke dapur.
Saya mulai was-was. “Doain hujan cepat reda ya Yah,” sms saya ke suami.
Ternyata guyuran air Dari langit semakin menderas. Saya mulai panik, apalagi air di kamar mandi semakin meninggi. Saya harus menelpon suami agar segera pulang. celakanya, pulsa saya waktu itu habis.
Saya hendak ke konter terdekat waktu itu ketika melihat air mulai merembes melalui pintu di ruang tamu. Saya intip jalan melalui jendela. Ya Allah, di luar sudah banjir! Saya tambah panik, bingung, antara menyelamatkan barang-barang di rumah, beli pulsa, atau menidurkan si kecil yang semakin rewel (karena waktunya tidur siang).
Akhirnya saya nekat buka pintu depan, beli pulsa. Malang, begitu pintu terbuka, BROL! air berlomba-lomba masuk ke dalam rumah. Saya terpana, shock, pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. beberapa anak kos yang ngontrak di sebelah mencoba membantu meletakkan kursi sofa bekas punya tetangga di depan pintu rumah, tapi sia-sia, air kotor + bau itu berhasil menerjangnya. Di tengah kepanikan, Mbak Ila, tetangga sebelah juga, lewat depan rumah. Tanpa sungkan2 lagi, saya minta tolong dia mengisikan pulsa.
Begitu pulsa masuk, saya langsung menelpon suami. Ternyata genangan air merata. Suami saya bercerita bahwa seluruh jalanan protokol Samarinda banjir. Untungnya suami saya bisa sampai rumah dengan selamat. Kebetulan jarak kantor suami dengan rumah bisa ditempuh 5-10menit saja.
Sesampainya suami di rumah, kami segera menyelamatkan apa pun yang bisa diselamatkan. Air di dalam rumah sudah setinggi sekitar 20 cm ketika hujan akhirnya reda. kami tidak mungkin membersihkan rumah hari itu juga, karena sudah sore. Kami sudah sama-sama lelah. Kini rumah kontrakan saya menjelma menjadi waduk. Air tidak bisa surut sendiri seperti di rumah para tetangga,. Kontrakan saya tidak punya saluran pembuangan selain dari kamar mandi. Sedangkan kamar mandi sendiri sudah menyerupai danau.
Menurut para tetangga, banjir kali ini memang parah. Mungkin karena semakin berkurangnya peresapan air tanah akibat banyaknya permukaan tanah yang tertutup aspal atau semen. Selain itu—masih menurut mereka—semakin banyaknya ruko yang berdiri dan sampah yang dibuang sembarangan di got-got, mengakibatkan air buangan susah mengalir dengan lancar.
Menjelang magrib, kami memutuskan menginap di penginapan terdekat. Rumah akan dibersihkan besok pagi.
Keesokan harinya, dibantu dua orang penduduk setempat, kami menguras air di dalam rumah secara manual. Kami tidak terpikir sama sekali untuk mencari mesin penyedot air. Seharian kami bersih-bersih. Itu pun belum bersih betul. Besoknya lagi saya pel rumah memakai disinfektan berbotol-botol. Saya tidak ingin bekas lumpur kecoklatan yang menempel di setiap sudut rumah mendatangkan penyakit nantinya.
Ffiuhh, akhirnya rumah kembali bersih. Saya pandangi setiap sudut. Datangnya musibah memang nggak pernah bisa diduga. Seumur hidup, baru kali ini saya mengalami kebanjiran. Tiba-tiba saya tersadar. Hanya banjir begini saja saya sudah mengeluh nggak karuan, bagaimana dengan orang lain yang terkena tsunami atau banjir banding lain? Ah, saya malu. Seharusnya saya bersyukur, apa yang saya alami nggak separah tsunami dan sejenisnya.
Sekarang, setiap kali hujan deras, meski trauma, saya betah-betahin bertahan di rumah ini sampai habis masa kontraknya, Agustus nanti. Alhamdulillah saya sudah menemukan kontrakan lain. InsyaAllah lebih nyaman dan bebas banjir.